Pada ETT 2026, Bidang P3M BEM UPNVJ menjadi salah satu bidang yang mendapat sorotan dari Komisi III MPM. Berbagai catatan disampaikan, mulai dari rendahnya jangkauan Situs Web Siaga hingga evaluasi terhadap proses pendampingan kasus yang ditangani oleh P3M.
Aspirasionline.com – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta (UPNVJ) melaksanakan rapat Evaluasi Tengah Tahun (ETT) bersama Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (MPM) UPNVJ secara daring melalui Zoom Meeting pada Jumat, (24/7), pukul 15.30 Waktu Indonesia Barat (WIB).
Rapat tersebut merupakan kelanjutan dari sidang ETT yang sempat tertunda akibat pemadaman listrik pada Rabu, (22/7), di Auditorium Bhinneka Tunggal Ika (BTI), Kampus Pondok Labu UPNVJ.
Pada sidang sebelumnya, Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Mahasiswa (P3M) telah memaparkan program kerjanya. Selanjutnya, agenda lanjutan diawali dengan penyampaian hasil evaluasi dan penilaian Komisi III MPM terhadap kinerja bidang tersebut.
Berdasarkan hasil angket dan kuesioner yang dipaparkan Komisi III MPM, Program Inspirasi menjadi program kerja P3M yang paling dikenal mahasiswa dengan persentase 38,6 persen. Di sisi lain, Situs Web Siaga hanya memperoleh tingkat pengenalan sebesar 16,1 persen.
Situs Web Siaga merupakan ruang aman dan responsif yang disediakan P3M bagi mahasiswa untuk melaporkan dugaan kekerasan di lingkungan kampus sekaligus memperoleh pendampingan.
Melihat capaian tersebut, tenaga ahli Komisi III, Akhdan Hermawan, menilai Website Siaga perlu terus dikembangkan agar tidak hanya berfungsi sebagai media pengaduan, tetapi juga menjadi sarana edukasi dan pencegahan bagi mahasiswa.
“Akan lebih optimal jika Website (situs web) Siaga ini tidak hanya berfungsi sebagai media pengaduan, tetapi juga sebagai sarana edukasi dan pencegahan,’’ ungkap Akhdan dalam Zoom Meeting pada Jumat, (24/7).
Lebih lanjut, Kepala Komisi III MPM, Fadli Ananda, menilai rendahnya tingkat pengenalan Situs Web Siaga menunjukkan bahwa program tersebut belum menjangkau mahasiswa secara optimal.
“Dariku miris teman-teman melihat bahwasannya Website Siaga yang seharusnya menjadi proker (program kerja) yang memang bisa membumi. Penyebarannya sangat masif di mahasiswa, tetapi mendapatkan persentase segitu (16,1 persen),’’ ujar Fadli dalam paparannya pada Jumat, (24/7).
Selain menyoroti rendahnya tingkat pengenalan Website Siaga, Fadli turut mendorong P3M untuk memperluas sosialisasi program tersebut. Menurutnya, berbagai upaya yang telah dilakukan perlu terus dimaksimalkan agar Situs Web Siaga semakin dikenal dan dimanfaatkan oleh mahasiswa.
Pendampingan Kasus oleh P3M Turut Mencuat
Selain mengevaluasi Situs Web Siaga, Komisi III juga menyoroti proses pendampingan terhadap salah satu kasus kekerasan seksual yang ditangani P3M. Fadli mengungkapkan bahwa pihaknya menerima laporan mengenai ketidakpuasan korban terhadap proses pendampingan tersebut.
“Mendapat laporan bahwasannya dari sisi korban itu masih tidak puas dalam penanganan kalian (P3M). Nah, di sini yang kami tanyakan adalah kalian selama masa advokasi di sana itu sudah menghasilkan apa saja, di sana ngapain saja?’’ tanya Fadli.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Bidang P3M, Aliyati Ulul Ilmiyah, menjelaskan bahwa bidangnya telah melakukan pendampingan kepada korban selama kurang lebih tiga hingga empat bulan hingga terbitnya Surat Keputusan (SK) dan pemberian sanksi terhadap pelaku.
Namun, ia mengakui masih terdapat sejumlah harapan korban yang belum dapat dipenuhi karena keterbatasan kewenangan P3M sebagai organisasi mahasiswa.
“Kami juga selalu mengusahakan keinginan-keinginannya korban itu tercapai, gitu. Seperti yang kita ketahui bahwa P3M pun tidak punya landasan hukum yang cukup kuat seperti Satgas PPKPT (Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi) dan juga kita cuma sebuah badan organisasi,’’ jelas Aliya dalam rapat yang berlangsung pada Jumat, (24/7).
Menanggapi pula evaluasi komisi III terkait fungsi Situs Web Siaga, Aliya menegaskan bahwa platform tersebut tidak hanya dimanfaatkan sebagai media pelaporan. Menurutnya, Situs Web Siaga secara rutin telah digunakan sebagai sarana edukasi.
Aliya menjelaskan P3M secara berkala mengunggah konten edukatif di Situs Web Siaga sebagai upaya meningkatkan pemahaman mahasiswa mengenai isu kekerasan di lingkungan kampus.
“Aku dan teman-teman Website Siaga ini sudah menjalankan Website Siaga bukan sebagai tempat pengaduan saja, tetapi juga sebagai sarana edukasi dan juga konten-konten. Seperti yang teman-teman Komisi III tahu, teman-teman Komisi III, kan, mengawas kita gitu, ya. Kita (P3M) tiap per dua bulan sekalipun selalu upload (unggah) konten di Website Siaga dan di bulan ini pun akan naik lagi konten ketiganya, gitu,’’ tutur Aliya.
Reporter: Laila
Editor: Syafira
Foto: ASPIRASI/Tangkapan layar Zoom Meeting
