Perjuangan Filep Karma Mencari Keadilan di Tanah Papua

Perjuangan Filep Karma Mencari Keadilan di Tanah Papua

Penindasan yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia terhadap masyarakat Papua membuat Filep Karma terus memperjuangkan kemerdekaan untuk Papua.

Aspirasionline.com — Informasi yang gelap dan selalu rumpang masih menjadi salah satu momok bagi masyarakat Papua. Minimnya informasi terkait Papua membuat adanya perbedaan pemahaman permasalahan yang terjadi di Papua antara warga Papua dengan warga non-Papua. Hal itu yang menjadi keresahan Filep Karma, aktivis Operasi Papua Merdeka (OPM). Filep merasa terbatasnya akses masuk bagi para wartawan serta peneliti membuatnya merasa bahwa Papua sedang dijajah oleh Indonesia.

“Jadi memang itulah yang membuat Papua tertutup,” kata Filep kepada ASPIRASI Jumat, (29/11/19).

Perjuangan Filep dalam menggapai kemerdekaan Papua bukan tanpa hambatan. Dia menceritakan pengalamannya pernah tertahan di Bandara Soekarno Hatta lantaran memakai pin bintang kejora di bajunya.  Merasa heran, Filep menanyakan apa alasan petugas menahan dirinya. Petugas bandara beralasan pin yang digunakan di baju Filep akan mengundang perhatian banyak orang.

“Kalaupun semua orang pake pin bendera ini, kami belum tentu bakalan merdeka,” kisah Filep.

Merasa Dijajah Bangsa Sendiri

Filep menceritakan, masyarakat Papua tidak pernah meminta untuk bergabung ke dalam bagian Indonesia. Bila merujuk pada sejarah, kata Filep, Papua mempunyai sejarah yang berbeda dengan wilayah Indonesia lainnya.

Sejarah Papua menurut Filep dimulai ketika saat itu Belanda memandang Papua sebagai daerah iblis. Saat di Papua terdapat fenomena kanibal, yaitu manusia memakan sesama manusia. Kemudian dari pihak gereja ketika itu melihat ada manusia yang harus diselamatkan juga. Sehingga gereja mengirim dua misionaris ke Papua untuk menyelamatkan manusia. Itu lah yang menurut Filep membuka sejarah Papua.

Menurut Filep, gereja lah yang pertama kali membuat Papua berkembang. Lalu disusun oleh pemerintah Belanda dengan membuka pos-pos di sana. Sehingga pos pemerintahan yang dibuka oleh Belanda itu menyesuaikan situasi dan kondisi yang sudah dibangun oleh para misionaris.

“Sehingga di sana tidak ada kekerasan. Jadi kami tidak merasakan penjajahan (Belanda, red) itu,” kata Filep.

Menurut Filep, penindasan terhadap Papua mulai terjadi ketika Soekarno mengumumkan Operasi Tri Komando Rakyat (Trikora). Semenjak tentara Indonesia masuk ke Papua, Filep merasa Indonesia telah merebut kemerdekaan Papua.

Bukan tanpa alasan, Filep mengatakan bahwa penindasan telah dilakukan oleh pemerintah Indonesia terhadap masyarakat Papua. Sikap perlakuan pemerintah Indonesia membuat Filep ingin memperjuangkan kemerdekaan bagi masyarakat Papua.

Filep beranggapan, saat ini Papua sedang dijajah oleh Indonesia. Ia beranggapan masyarakat Papua tidak punya kebebasan untuk menyampaikan aspirasi. Ia mencontohkan tak boleh melakukan aksi damai yang dilakukan masyarakat Papua. Tak hanya dikekang kebebasan ekspresinya, menurutnya  saat ini tanah Papua direbut untuk markas militer, markas polisi, ataupun lahan pengusaha juga bermain memanfaatkan tangan polisi, tangan tentara..

Referendum untuk Papua

Pada tahun 1962, diselenggarakan Perundingan New York untuk membahas masa depan Papua. Namun, Filep menyayangkan tidak adanya orang Papua yang dilibatkan dalam perundingan tersebut.

Padahal perjanjian New York memberikan kesempatan kepada masyarakat Papua untuk melakukan referendum dengan ketentuan One Man One Vote. Filep menjelaskan, ketentuan tersebut diubah secara sepihak oleh pemerintah Indonesia menjadi sistem musyawarah.

“Kenapa negara ini yang mengaku negara demokrasi terbesar di dunia ketiga, tapi kok semuanya kebohongan” ujar Filep.

Berubahnya sistem referendum secara sepihak oleh pemerintah Indonesia membuat Filep geram. Dia pun menyayangkan segala kebohongan pemerintah Indonesia terkait isu yang terjadi di Papua.

Filep selalu mendesak pemerintah Indonesia menggelar referendum untuk masyarakat Papua. Dia pun mengatakan, bila mayoritas masyarakat Papua memilih untuk tetap bergabung dengan Indonesia, maka keinginan merdeka pun sirna dengan sendirinya.

“Berarti kami tidak usah berpikir untuk merdeka lagi,” komentar Filep jika mayoritas masyarakat Papua memilih tetap bergabung dengan Indonesia.

Namun, referendum tak kunjung diberikan pemerintah Indonesia kepada masyarakat Papua. Hal ini membuat Filep terus menyuarakan hak-hak yang seharusnya didapat oleh masyarakat Papua.

Pejuangan Filep Karma

Pada tanggal 2 Juli 1998, Filep memimpin pengibaran bendera bintang kejora di Biak. Dia pun menyampaikan kepada masyarakat Papua bahwa kini perjuangan meraih kemerdekaan dapat dilakukan dengan menyampaikan aspirasi mereka kepada pemerintah Indonesia.

“Sehingga tidak perlu mengumpat-umpat ke hutan, tidak perlu membunuh orang,” kata Filep.

Menurut Filep, perjuangan masyarakat Papua mulai mendapat perhatian dari masyarakat Indonesia lainnya. Filep menganggap hal ini sebagai tumbuhnya kepedulian masyarakat Indonesia terhadap permasalahan di Papua.

“Entah kapan merdeka, tapi mulai terbuka ruang bahwa teman-teman di Indonesia mulai peduli,” ucap laki-laki berusi 60 tahun tersebut.

Perjuangan masyarakat Papua juga mendapat perhatian dari dunia internasional. Filep menjelaskan negara seperti Vanuatu, Papua Nugini, hingga Filipina mulai menunjukan kepeduliannya kepada masyarakat Papua. Menurutnya dengan terbukanya ruang kepedulian terhadap masyarakat Papua bukan tanpa resiko. Filep mengatakan bahwa masuk penjara merupakan resiko dari memperjuangkan kemerdekaan Papua.

“Demi perjuangan kita, masuk penjara itu resiko,” tutup Filep kepada ASPIRASI.

Reporter : Ilham Mg. | Editor : Rafi Shiddique.

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *