Mahasiswa UPNVJ menggelar aksi “Hitamkan UPNVJ” untuk mengenang berbagai peristiwa pelanggaran HAM di Indonesia. Selain menyampaikan aspirasi melalui orasi, aksi tahun ini turut menghadirkan seni sebagai bentuk perlawanan terhadap ketidakadilan.
Aspirasionline.com– Keluarga Mahasiswa (Kema) Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta (UPNVJ) menggelar aksi bertajuk “Hitamkan UPNVJ” pada Rabu, (30/9). Aksi tersebut digelar untuk mengenang berbagai peristiwa pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) di Indonesia.
Meski diguyur rintik hujan, aksi berlangsung khidmat dan diwarnai sejumlah pertunjukan seni. Berbeda dari tahun sebelumnya, aksi kali ini menghadirkan penampilan solidaritas dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Teater Hijau Lima Satu (THLS) dan UPN Band Veteran (UBV). Pertunjukan seni tersebut menjadi bentuk alternatif untuk menyampaikan perlawanan terhadap ketidakadilan.
Koordinator Media UPNVJ Bergerak, Caesar Khalifah, mengatakan konsep tersebut dipilih agar perjuangan tidak hanya disampaikan lewat aksi massa, tetapi juga melalui seni sebagai mediumnya.
“Tujuannya (aksi tahun ini) ingin punya konsep baru dan tidak monoton. Tidak terbatas hanya organisasi mahasiswa, tetapi UKM juga. Perjuangan juga tidak hanya melalui aksi, namun bisa dengan seni,” ungkap Caesar kepada ASPIRASI pada Rabu, (30/9).
Demokrasi dan HAM yang Belum Tuntas Jadi Perhatian Kema UPNVJ
Di balik seruan “Hitamkan UPNVJ”, aksi tersebut membawa pesan untuk mengingat kembali berbagai peristiwa pelanggaran HAM yang terjadi di Indonesia. Seruan itu sekaligus menjadi ajakan bagi mahasiswa untuk terlibat dalam aksi dan merawat ingatan terhadap sejarah kelam bangsa. Caesar menegaskan bahwa nama tersebut tidak dimaksudkan untuk membawa pemaknaan lain di luar pesan yang ingin disampaikan melalui aksi tersebut.
“Tidak ada makna yang bagaimana, untuk mengagitasi kawan-kawan sekalian atas peristiwa-peristiwa (kelam) yang terjadi,” ujarnya.
Selain menjadi ruang untuk merawat ingatan terhadap sejarah pelanggaran HAM, aksi tersebut juga digunakan Kema UPNVJ untuk menyampaikan kritik terhadap pelaksanaan demokrasi di Indonesia. Refleksi terhadap berbagai peristiwa pelanggaran HAM dinilai penting untuk melihat kembali persoalan yang hingga kini belum terselesaikan.
Gufron Dymas Wicaksono, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UPNVJ, menyampaikan bahwa aksi tersebut dilatarbelakangi keinginan untuk merawat ingatan tentang sejarah kelam sekaligus merefleksikan soal pelaksanaan demokrasi di Indonesia.
“Berlatar belakang kita (mahasiswa) merawat (ingat) sejarah kelam yang terjadi menunjukkan bahwasannya negara belum mampu melaksanakan hakikat demokrasi yang kita junjung sebagai asas negara kita,” ungkap Gufron kepada ASPIRASI pada Rabu, (30/9).
Menurut Gufron, aksi tersebut tidak didasari secara khusus mengangkat suatu isu tertentu. Pembahasan yang dibawa mencakup pelanggaran HAM secara umum yang terjadi.
“Kita membahas isu yang general, yang menyangkut pelanggaran HAM di negara kita,” tutur Gufron.
Pembahasan mengenai HAM dan demokrasi tersebut kemudian menjadi bagian dari upaya untuk mendorong mahasiswa agar lebih peduli terhadap kondisi sosial-politik di sekitar.
Hal tersebut turut dirasakan oleh Alfi Mubarok, mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Program Studi (Prodi) Ilmu Politik angkatan 2024 yang turut hadir dalam aksi.
Alfi menilai masih terdapat berbagai persoalan yang belum terselesaikan dan perlu mendapat perhatian masyarakat, khususnya mahasiswa.
Menurut Alfi, pemahaman terhadap kondisi sosial-politik diperlukan agar mahasiswa dapat bersikap kritis terhadap berbagai kepentingan yang memengaruhi kehidupan masyarakat.
“Kita (mahasiswa) bisa melihat bahwa banyak hal yang belum selesai dan ditutup (persoalan HAM). Aku ingin mahasiswa lainnya mengerti kondisi sosial-politik hari ini, agar tidak dibodohi lagi oleh pemerintah, mereka dan yang mempunyai kapital lebih, yang akhirnya mempengaruhi sosial-politik per hari ini,” pungkas Alfi saat diwawancarai oleh ASPIRASI pada Rabu, (30/9).
Foto: ASPIRASI/Hilmy
Reporter: Nazriel | Editor: Siti
