Budi Sumarno Perjuangkan Inklusivitas Dunia Perfilman Lewat InFi

CategoriesTokoh

Berangkat dari keresahannya terhadap minimnya ruang inklusif bagi penyandang disabilitas di industri film Indonesia, Budi Sumarno mendirikan InFi untuk membuka kesempatan yang lebih setara dalam dunia perfilman.

Aspirasionline.comFilm layar lebar mungkin terbuka bagi siapa saja untuk menikmatinya. Namun, tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi bagian dari proses di baliknya. Bagi penyandang disabilitas, hambatan terbesar bukan terletak pada kemampuan, melainkan pada ekosistem perfilman yang belum sepenuhnya inklusif.

Realitas itulah yang mendorong Budi Sumarno, pegiat perfilman sekaligus pendiri Inklusi Film Indonesia (InFi), berupaya membuka ruang yang lebih setara bagi penyandang disabilitas di dunia perfilman.

“InFi lahir dari kesadaran bahwa industri film Indonesia masih minim ruang yang benar-benar inklusif bagi penyandang disabilitas, baik sebagai subjek cerita maupun sebagai pelaku industri,” terang Budi saat diwawancarai ASPIRASI pada Kamis, (11/6).

Kesadaran itu muncul dari pengalaman Budi melihat langsung talenta disabilitas yang kerap tidak memperoleh akses yang setara. Tak jarang, mereka juga hanya diposisikan sebagai simbol emosional dalam sebuah cerita, alih-alih diberi ruang untuk berkarya secara utuh.

Membangun Ruang yang Setara di Dunia Perfilman 

Berbekal pengalaman tersebut, Budi merasa bahwa penting untuk membangun ekosistem perfilman yang tidak hanya berbicara tentang inklusi, tetapi juga mempraktikkannya secara nyata dalam proses produksi film.

Komitmen itu akhirnya diwujudkan melalui berbagai kegiatan, mulai dari sosialisasi ke komunitas dan daerah, diskusi publik, pembentukan teater inklusif, hingga workshop (lokakarya) perfilman bagi para pelaku industri. Selain itu, InFi juga berupaya menghadirkan pengalaman menonton yang lebih aksesibel. 

“(InFi) mendorong aksesibilitas bagi penonton melalui kegiatan nobar (nonton bareng) di bioskop dengan dukungan audio description (AD),” terang Budi.

Bagi Budi, perfilman inklusif bukan sekadar menghadirkan penyandang disabilitas dalam sebuah cerita, tetapi juga menciptakan ruang kerja yang setara, aksesibel, dan membuka kesempatan yang adil bagi semua orang. Menurutnya, upaya tersebut harus dibangun dengan pendekatan yang mengedepankan kesetaraan.

“Pendekatan yang dibangun bukan berbasis belas kasihan, tetapi pada prinsip kesetaraan, profesionalitas, dan penghargaan terhadap potensi setiap individu,” tutur Budi.

Prinsip tersebut kemudian diterapkan InFi dalam setiap proses produksi. Menurut Budi, melibatkan penyandang disabilitas dalam perfilman tidak cukup hanya dengan membuka kesempatan, tetapi juga membangun komunikasi yang mampu menjembatani kebutuhan setiap individu tanpa mengurangi profesionalisme mereka di lokasi produksi.

Dalam praktiknya, aktor maupun kru penyandang disabilitas diperlakukan setara sebagai bagian dari tim produksi. Penyesuaian dilakukan pada cara berkomunikasi agar sesuai dengan kebutuhan masing-masing individu, tanpa mengurangi peran dan tanggung jawab mereka sebagai profesional.

“Pendekatan dilakukan dengan bahasa yang sederhana, jelas, dan tidak ambigu, serta memberi waktu yang cukup untuk memahami arahan,” jelasnya.

Di balik penerapan komunikasi yang adaptif, Budi mengakui masih ada sejumlah tantangan dalam proses produksi. Namun, menurutnya, hambatan tersebut bukan berasal dari kemampuan penyandang disabilitas, melainkan dari kesiapan ekosistem produksi. 

“Beberapa tantangan yang sering muncul antara lain kurangnya pemahaman kru terhadap kebutuhan komunikasi khusus, keterbatasan waktu produksi untuk proses adaptasi, serta belum adanya standar kerja inklusif yang baku di banyak rumah produksi,” ujarnya.

Oleh karena itu, InFi mendorong adanya pendamping bagi kru disabilitas bila diperlukan dan menciptakan suasana kerja yang aman secara emosional agar proses kreatif berjalan optimal.

“Ke depan, diharapkan ada standar inklusi dalam produksi film, peningkatan akses pelatihan bagi talenta disabilitas, serta keberanian industri untuk menghadirkan cerita yang lebih jujur, beragam, dan manusiawi tanpa stigma,” pungkas Budi.

 

Reporter:  Rayyan Rachmat | Editor: Erland 

Foto: Ria Satria via Reaksi Media

About the author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *