Perjalanan panjang gerakan Aksi Kamisan yang dibentuk oleh para korban dan keluarga korban pelanggaran HAM hingga kini belum juga mendapatkan pengakuan dan pertanggungjawaban. Menjadi tokoh kunci, puluhan tahun Sumarsih lantangkan duka dan ketidakadilan.
Aspirasionline.com – Ingar bingar terdengar dari kerumunan kelompok berbaju hitam yang memadati pinggiran jalan di seberang megahnya Gedung Istana Negara. Suara lantang mereka menelisik di antara gedung-gedung tinggi nan menjulang.
Di dalam jajar barisan, terlihat sosok perempuan lanjut usia berdiri dengan tegak. Namanya Maria Catarina Sumarsih, ia akrab dipanggil Sumarsih.
Meski tubuh renta dan rambutnya yang mengabu menunjukkan usia senja, air mukanya tidak kunjung lusuh meski berjam-jam berdiri di bawah terik matahari dengan naungan payung hitam.
Embusan angin sore itu membangkitkan ingatan kelam 27 tahun silam. Tepatnya ketika Sumarsih kehilangan putra sulungnya, Wawan, salah seorang demonstran dari Universitas Atma Jaya yang tewas tertembak pada Tragedi Semanggi I 1998. Sebuah peristiwa yang menjadi luka terdalam di sepanjang hidupnya.
Dengan lekuk wajah teduh, Sumarsih mengatakan bahwa ketidakberdayaan bukan penghalang untuk merawat ingatan. Kehidupan yang terus mengalir tidak dapat memadamkan rasa cinta dan kasih seorang ibu kepada anaknya.
“Jadi, ketika saya sudah tidak bisa berbuat apa-apa. Siapa pun tidak ada yang rela, orang yang dicintai dibunuh dalam sesaat,” ungkap Sumarsih diwawancarai oleh ASPIRASI pada Kamis, (24/9).
Kesedihan yang dialami Sumarsih tak hanya dirasakan sendiri. Ketidakadilan yang dirasakan korban lain kemudian menyatukan mereka dalam menuntut pertanggungjawaban tatkala Kamis datang.
“Kemudian, yang menjadi korban tidak hanya (anak) saya saja. Korban-korban yang lain banyak. Terus, kami (kerabat korban) bertemu. Kami membuat paguyuban. Kemudian, kami mengadakan kegiatan bersama,” terang Sumarsih.
Ketika Cinta Ibu menjadi Suara Bagi Sesama
Sembilan belas tahun lamanya melakukan aksi protes hingga menjadi wadah menyuarakan isu berbagai perjuangan, semua upaya ini Sumarsih lakukan berawal dari rasa cintanya kepada Wawan.
“Yang menyemangati adalah cinta. Ketika saya cinta kepada Wawan, walaupun saya mestinya ditinggal anak meninggal, kan, dukacita, ya, tetapi dukacita saya bertransformasi pada cinta terhadap sesama,” ungkapnya.
Menurut Sumarsih, ketika cinta yang dirasakan adalah untuk sesama, pergulatan dalam mencari keadilan bukan lagi berpacu kepada masalah penembakan Wawan dan kawan-kawannya. Seluruh perjuangan ini juga untuk menggaungkan permasalahan yang dialami oleh rakyat.
“Ketika saya cinta terhadap sesama, yang kami perjuangkan tidak hanya masalah penembakan Wawan dan kawan-kawannya, tetapi juga semua permasalahan rakyat,” tuturnya.
Untuk memperjuangkan keadilan, Sumarsih tak pernah gentar terhadap pihak mana pun. Baginya, hal terpenting adalah menyuarakan tentang kebenaran
“Saya enggak pernah dibungkam karena yang saya suarakan adalah suara kebenaran. Kebenaran itu bersinar,” katanya.
Sumarsih percaya bahwa estafet perjuangan harus diturunkan. Menurutnya, hadirnya anak muda dalam gerakan Aksi Kamisan membawa harapan terangkatnya situasi Indonesia dari krisis moral.
Seraya tersenyum, Sumarsih yakin bahwa generasi muda mampu menjaga Indonesia dari kehendak jahat penguasa demi mewujudkan kehidupan yang aman, damai, adil, dan makmur.
“Harapan saya, Indonesia menjadi negara yang rakyatnya hidup aman, damai, sejahtera, adil, dan makmur, seperti yang ditulis di dalam puisinya Wawan. Wawan hobinya membaca. Ketika hobinya membaca, Wawan bisa menulis. Ketika bisa menulis, Wawan juga bisa membuat puisi,” pungkasnya mengakhiri wawancara.
Foto : Instagram (@aksikamisansgd)
Reporter : Rayan Lusiaone | Editor : Azaliya Raysa
