Novel Sisi Tergelap Surga memotret bagaimana gelimang cahaya kota Jakarta tidak serta merta memberikan harapan bagi mereka yang datang ke kota ini. Ada begitu banyak cerita tentang harapan-harapan yang tenggelam dan berganti dengan realitas kerasnya hidup di ibu kota.
Judul: Sisi Tergelap Surga
Penulis: Brian Khrisna
Tahun Terbit: 2023
Genre: Fiksi Sosial/Sastra Realis (Sosial Realisme)
Aspirasionline.com – Gemerlap Jakarta kerap dipandang sebagai simbol harapan dan kesuksesan. Akan tetapi, di balik kemegahannya, masih banyak orang yang hidup dalam keterbatasan. Realitas tersebut menjadi fokus utama Brian Khrisna mengangkat kehidupan masyarakat marginal dalam novel Sisi Tergelap Surga.
Berbeda dengan kebanyakan novel yang berpusat pada satu tokoh, Sisi Tergelap Surga menyuguhkan 18 kisah tentang masyarakat yang tinggal di sebuah perkampungan di pinggiran gemerlapnya Kota Jakarta yang jarang terlihat.
Lewat cerita setiap tokoh, Brian memperlihatkan bagaimana keterbatasan dapat mengikis pilihan hidup seseorang. Demi memenuhi kebutuhan, mereka rela mengorbankan harga diri, impian, bahkan melakukan hal-hal yang bertentangan dengan hati nurani, seolah bertahan hidup menjadi satu-satunya pilihan yang tersisa.
“Di kota ini, semua orang berjuang untuk bisa bertahan hidup. Apapun caranya.” (Halaman 54).
Harapan Merantau yang Berujung pada Realitas Pahit
Pilihan ekstrem yang diambil para tokoh bukanlah sesuatu yang muncul begitu saja. Sebelum terjebak dalam kerasnya kehidupan ibu kota, mereka datang ke Jakarta dengan keyakinan bahwa kota ini mampu memberikan kesempatan untuk mengubah nasib. Harapan itulah yang mendorong Juleha dan Tomi meninggalkan kampung halamannya.
“Kita harus sukses, Leha. Harus!”
“Aku sudah capek miskin. Kita buktiin sama orang-orang kalau kita bisa.” (Halaman 49).
Dialog tersebut menggambarkan optimisme yang mengiring langkah awal Juleha dan Tomi menuju Jakarta. Bagi mereka, Jakarta bukan hanya tempat mencari pekerjaan, tetapi juga simbol kesempatan untuk keluar dari keterbatasan hidup yang selama ini membelenggu.
Ironisnya, sebuah pengharapan tak selalu menemukan jalan yang sama dengan kenyataan. Sesampainya di Jakarta, Tomi justru dihadapkan pada realitas kemiskinan struktural. Niat awal mencari pekerjaan menjadi kuli justru terseret ke dalam lingkaran premanisme terminal demi memenuhi kebutuhan dasar hidupnya.
Situasi serupa juga dialami Juleha. Ia mengalami kegagalan dalam mengakses sektor pekerjaan formal akibat keterbatasan latar belakang dan diskriminasi, hingga akhirnya terjebak ke dalam industri hiburan malam.
Melalui perjalanan kedua tokoh tersebut, kondisi ini menunjukkan bahwa kemiskinan bukan semata-mata persoalan individu yang kurang bekerja keras. Akan tetapi, kemiskinan juga lahir dari sistem sosial yang menciptakan ketimpangan akses terhadap pekerjaan, pendidikan, dan perlindungan sosial.
Pembangunan Kota yang Tak Dinikmati Semua Warga
Buku Sisi Tergelap Surga merepresentasikan contoh sempurna dari paradoks kehidupan perkotaan. Di balik pesatnya pembangunan Jakarta, tidak semua warga memiliki kesempatan yang sama untuk menikmati hak-haknya sebagai bagian dari kota.
Salah satu potret tersebut tergambar melalui kisah Pak Sobirin, seorang penjual tahu yang kehilangan anaknya akibat penyakit step (kejang karena gangguan otak). Kondisi ekonomi yang serba terbatas semakin diperparah oleh sulitnya memperoleh bantuan kesehatan yang semestinya dapat meringankan beban keluarganya.
“Justru di tempat yang paling membutuhkan, masih banyak pungutan-pungutan liar yang terus saja dibebankan pada mereka yang makan sehari-hari saja sudah susah.” (Halaman 194).
Dalam cerita, Pak Sobirin tidak pernah terdaftar sebagai penerima Kartu Indonesia Sehat (KIS) karena adanya praktik pungutan liar yang dilakukan Pak Lurah. Akibatnya, bukan hanya keluarga Pak Sobirin yang dirugikan, tetapi juga masyarakat lain di kampung tersebut yang kehilangan hak atas bantuan yang seharusnya mereka terima.
Kisah tersebut mencerminkan belum terpenuhinya konsep right to the city (hak atas kota) yang diperkenalkan Henri Lefebvre dan kemudian dikembangkan oleh David Harvey. Konsep yang menegaskan bahwa setiap warga berhak menikmati hasil pembangunan kota serta memperoleh akses yang adil terhadap berbagai layanan publik tanpa diskriminasi.
Melalui kisah tersebut, Brian memperlihatkan bahwa persoalan akses terhadap layanan publik tidak selalu disebabkan oleh keterbatasan fasilitas atau kebijakan, tetapi juga oleh praktik penyalahgunaan wewenang di tingkat lokal.
Dengan demikian, pembangunan kota tidak hanya menuntut tersedianya berbagai layanan publik, tetapi juga tata kelola yang mampu menjamin setiap warga memperoleh haknya secara adil.
Realitas pada novel ini, pada akhirnya menjadi gambaran nyata bagaimana kelompok marginal dapat mengalami keterasingan di tengah kota yang terus berkembang. Mereka berada dekat dengan pusat kemajuan, tetapi masih menghadapi berbagai hambatan untuk memperoleh kehidupan yang layak.
Pada akhirnya, Sisi Tergelap Surga menjadi refleksi mengurai wajah lain Jakarta yang kerap luput dari perhatian. Di balik gemerlapnya Jakarta, masih terdapat kelompok masyarakat yang berjuang mendapatkan ruang dan haknya sebagai bagian dari kota.
Reporter: Syafira
Editor: Calista
Foto: withly.com
