Krisis Hak Dasar ODHA dan Stigma Masyarakat Terhadapnya

Krisis Hak Dasar ODHA dan Stigma Masyarakat Terhadapnya

Kurangnya informasi masyarakat tentang Orang Dengan HIV AIDS (ODHA) menyebabkan terjadinya stigmatisasi dan tidak terpenuhinya hak dasar mereka

Aspirasionline.com — Human Immunodeficiancy Virus (HIV) merupakan virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh dan melemahkan kemampuan tubuh dalam melawan infeksi ataupun penyakit. Sementara Acquired Immuno Deficiency Syndrome (AIDS) adalah kumpulan gejala penyakit akibat penurunan sistem imun tubuh yang disebabkan oleh gejala HIV.

Agus Riyadi, Community System Strengthening (CSS) Coordinator Indonesia AIDS Coalition (IAC) mengatakan bahwa ketidaktahuan masyarakat tentang HIV AIDS membuat masih maraknya stigma terhadap ODHA di kalangan masyarakat.

Menurut Agus, ada dua hal yang dapat dilakukan untuk menangkal adanya stigma dan diskriminasi terhadap ODHA. Pertama, mengetahui informasi tentang HIV AIDS secara benar. Kedua, mendorong mental teman-teman ODHA.

“ODHA juga perlu didorong, bahwa mengetahui status diri sendiri itu bukan akhir segalanya, artinya masih banyak orang yang mendukung. Persoalannya kepedulian mereka itu harus dicolek soalnya mereka harus tahu dulu,” ungkap Agus ketika diwawancarai ASPIRASI pada  Rabu, (4/12/19).

Menurut Agus, adanya diskriminasi dari masyarakat membuat ODHA merasa berbeda di tengah masyarakat. Selain itu juga terjadi penolakan yang menyebabkan terganggunya mental ODHA.

Penolakan dan diskriminasi terhadap ODHA juga terjadi di layanan Pendidikan. Seperti kasus seorang anak Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Jawa Timur  yang mendapatkan beasiswa di sebuah yayasan swasta yang harus berhenti pengobatan ARV-nya karena berada di lingkungan yang tidak terjangkit HIV.

Hal senada juga disampaikan oleh ARV Community Support Officer IAC, Resputin. Ia menjelaskan bahwa praktek diskriminasi juga kerap ditemui di layanan pendidikan dan kesehatan.

“Diskriminasi banyak terjadi dibanyak tempat ya, termasuk di layanan kesehatan gitu. Contohnya kadang-kadang mereka harus pake sarung tangan tiga lapis dan segala macam nya itu, dan mereka yang HIV AIDS kadang kadang agak dipisahkan gitu, itukan bagian dari diskriminasi,” jelas Resputin ketika ditemui ASPIRASI pada Rabu, (4/12/19) di kantor IAC, Tebet, Jakarta Selatan.

Resputin juga menambahkan di lingkungan keluarga sendiri masih terdapat diskriminasi yang semakin melanggengkan praktek stigmatisasi terhadap ODHA.

“Bahkan di lingkungan keluarga masih didapati diskriminasi, misalkan piring dan gelasnya dipisahkan dari orang yang HIV,” ungkap Resputin.

Resputin juga menambahkan bahwa ketakutan dari dalam diri ODHA atau tidak adanya kepercayaan dalam diri ODHA yang membuat ODHA menstigma dirinya sendiri.

“Semisal kalo gua cerita gua ODHA mungkin dia belum ngerti, jadi itu yg membuat orang menstigma dirinya sendiri,” katanya.

IAC sebagai lembaga yang menaungi teman-teman ODHA juga punya cara sendiri untuk mematahkan stigma yang ada di masyarakat.

“Yang pertama kita menguatkan komunitas, jadi bagaimana teman-teman ODHA itu jadi lebih berdaya, program ini bernama Community System Strengthening (CSS),” ujar Agus.

Agus menjelaskan lebih dalam tentang CSS, dimana di dalamnya terdapat pelatihan, berbagi ilmu pengetahuan, termasuk memahami bagaimana hak-hak dasar. Dengan tujuan agar ODHA dapat memperjuangkan hak dasarnya sendiri melalui kelompoknya.

“Kita juga menyisipkan pesan selama menguatkan kelompok komunitas tadi, disaat mereka mampu dan berdaya, mereka juga bisa menciptakan lingkungan yang kondusif, jadi pertama menguatkan komunitas, saat mereka menguat harapan sebetulnya terjadi situasi yang kondusif di daerah,” tambahnya.

Obat Pencegah Infeksi dan Komplikasi AIDS

Agus mengatakan, Antiretroviral (ARV) adalah satu-satunya obat yang digunakan penderita HIV sekarang ini yang bertujuan untuk memperkuat kekebalan tubuh, dan mencegah perkembangan virus di dalam tubuh. Agus mengatakan bahwa obat yang sangat penting ini berisiko mengalami kelangkaan.

“Kita dapat tunjukan bahwa akan terjadi kelangkaan obat di Januari,” ujar Agus.

Kelangkaan obat ini, menurut Agus, dikarenakan terlambatnya distribusi ARV dari pemerintah yang sejak Desember lalu pasokan ARV mulai menipis. Inilah salah satu yang menyebabkan gagalnya target dari United Nations Programme on HIV and AIDS (UNAIDS), yaitu program 90-90-90.

“Target Indonesia itu 90 persen Orang Dengan HIV AIDS (ODHA) dapat berobat, 90 persen ODHA yang sudah berobat patuh terhadap pengobatannya, dan 90 persen dia undetect (virusnya tidak terdeteksi di dalam tubuh, red.),” jelas Agus.

Banyak faktor yang menyebabkan tidak terpenuhinya program 90-90-90 yang telah ditargetkan oleh United Nations. Salah satu penyebabnya, tidak terpenuhinya hak dasar ODHA dan masih adanya stigma di masyarakat.

Sementara itu, menurut dari Kementerian Kesehatan yang dirujuk oleh Agus, dari 57 persen ODHA yang ditemukan pernah terapi ARV, hanya 19 persen yang masih berobat. Sisanya yang mewakili status merah di Indonesia, mereka dapat sakit, meninggal, bahkan menularkan virus ke orang lain.

Tak sekadar faktor eksternal yang menyebabkan gagalnya target 90-90-90, beberapa faktor juga  berasal dari dalam diri ODHA sendiri. Resputin mengatakan rasa bosan selama terapi ARV yang monoton, dan berpindahnya dari obat kimia ke herbal merupakan faktor penghambat dari dalam diri ODHA.

Reporter : Tamara Mg. | Editor : M. Faisal Reza.

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *