Mahasiswa UPNVJ Alami Tindakan Represif Aparat Saat Aksi May Day 2026

CategoriesBerita UPNTagged , , , ,

Beberapa massa aksi mendapatkan tindakan represif berupa penggeledahan dan penangkapan saat hendak menuju lokasi aksi. Intimidasi dan tekanan turut dirasakan massa aksi selama proses pemeriksaan berlangsung.

Aspirasionline.comAksi May day 2026 yang mengusung tema “Lawan Kapitalisme, Imperialisme, dan Militerisme; Wujudkan Kerja Layak, Upah Layak, dan Hidup Layak” diselenggarakan di depan Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) pada Jumat, (1/5).  Aksi ini digelar sebagai ruang bagi para buruh untuk menuntut berbagai bentuk kesejahteraan yang sepatutnya menjadi hak mereka. 

Namun, di tengah jalannya aksi, sejumlah massa demonstrasi justru mengaku mengalami tindakan represif dari aparat kepolisian. Beberapa di antaranya mengaku mendapatkan penggeledahan, pemeriksaan telepon genggam, hingga intimidasi saat hendak menuju lokasi aksi.

Salah satu massa aksi yang mengalami hal tersebut adalah Ryan (nama samaran), mahasiswa Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta (UPNVJ). Langkahnya menuju lokasi demonstrasi terhenti ketika sejumlah aparat menghampiri dan mengerumuninya di salah satu titik menuju area aksi.

Ryan menceritakan kepada ASPIRASI bahwa dirinya dikelilingi sekitar lima hingga delapan aparat yang secara langsung melakukan pemeriksaan terhadap dirinya. Sementara itu, terdapat puluhan personel lainnya berjaga di sekitar lokasi.

“Disana itu sekitar mungkin ada 20–30 personel lah. Tapi yang benar-benar aktif mendatangi saya bisa lima sampai tujuh atau delapan orang,” ujar Ryan kepada ASPIRASI  pada Rabu, (6/5).

Menurut Ryan, pemeriksaan yang awalnya hanya berupa pengecekan barang bawaan kemudian berkembang menjadi pemeriksaan isi telepon genggam miliknya. Ia mengaku aparat membuka sejumlah dokumen pribadi yang tersimpan di dalam ponselnya tanpa izin.

“Pada poin pentingnya adalah di mana mereka (aparat) memfoto isi teleponan saya, dari nomor telepon bapak saya, STNK (Surat Tanda Nomor Kendaraan) yang diberikan online oleh bapak saya, dan juga KTP (Kartu Tanda Penduduk) saya sendiri yang ada dikirimkan oleh bapak saya,” ungkapnya.

Intimidasi dan Tekanan Aparat terhadap Massa Aksi May Day 2026

Selama proses pemeriksaan berlangsung, Ryan mengaku merasakan tekanan dan intimidasi dari aparat yang mengerumuninya. Situasi tersebut membuat dirinya merasa takut hingga kesulitan mempertanyakan dasar hukum dari tindakan pemeriksaan yang dilakukan.

“(Saat) itu (dikerumuni) membuat saya sedikit ketakutan lah, yang akhirnya ke depannya saya tidak bisa membela diri untuk mempertanyakan mungkin dari regulasi mereka (aparat) melakukan itu (pengeledahan),” jelasnya. 

Tidak hanya pemeriksaan barang pribadi, Ryan juga mengaku mendapatkan perlakuan verbal yang menurutnya tidak mengenakkan dari aparat. Ia menyebut beberapa aparat menggunakan nada tinggi dan melontarkan ucapan bernada menyudutkan saat proses pemeriksaan berlangsung. 

“Ketika akhirnya bercerita saya akan mendatangi demonstrasi, dia (aparat) sedikit berteriak (sambil berkata), ‘Katanya kamu ingin bermain dengan teman kamu, tahunya kamu demo.’ Ia juga memperlihatkan isi percakapan handphone saya ke aparat lain, yang mana isinya adalah ajakan untuk berdemo seperti itu. Mungkin itu sedikit tekanan dari mereka,” ujarnya.

Selain Ryan, ASPIRASI mewawancarai Rama (nama samaran), yang juga merupakan mahasiswa UPNVJ. Ia mengaku mengalami perlakuan serupa saat berada di sekitar lokasi demonstrasi.

Rama menuturkan bahwa intimidasi sudah dirasakannya sejak masih berada di atas kendaraan menuju lokasi aksi. Menurutnya, aparat mulai memfoto dirinya beserta kendaraan yang digunakan. Ia juga menyebut aparat memperhatikan tulisan “ACAB” pada celana yang dikenakannya dan kemudian mengambil gambar secara dekat.

“Celana aku, ini kan kebetulan ada  tulisan ACAB-nya. Ya itu juga. Aku tidak tahu kenapa dia bisa notice. (Setelah itu aparat) langsung memfoto (sambil) nunduk-nunduk,” jelasnya.

Rama juga mengungkapkan bahwa aparat sempat membuka dan memeriksa isi telepon genggam miliknya, termasuk memeriksa percakapan WhatsApp dan grup yang berkaitan dengan aksi demonstrasi.

Diketahui, aparat secara spesifik mencari percakapan pada tanggal 27 April yang diduga berkaitan dengan agenda konsolidasi massa aksi. 

“Dia mencari chat-an di tanggal 27 April. Mungkin dia mau nyari hasil konsolidasi. Dan juga ketika dia udah scroll di tanggal 27 April. Dia langsung foto chat-an itu,” jelasnya.

Selain pemeriksaan telepon genggam, Rama mengaku merasa tertekan karena sejumlah aparat merekam dan mengambil gambar dirinya selama proses pemeriksaan berlangsung.

Meski sempat ditahan selama kurang lebih dua jam dan mengalami berbagai tindakan represif dari aparat, ia menegaskan bahwa hal tersebut tidak menyurutkan keinginannya untuk tetap mengikuti aksi demonstrasi. 

“Karena mau bentuk represif apa pun. Mau bentuk sewenang-wenang dari aparat. Seharusnya itu tidak ada yang menurunkan api perlawanan kami,” pungkasnya.

 

Reporter : Siti

Editor : Safira

About the author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *