Pemangkasan Anggaran Perpusnas Hambat Program Literasi di Daerah

CategoriesNasionalTagged , ,

Pemangkasan anggaran Perpusnas menghentikan sejumlah program literasi, termasuk bantuan 1.000 buku. Penggiat literasi kuatkan kolaborasi masyarakat demi menjaga keberlangsungan budaya membaca.

Aspirasionline.com – Pemangkasan anggaran Perpustakaan Nasional (Perpusnas) yang diberlakukan pemerintah pada Kamis, (16/7), berdampak pada penghentian sejumlah program literasi, termasuk bantuan 1.000 buku. Kondisi tersebut turut dirasakan oleh pengelola Taman Baca Masyarakat (TBM) dan perpustakaan desa.

Pimpinan Perpustakaan Alam Bukit Lestari, Desa Banding Agung, Lampung, Ahmad Suparno, mengungkapkan bahwa buku yang diperoleh dari bantuan pada periode sebelumnya kini telah habis dibaca. Akibatnya, kegiatan literasi yang selama ini rutin dilakukan terancam terhenti.

“Untuk satu semester ke depan artinya saya sudah tidak bisa lagi bergerak. Artinya, meliterasi kepada sekolah-sekolah itu karena bahan buku bacaan yang bermutu itu sudah tidak ada. Sudah mereka (siswa) baca semua,” ungkap Suparno saat diwawancarai oleh ASPIRASI melalui Zoom Meeting pada Kamis, (10/9).

Keterbatasan bahan bacaan juga berdampak pada penurunan jumlah kunjungan masyarakat ke perpustakaan desa. Di sisi lain, pendampingan dari pengawas dan konsultan yang sebelumnya diberikan perpustakaan nasional untuk memantau pengelolaan serta mendorong inovasi juga turut ditiadakan.

Meski demikian, Suparno menilai pengembangan literasi tetap perlu dilakukan karena dampaknya tidak terlihat secara langsung, tetapi pada jangka panjang. 

“Berawal dari meliterasi masyarakat ataupun berawal dari meningkatkan kualitas literasi Indonesia, saya yakin perkembangan, artinya pengetahuan, itu akan lebih signifikan,” tuturnya.

Penggiat Literasi Perkuat Kolaborasi Demi Hadapi Keterbatasan Dukungan 

Pemangkasan anggaran mendorong penggiat literasi mencari alternatif agar kegiatan literasi di masyarakat tetap berjalan. Kondisi tersebut turut mendorong pengelola TBM dan perpustakaan desa untuk membangun kolaborasi dengan berbagai pihak.

Pendiri Teras Baca Mimi, Sri Wahyu Utami, menilai penggiat literasi, khususnya yang berada di daerah, harus aktif mencari peluang kerja sama dalam menjalankan kegiatan literasi, terutama ketika dukungan terhadap kegiatan tersebut terbatas.

“Kita pegiat literasi terutama yang di daerah jangan merasa sendiri. Sebenarnya kita bergandengan tangan, hanya enggak kelihatan. Saya menyarankan agar kita lebih aktif membuka kemitraan. Jadi, jangan mengharapkan bola datang ke kita, tetapi kita datang menjemput bola,” ujar Sri saat diwawancarai oleh ASPIRASI melalui Zoom Meeting pada Jumat, (28/8).

Menurut Sri, semangat untuk menghidupkan kegiatan literasi perlu tetap dijaga meskipun jumlah masyarakat yang berpartisipasi tidak selalu banyak. Baginya, keberadaan TBM maupun perpustakaan desa tetap penting sebagai ruang untuk menumbuhkan budaya membaca.

Lebih lanjut, Sri mengatakan keberadaan koleksi buku saja belum cukup. Pengelola juga perlu menjalankan kegiatan yang dapat menarik masyarakat untuk datang dan memanfaatkan buku yang ada.

“Sebenarnya yang kayak di masjid-masjid itu, kan, mereka ada perpustakan yang ‘hidup segan, mati tak mau’ ya. Ya, memang buku saja tidak cukup. Artinya, memang harus ada (orang) yang mengelola (perpustakaan itu),” tuturnya.

Menurutnya, penggiat literasi juga perlu menghadirkan kegiatan yang mampu menarik minat anak-anak untuk membaca. Kegiatan tersebut dapat dikombinasikan dengan permainan atau aktivitas lain agar membaca menjadi lebih menarik bagi masyarakat.

Untuk memenuhi kebutuhan bahan bacaan, penggiat literasi dapat mencari dukungan dari pihak di luar pemerintah sebagai salah satu alternatif untuk menambah koleksi buku.

“Kita (pegiat literasi) cari pihak ketiga yang mau kerja sama atau menyumbang, gitu. Banyak juga, sih, dari medsos (media sosial) banyak, para bookstagram (komunitas buku di Instagram), atau pemerhati literasi, sering juga ngasih-ngasih buku,” pungkas Sri.

 

Ilustrasi: Akas

Reporter: Hana Cahya | Editor : Rona

About the author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *