TERAS hadirkan pementasan Hompimpa Yuk! sebagai pengingat pentingnya persahabatan. Melalui proses latihan yang berlangsung selama empat bulan, pertunjukkan tersebut sukses memikat penonton lewat akting para pemain dan atmosfer panggung yang kuat.
Aspirasionline.com — Teater Anak Nusantara (TERAS) kembali menggelar pementasan dalam Kampung Nusantara Jilid Tiga yang berlangsung di Gedung Kesenian Miss Tjitjih, Jakarta Pusat, pada Sabtu (27/6) hingga Minggu (28/6). Bertajuk Hompimpa Yuk!, TERAS menghadirkan kisah persahabatan yang dibalut dengan konflik kehilangan dan penyesalan.
Sutradara Kampung Nusantara Jilid Tiga, Indra Wahyudi atau kerap disapa Onga, mengatakan bahwa pementasan Hompimpa Yuk! dikembangkan melalui proses bertukar pikiran yang panjang.
Onga mengungkapkan bahwa tim kreatif berupaya menghadirkan cerita yang dekat dengan kehidupan masyarakat dan memadukan unsur kekeluargaan, horor, hingga persahabatan.
“Jadi, yang kita (tim kreatif) angkat (tema) itu memang isu-isu yang dekat dengan masyarakat Indonesia, kekeluargaan, persahabatan, ada percintaannya juga, ada horornya juga,” ujar Onga kepada ASPIRASI pada Sabtu, (27/6).
Ia juga menambahkan, bahwa pementasan kali ini membawa pesan yang ingin disampaikan mengenai betapa pentingnya menjaga persahabatan yang perlu dipelihara hingga dewasa.
“Yang kita kuatkan untuk pementasan Hompimpa Yuk! sebenarnya adalah persahabatannya. Jadi, jangan mudah untuk putus koneksi segala macam karena, sahabat mungkin akan kita bawa sampai hari tua nanti,” ucapnya.
Cerita Balik Layar Pelakon yang Sukses Membawakan Peran
Di balik pementasan yang berlangsung di atas panggung, para pemain dan tim produksi harus melalui proses latihan selama kurang lebih empat bulan. Dalam prosesnya, tantangan terbesar bukan berasal dari pementasan, melainkan penyesuaian jadwal latihan para pemain yang sebagian besar masih berstatus pelajar.
“Jadi, kita (tim produksi), tuh, udah tentuin (jadwal latihan) hari Sabtu dan Minggu selama empat bulan kurang lebih, tetapi terkadang ada yang izin, ada yang sakit, ada juga yang diajak orang tuanya pergi gitu. Ketika satu sampai dua orang enggak ada, tentunya akan menghambat proses latihan,” beber Onga.
Kondisi tersebut membuat tim pelatih harus menyelaraskan metode latihan agar para pemain tetap dapat mendalami karakter masing-masing.
Salah satu pemain, Aya Sofia Abdullah yang memerankan Nina Kecil, mengatakan bahwa para pemain dibekali latihan olah rasa agar mampu membangun emosi saat tampil di atas panggung.
“Jadi, tuh, dulu kita (pemain) pernah olah rasa, pengenalan karakter, sama belajar gimana cara ngedalemin karakternya,” kata Aya kepada ASPIRASI pada Sabtu, (27/6).
Senada dengan itu, pemeran Marsha Remaja, Reyhana Azzalea Maysun, menyatakan bahwa setiap pemain dituntut memahami latar belakang tokoh yang diperankan.
Baginya, rintangan terberatnya adalah menyampaikan adegan yang sarat emosi agar pesan cerita dapat diterima oleh para penonton.
“Terutama di-scene empat dan scene lima, karena kalau di-scene empat itu adegannya aku marah sama teman-teman aku yang lain. Terus juga di-scene lima itu aku merasa challenging (tertantang) karena, Marsha itu sedih, terus juga, kan, harus ada groginya, terus juga harus ingat-ingat masa-masa dulu,” jelas Reyhana kepada ASPIRASI pada Sabtu, (27/6).
Sementara itu, Bayu Abdi Ryanto, pemeran Mamat menghadapi persoalan berbeda. Selama empat bulan latihan, ia harus mempelajari logat Betawi agar karakter yang dimainkan terasa lebih autentik.
“Jadi, dalam empat bulan itu, saya dilatih belajar bahasa Betawinya kayak gimana, nyablak-nya itu, terus nyolot-nya gimana, cara ngomongnya itu gimana,” ungkap Bayu kepada ASPIRASI pada Sabtu, (27/6).
Pementasan Hompimpa Yuk! Tuai Apresiasi Penonton
Kerja keras para pemain mendapat sambutan positif dari penonton. Salah satu penonton, Jihan, menilai seluruh aktor berhasil menyampaikan pesan persahabatan melalui alur cerita.
“Pas, yang terakhir, sih, yang mereka (pemain) main petak umpet itu, terus setelah itu mereka confessing (mengaku) kayak merasa kesalahan mereka ke satu sama lain gitu,” ucap Jihan kepada ASPIRASI pada Sabtu, (27/6).
kolaborasi antara aktor remaja dan anak-anak pada teater tersebut tak luput dari pujian. Menurut Jiihan, TERAS berhasil membina para anak-anak untuk berperan dan tampil di panggung.
“Jujur bagus, sih, soalnya, kan, yang kayak banyak banget (aktornya). Ada beberapa yang emang si aktornya itu masih kecil, terus mereka (TERAS) bisa nurture (membina) mereka (aktor anak-anak) untuk bisa main dan tampil pede di-stage (panggung) ini,” tutur Jihan.
Sependapat dengan Jihan, Tata, mengapresiasi kualitas persiapan pementasan yang dinilainya matang. Ia menyoroti tatanan panggung hingga tata suara yang berhasil membangun suasana.
“Terus eksekusinya itu dari latarnya, latar panggungnya, kemudian latar suaranya. Saya sampai ngerasa bener-bener kayak di posisi lagi suasana malam yang suara-suara burung gitu, tuh, terasa banget, sih,” terang Tata kepada ASPIRASI pada Sabtu, (27/6).
Ia turut mengungkap bahwa TERAS tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga menjadi ruang bagi anak-anak untuk mengembangkan bakat dan kedisiplinan melalui proses latihan yang konsisten.
“Saya senang sekali, sih, ada wadah seperti ini yang memfasilitasi banyak anak-anak yang kita sedang gali, nih, bakatnya di bidang apa dan bahkan ini kalau saya bilang, sih, sangat bagus, ya, membentuk disiplin, (pementasan) tadi mereka harus latihan konsisten selama empat bulan,” pungkasnya.
Foto: Ghasya
Reporter: Ghasya | Editor : Agung Yanuar
