Memperingati 16HAKTP, UN Women Angkat Kisah Perempuan Tangguh di Sulawesi Tengah

CategoriesNasional

UN Women menggelar Pemutaran Film Dokumenter “Harapan Baru” dalam rangkaian acara UNiTE untuk memperingati 16HAKTP. Film ini menyoroti ketangguhan perempuan di Sulawesi Tengah dan sekitarnya dalam menyerukan pentingnya Ruang Aman bagi Perempuan.

Aspirasionline.com — Dalam rangka memperingati 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (16HAKTP), United Nations Women (UN Women) Indonesia  menggelar kegiatan  UNiTE, yakni pemutaran film dokumenter dan talk show yang mengusung tema Perempuan Tangguh, Kita Tangguh, sebuah Cerita dari Sulawesi Tengah dan Sekitarnya di CGV FX Sudirman, Jakarta Pusat, pada Jumat, (5/12).

Sekitar pukul 09.40 Waktu Indonesia Barat (WIB) terlihat bangku-bangku Cinema 01 CGV mulai terisi oleh para penonton. Tepat pukul 10.00 WIB, sang moderator Syafira Khairani mulai membuka sesi acara. 

Syafira menekankan bahwa berkumpulnya kami di satu ruang ini adalah untuk memperingati 16HAKTP yang dimulai pada tanggal 25 November hingga 10 Desember. 

Sebagai pembuka, Kepala Program UN Women Indonesia, Dwi Yuliawati, menegaskan bahwa 16HAKTP merupakan hari raya yang diharapkan tidak dirayakan, sebuah pengingat bahwa kekerasan perempuan bukan hanya sekedar pelanggaran hak dan perlunya menempatkan perempuan di jantung perdamaian dan keamanan.  

“Kita harus memastikan bahwa perempuan dan anak perempuan mendapatkan perlindungan dan Hak,” ungkap Dwi saat pembukaannya pada Jumat, (5/12)

Harapan Baru menjadi Cerminan Perempuan yang Berani dan Berdaya 

Agenda pertama dimulai dengan pemutaran film dokumenter  berjudul Harapan Baru yang digarap oleh UN Women Indonesia. Memulai pemutaran, semua penonton terlihat fokus dan merasa sangat terkikis oleh bagaimana perjuangan para perempuan Sulawesi Tengah pasca konflik dan bencana.

Film ini memperlihatkan posisi perempuan sebagai pihak yang paling terdampak dalam menghadapi suatu konflik. Melalui berbagai pengalaman hidup para perempuan di Sulawesi Tengah, justru semakin memperjelas urgensi kesetaraan gender dan upaya perdamaian yang berkelanjutan.

Pada tahun 1998, konflik kekerasan mulai menyerang Poso, Sulawesi Tengah. Orang-orang melakukan hal buruk, rumah-rumah dibakar, orang-orang mengungsi, bahkan perempuan dirudapaksa dan dieksploitasi.  

Martince Baleona, seorang penyintas kerusuhan umat beragama tahun 2000 di desa Bukit Bambu, Poso menceritakan kisah yang traumatis dan meninggalkan luka dalam baginya. 

Namun, setelah bergabungnya Martince dengan Institut Mosintuwu, sebuah organisasi masyarakat yang mengupayakan perdamaian dan keadilan pada saat konflik dan pasca konflik di Poso, membuatnya kembali bangkit. 

“Ketika mendapat pengetahuan, pembelajaran dari Institut Mosintuwu ini, saya merasa bahwa yang pertama merubah pola pikir saya yang kemarin sebelum ikut sekolah perempuan, benci kepada muslim,” ujar Martince dalam film dokumenter yang ditayangkan pada Jumat, (5/12). 

Dalam film tersebut, Martince menceritakan awal dibangunnya program Sekolah Perempuan ia masih menaruh kecurigaan antar umat beragama lantaran terdapat tiga komunitas berbasis agama yang berbeda, yakni Islam, Kristen, dan Hindu.

Kendati demikian, seiring dirinya belajar bersama para penyintas dari komunitas di Sekolah Perempuan, kecurigaannya perlahan hilang sekaligus membuatnya menyadari bahwa konflik yang terjadi di Poso sangat berdampak bagi perempuan dan anak-anak.

“Menurut saya (setelah berdiskusi dengan komunitas lain), dampak konflik Poso itu sangat terasa bagi perempuan dan anak, sih, bukan hanya tempat, tapi kebutuhan makanan, obat-obatan,” lanjut Martince dalam film dokumenter yang diputar pada Jumat, (5/12).

Perjuangan para perempuan Sulawesi Tengah tidak hanya berhenti dari konflik yang terjadi, tetapi berlanjut karena gempa bumi dan tsunami besar menghantam masyarakat Sulawesi Tengah yang tengah berjuang pasca pemulihan konflik.

Hal ini dirasakan oleh Fitrah ketika ia dan perempuan lainnya merasakan ketidaknyamanan di tenda pengungsian pasca bencana. Mereka harus berani memperjuangkan bantuan secara layak, karena kebutuhan biologis mereka kurang terpenuhi. Bahkan, minimnya toilet yang memadai meningkatkan risiko terjadinya kasus pengintipan.

