PATRIBERA 2026 menggalang aksi solidaritas melalui pengumpulan minyak jelantah. Setiap mahasiswa baru diwajibkan mengumpulkan 1,5 liter minyak jelantah yang hasil penjualannya akan dimanfaatkan untuk membantu pembayaran UKT mahasiswa UPNVJ yang membutuhkan.
Aspirasionline.com – Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta (UPNVJ) atau Patriot Bela Negara (PATRIBERA) 2026 menghadirkan Gerakan Patriot Muda Peduli Sesama yang diwujudkan melalui penugasan pengumpulan minyak jelantah bagi mahasiswa baru.
Berdasarkan guidebook (buku panduan) PATRIBERA 2026, setiap mahasiswa baru diwajibkan mengumpulkan 1,5 liter minyak jelantah untuk kemudian diserahkan di Kampus Pondok Labu sesuai jadwal yang telah ditentukan.
Project Officer (PO) PATRIBERA 2026, Nazriel Efriza, menjelaskan bahwa program tersebut diadakan sebagai bentuk penerapan salah satu prinsip PATRIBERA 2026, yakni Social Impact (dampak sosial). Melalui program tersebut, mahasiswa baru diharapkan mulai mengenal aksi sosial sejak awal memasuki kehidupan perkuliahan.
“Jadi, sebelum jadi mahasiswa, ini kita (panitia) memang merancang dia (mahasiswa baru) bisa belajar untuk berdampak terhadap masyarakat, terhadap mahasiswa. Salah satunya, kita kasih tugas untuk membentuk campaign (gerakan), yaitu penggalangan aksi solidaritas,” jelas Nazriel kepada ASPIRASI pada Kamis, (30/7).
Menurut Nazriel, minyak jelantah dipilih bukan hanya karena berkaitan dengan persoalan lingkungan, tetapi juga memiliki nilai ekonomi. Pasalnya, minyak yang terkumpul akan dijual kepada pihak pengelola. Hasil penjualan tersebut kemudian dimanfaatkan untuk membantu pembayaran Uang Kuliah Tunggal (UKT) mahasiswa UPNVJ yang membutuhkan.
“Nah, nilai rupiah itu di Kampanye PATRIBERA ini dimanfaatkan untuk menggalang dana untuk kebutuhan pembayaran UKT bagi Kema (Keluarga mahasiswa) UPN ‘Veteran’ Jakarta yang memang membutuhkan,” ungkap Nazriel.
Mekanisme Pengumpulan dan Pengelolaan Minyak Jelantah
Pengumpulan minyak jelantah berlangsung pada Senin, (27/7) hingga Rabu, (5/8) di Lapangan Basket UPNVJ, Kampus Pondok Labu. Proses pengumpulan dibagi sekitar 20 kelompok setiap harinya untuk menghindari penumpukan mahasiswa baru di lokasi.
Minyak yang telah dikumpulkan kemudian dijual kepada Makmur Minyak Jelantah selaku pihak yang bekerja sama dengan PATRIBERA 2026 dalam pembelian dan pengelolaan minyak tersebut. Minyak jelantah tersebut memiliki nilai jual sekitar Rp155.000,00 per jerigen berkapasitas 18 liter.
“Kalau dari vendor itu di angka Rp155.000,00 sekian. Satu dirigen, 18 liter,” tutur Nazriel.
Nazriel mengatakan hasil penjualan minyak akan diterima secara bertahap mengikuti proses pengangkutan. Pengelolaan dana tersebut dikoordinasikan bersama Panitia Pengawas (Panwas) MPM Komisi I, Bidang Lingkungan Masyarakat (Lingmas) serta Departemen Advokasi dan Kesejahteraan Mahasiswa (Adkesma) BEM UPNVJ.
Sebagai bentuk transparansi, Nazriel berencana menyampaikan hasil pengelolaan tersebut kepada mahasiswa baru melalui media sosial PATRIBERA 2026 dan Adkesma. Laporan tersebut nantinya akan dibuat dalam bentuk dokumen yang memuat penggunaan hasil penjualan minyak jelantah.
“Nanti kita akan bikin ibaratnya kayak semacam PDF-nya gitu, bentuk transparansi seperti apa. Baru nanti dikirimkan juga ke sosial media sebagai bentuk transparansi,” papar Nazriel.
Gerakan Minyak Jelantah Dorong Kepedulian Mahasiswa Baru
Pelaksanaan penugasan tersebut mendapat respons positif dari mahasiswa baru. Amanda Putri Pratama Yusdian, mahasiswa baru Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), menilai pengumpulan minyak jelantah dapat menjadi bentuk kepedulian terhadap sesama sekaligus mendorong mahasiswa baru untuk berinteraksi dengan lingkungan sekitar.
Amanda mengaku tidak mengalami banyak kendala selama mengumpulkan minyak jelantah. Ia justru mendapatkan pengalaman baru karena harus berkomunikasi dengan warga di sekitar tempat tinggalnya untuk memenuhi target pengumpulan.
“Karena ini buat keberkahan masing-masing. Mungkin bisa bermanfaat bagi yang lainnya. Jadi, ya, sudah, aku ikhlas ngerjainnya dan senang karena seru saja, gitu, ketemu tetangga-tetangga buat minta minyak,” terang Ama kepada ASPIRASI pada Senin, (27/7).
Hal serupa disampaikan Ferdian Farrel Athaillah, mahasiswa baru FISIP. Ia menilai penugasan tersebut tidak menjadi beban karena minyak jelantah yang sebelumnya berpotensi menjadi limbah dapat dikumpulkan dan dimanfaatkan kembali untuk membantu mahasiswa lain.
“Jujur, kalau dari aku sendiri, sih, tugas ini juga enggak begitu masalah, ya, karena minyak jelantah ternyata banyak dibuang sama orang-orang. Terus, dengan adanya tugas ini, kita bisa mengumpulkan, kita sisihkan, lalu kita kasih ke pihak UPN yang bakal disalurkan lagi ke yang lebih bermanfaat,” jelas Farrel kepada ASPIRASI pada Kamis, (30/7).
Meski menilai penugasan tersebut memberikan manfaat, Farrel mengaku mendapat kendala dalam memenuhi target pengumpulan minyak jelantah. Menurutnya, jumlah 1,5 liter masih cukup sulit dipenuhi oleh sebagian mahasiswa baru.
“Enggak usah terlalu banyak 1,5 liter karena kita (mahasiswa baru) ada banyak. Jadi, mungkin bisa 500 mililiter juga itu sudah cukup harusnya,” ungkap Farrel.
Menanggapi usulan terkait pengurangan target pengumpulan minyak jelantah, Vice Project Officer (VPO) PATRIBERA 2026, Allethea Esra Sembiring, menjelaskan bahwa penetapan target 1,5 liter telah melalui sejumlah pertimbangan. Ukuran tersebut dipilih karena dinilai lebih praktis dan memudahkan mahasiswa baru selama proses pengumpulan.
“Wadah mereka (mahasiswa baru) buat bawa minyaknya lebih gampang. Bisa pakai botol minyak atau botol Aqua. Jadi, mereka enggak perlu pakai plastik, enggak perlu ditimbang. Sebenarnya, sesimpel perhitungannya lebih gampang kalau pakai 1,5 liter. Untuk mempermudah mahasiswa baru juga,” jelas Alle kepada ASPIRASI pada Kamis, (30/7).
Reporter: Fathya
Editor: Laila
Foto: ASPIRASI/Fathya
