Amblesnya kebijakan moneter dan bocornya kebijakan fiskal warnai tata kelola perekonomian nasional, mengantarkan gelombang demonstran besar-besaran di Bundaran HI pada Jumat, (12/6).
Aspirasionline.com – Gelombang demonstrasi mahasiswa dari beberapa universitas dan lapisan masyarakat menggelar aksi bertajuk “Menuju Indonesia Bangkrut” sebagai bentuk protes terhadap sejumlah peristiwa dan kebijakan yang menjadi sorotan publik dalam beberapa waktu terakhir di Bundaran HI, Jakarta Pusat pada Jumat, (12/6).
Berdasarkan pantauan ASPIRASI, massa aksi mulai tiba sekitar pukul 14.45 Waktu Indonesia Barat (WIB). Keterlambatan waktu datang lantarannya terhadang oleh blokade aparat dalam perjalanan menuju Bundaran HI di Semanggi.
Salah satu massa aksi, Suci, bersama kelompoknya yang mendeklarasikan dirinya sebagai “Emak-Emak yang Melawan” menuturkan imbas yang dialaminya dari ketidakstabilan ekonomi nasional per hari ini.
“Karena rupiah kita sangat melemah. Bahan Bakar Minyak (BBM) naik itu berpengaruh banget, ya, sangat berpengaruh, ya, buat kita, khususnya ibu-ibu. Ibu-ibu dapur ini sangat susah. Ekonomi makin melonjak harganya, Kak. Ya, Allah, demi Allah, seratus ribu itu kayak sepuluh ribu, Kak. Enggak ada harganya sama sekali,” ungkap Suci kepada ASPIRASI pada Jumat, (12/6).
Massa Aksi Kritisi Tata Kelola Perekonomian yang Buruk
Runtuhnya kebijakan moneter yang menghantam turunnya laju rupiah, ditambah porak porandanya kebijakan fiskal berupa kenaikan harga BBM, menjadi alasan gelombang demonstrasi turun ke jalan.
Jundi Al Muhandis, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UI 2026, merangkum uraian tuntutan massa aksi.
“Isu yang diangkat adalah tata kelola perekonomian. Tata kelola perekonomian yang ini akan sampai pada isu-isu lain sebenarnya. Untuk tahu apa saja isu-isu yang terangkum, kita bisa lihat dari lima tuntutan kita yang saya rasa sudah cukup komprehensif,” ungkap Jundi saat diwawancarai ASPIRASI pada Jumat, (12/6).
Adapun lima tuntutan yang diajukan massa aksi, diantaranya hentikan pemborosan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), menurunkan harga kebutuhan pokok dan BBM, hentikan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan pembangunan Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih, hentikan militerisme di ranah sipil, dan Prabowo dapat berhenti mengelak dan mengakui kesalahannya.
Jundi turut menyoroti program-program besar pemerintah yang belum tepat sasaran, tetapi menyerap APBN.
“Kalau kita bicara soal pemborosan APBN yang menjadi poin pertama kita, maka masalah ini dimulai sejak Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka menjabat. Program-program yang populis, tidak sesuai pada sasarannya, dan eksesif itu sudah terjadi,” terangnya.
Benaya Rizkya, selaku Koordinator UPNVJ Bergerak 2026, turut menyoroti kebijakan fiskal yang ditekan oleh pemerintah. Menurutnya, menaikkan harga BBM bukan langkah strategis panjang yang dapat ditempuh.
“Bicara BBM, sebenarnya ini kan sudah jadi isu yang semua masyarakat pasti rasakan kan, Mbak. Apalagi semua orang punya kendaraan. Ya, mungkin mayoritas punya kendaraan. Meskipun enggak semua punya kendaraan karena harga BBM ini naik pun mereka akan jadi terdampak,” ungkap Benaya pada saat diwawancarai ASPIRASI pada Jumat, (12/6).
Benaya menerangkan efek domino naiknya harga BBM yang justru akan menimbulkan buntut polemik yang berkepanjangan bagi masyarakat.
“Pengisian bahan bakar otomatis mereka harus merogoh kocek lebih besar dan juga akhirnya tadi, dampaknya mungkin kita enggak bisa rasakan sekarang banget. Cuma kita enggak bisa tahu bulan depan, dua bulan ke depan, atau bahkan minggu depan sebenarnya harga apa saja yang bakal naik efek dari BBM,” jelas Benaya.
Aparat Blokade Massa Aksi dari Segala Sisi
Dipilihnya titik aksi di Bundaran HI bukan tanpa rasionalisasi yang matang, hal itu disampaikan oleh Anandaku Dimas Rumi Chattarist, Ketua BEM Fakultas Hukum (FH) UI 2026.
“Objektif terbesar dari aksi kita adalah bagaimana masyarakat bisa berpartisipasi sebesar-besarnya untuk menyampaikan keresahan-keresahan mereka terhadap isu-isu yang sedang dialami saat ini dan melalui ini semua pasti akan mengarah pada perbaikan. Perbaikan bukan hanya perbaikan di permukaan saja, tetapi juga perbaikan sistemik dan juga struktural itu semua,” tutur Anandaku pada saat diwawancarai ASPIRASI pada Jumat, (12/6).
Namun, dengan penempatan Bundaran HI sebagai titik aksi, beberapa konsekuensi telah diterima oleh massa aksi. Kawasan roda perekonomian yang dijaga begitu ketat, menyebabkan titik ini sukar diterobos massa.
Massa aksi dihadang dua kali bahkan di saat demonstran belum mencapai titik tuju. Blokade dari segala sisi ditujukan oleh aparat. Dari terhadangnya massa pada saat perjalanan masih di kendaraan sampai sambutan hangat saat longmarch berupa gempuran aparat mewarnai aksi yang terjadi.
“Sempat ada upaya dari aparat untuk menahan kita di daerah Semanggi, diarahkan untuk hanya berdemonstrasi di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) atau Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), kita tetap pusatkan kekuatan kita untuk berdemonstrasi di Bundaran HI. Dan ya, sampai sekarang kita enggak bisa sampai aksi ke Bundaran HI,” jelas Anandaku.
Gempuran yang tak usai, sontak menyulut emosi warga sipil. Gerombolan ojek online dan warga sekitar berusaha menerobos pagar aparat yang berlapis yang terdiri dari Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) dan Tentara Nasional Indonesia (TNI).
Meski tuntutan aksi tidak dijawab semasa aksi oleh pemangku kebijakan, mahasiswa tetap memberikan komitmen gerakan sampai menuju perubahan yang bersifatnya sistemik.
“Sampai kondisi negara ini baik-baik saja, sampai pemerintah mengakui kesalahannya, bukan bergaya ala koboi yang berusaha menjadi pahlawan di tengah-tengah masalah ini semua, kita akan tetap konsisten aksi,” ujar Anandaku.
Senada dengan hal tersebut, Bernaya bersama kawanan dari UPNVJ juga menyatakan komitmen yang sama terkait langkah lanjutan agar terciptanya perubahan.
“Kalau dari UPNVJ, selalu coba punya nyawa yang sama. Gerakan yang kita coba bangun bukan gerakan yang akhirnya hanya berhenti di satu atau dua hari. Tentu kita balik dari sini, kita bukan akhirnya hanya merayakan kita melaksanakan aksi di sini kita akan coba langsung susun strategi ke depannya seperti apa,” pungkas Bernaya.
Foto: Rasyid Hilmy
Reporter: Sammanda | Editor: Hanifah