“Di situasi krisis pas di pengungsian itu, saya rasa perempuan harus bisa mengambil keputusan agar bisa mendapatkan haknya, harus berani juga biar bisa dapat bantuan secara merata,” ujar Fitrah dalam film dokumenter yang ditayangkan pada Jumat, (5/12).

Berangkat dari keterpurukan itu lah keinginannya untuk menjadi relawan tercetus dengan harapan bahwa dirinya dapat membantu orang lain dan berani berbicara tentang apa yang mereka rasakan saat ini. Maka, dengan kesadaran akan semangat berjuang itu, Fitrah bergabung ke Lingkar Belajar Untuk (LiBu) Perempuan sebagai relawan. 

“Saya memutuskan menjadi relawan itu, karena saya berpikir saya itu bisa membantu orang lain,” ungkap Fitrah dalam film dokumenter yang ditayangkan pada Jumat, (5/12). 

Dalam hal ini, penting untuk memahami bahwa konflik dan bencana adalah satu kesatuan, karena keduanya saling memicu ketidakstabilan dan membutuhkan pemulihan jangka panjang. Para perempuan di Sulawesi Tengah berhasil menunjukkan pentingnya ruang untuk saling bercerita dan saling menguatkan.

Ketangguhan Perempuan jadi Fondasi dari Ruang Ramah yang Aman

Memasuki sesi talk show, Syafira Khairani memperkenalkan para pembicara sekaligus mengulas sedikit film dokumenter Harapan Baru terkait apa yang terjadi di Sulawesi Tengah dan bagaimana kelamnya situasi konflik sosial di Poso untuk menjadi topik utama dalam sesi ini.

Membuka sesi diskusi, topik pertama yang dibahas adalah mengenai faktor-faktor apa saja yang dapat mempercepat upaya pembangunan inklusif saat atau pasca konflik dan bencana. 

Syaiful Taslim, Direktur KARSA Institute menanggapi dengan tegas bahwa penting untuk membuat semua pihak merasa aman dan adil dengan cara mengisolasi wilayah agar tidak terjadi luasan konflik. 

“Jadi menurut saya mengisolir itu penting untuk membuat supaya nyaman bagi semua pihak, rasa adil bagi semua pihak,tutur Syaiful dalam paparannya pada Jumat, (5/12).

Beralih kepada Dinar Lubis, Manager Program Kemanusiaan di Yayasan Kerti Praja (YKP) menyoroti Ruang Ramah Perempuan sebagai salah satu program pemberdayaan di Poso, Sulawesi Tengah yang sempat disinggung oleh relawan dari LiBu Perempuan.

“Ruang Ramah Perempuan itu merupakan satu ruang bagi perempuan, terutama pada penyintas, untuk mereka berkumpul di tempat yang aman, lalu kemudian mereka diberikan kesadaran terkait dengan kerentanan mereka,” jelas Dinar pada Jumat, (5/12).

Dinar juga pernah bekerja sama dengan dua yayasan di Sulawesi Tengah, yakni LiBu Perempuan dan Kelompok Perjuangan Kesetaraan Perempuan Sulawesi Tengah (KPKPST), Dinar menyampaikan bahwa kekuatan Ruang Ramah Perempuan adalah karena relawannya berasal dari masyarakat perempuan yang ada di sana. 

“Kenapa itu (Ruang Ramah Perempuan) bisa sustain (bertahan)? pembelajaran kami adalah karena relawannya itu berasal dari masyarakat yang ada di sana, perempuan yang ada di sana,” ungkap Dinar.

Para perempuan berlatih dan belajar terkait dengan jenis-jenis kekerasan yang mungkin muncul, memastikan bahwa di ruang tersebut ada upaya pemberdayaan bersama. Setelahnya, mereka diberikan kesempatan untuk bersuara di dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan Desa (Musrembangdes) di Sulawesi Tengah.

“Setelah mereka dilatih, tadi di ruang ramah perempuan, mereka juga dikasih kesempatannya. Sebenarnya bukan saya yang kasih kesempatan, tapi mereka juga bersuara, ya, di dalam Musrenbangdes (Musyawarah Perencanaan Pembangunan Desa),” lanjut Dinar.

Di sisi lain, sebagai Kepala Bidang Perlindungan Hak Perempuan, Perlindungan Khusus Anak, dan Pemenuhan Hak Anak DP3A Kabupaten Sigi, Susanti Jarama menekankan bahwa perempuan harus kuat dan berani mengingat dalam pengalaman, pendampingan, dan meditasi suatu kasus.

“Kita perempuan harus betul-betul memiliki kekuatan dan keberanian. Kenapa? karena dengan pengalaman penanganan kasus, pendampingan, bahkan sampai dengan mediasi, itu betul-betul kami harus kuat dan berani untuk menjalin semua relasi dengan teman-teman yang ada,” pungkas Susanti pada Jumat, (5/12).

Pada akhirnya, diskusi ini membawa kilas balik pada film dokumenter Harapan Baru yang menunjukkan bahwa kepemimpinan perempuan itu merupakan pendorong penting bagi perdamaian. Pengalaman menjadi korban membuat perempuan maju paling depan dan memotivasi perubahan untuk menularkan manfaat yang sama bagi perempuan lainnya. 

 

Reporter: Zalfa Ronaa

About the author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *