Kacamata Realitas Penegakan Hukum dalam Film Keadilan (The Verdict)

CategoriesResensiTagged , ,

Judul : Keadilan (The Verdict)

Sutradara : Yusron Fuadi dan Lee Chang-hee

Tahun : 2025

Durasi : 1 jam 40 menit 

Genre : Legal Thriller, Drama, dan Aksi

Film Keadilan (The Verdict) menghadirkan potret ruang persidangan yang tidak hanya memutus perkara, tetapi juga sebagai arena yang mempertanyakan bagaimana kebenaran diungkap dalam sistem peradilan

Aspirasionline.comKeadilan (The Verdict) merupakan film garapan Yusron Fuadi bersama sutradara asal Korea Selata Lee Chang-hee, yang rilis pada tahun 2025. Film bergenre legal-action thriller ini menyajikan dinamika persidangan pidana yang terasa dekat dengan realitas penegakan hukum. 

Cerita berpusat pada Raka Yanuar (Rio Dewanto), seorang petugas keamanan pengadilan yang dikenal idealis. Namun, idealisme itu terus diuji ketika ia menyaksikan bagaimana keadilan dapat dibelokkan oleh kepentingan uang dan kekuasaan. 

Konflik dimulai ketika istri Raka, Nina Ratnasari (Niken Anjani) yang tengah hamil, dibunuh secara tragis oleh Dika (Elang El Gibran), anak seorang konglomerat. Kejadian tersebut menjadi titik balik bagi Raka untuk mencari Keadilan melalui jalur hukum.

Namun, harapan tersebut mulai runtuh ketika ia berhadapan dengan Timo (Reza Rahardian), seorang advokat cerdas namun licik yang membela pelaku untuk memenangkan perkara ini. Timo memanfaatkan celah hukum yang ada dengan segala cara dan koneksi yang dimilikinya.

Ketidakadilan yang terpampang nyata di depan mata, membuat Raka perlahan kehilangan kepercayaan pada sistem peradilan. Dalam kondisi putus asa, Raka mengambil langkah berani dengan menyandera ruang persidangan dan membuktikan kebenaran dengan caranya. 

Keadilan yang Tersandera di Bawah Kepentingan Kekuasaan

Film ini berhasil membangun kedekatan emosional dengan penonton bukan hanya karena konflik hukumnya, tetapi karena situasi yang ditampilkan terasa akrab dengan kehidupan nyata. 

“Kalau bukan karena uang bapak anda, anda ini sudah ada di sel tahanan bersama para penjahat-penjahat, jadi cobalah anda bersyukur,” ujar Timo dalam salah satu dialog. 

Dialog tersebut menggambarkan realitas pahit tentang bagaimana hukum bisa tunduk pada kekuasaan dan uang. Penonton diajak melihat bahwa mereka yang memiliki akses pada kekuasaan dan modal dapat menghindari jerat hukum, sementara kelompok yang lemah justru menjadi pihak yang paling rentan. 

Jika disandingkan dengan realitas penegakan hukum di Indonesia, seperti kasus Novel Baswedan, kasus Penganiayaan oleh Mario Dandy, kasus Ferdy Sambo dan banyak kasus lainnya yang menjadi pengingat bahwa keadilan tidak selalu hadir secara utuh, bahkan bagi mereka yang berada di dalam sistem itu sendiri. 

Karakter Raka dalam film ini berhasil merepresentasikan kekecewaan publik terhadap sistem hukum. Ketika prosedur dianggap tidak mampu menghadirkan keadilan dan kebenaran, muncul dorongan untuk mengambil tindakan diluar hukum.

Namun, film ini tidak serta-merta membenarkan tindakan tersebut.  Sebaliknya ia menunjukan konsekuensi berbahaya dari praktik “main hakim sendiri”.

Akhir film ini menjadi bagian paling ironis sekaligus emosional lantaran Raka dijatuhi hukuman 10 tahun penjara atas kasus penyanderaan, namun tetap menyisakan kegelisahan. Putusan tersebut terasa seperti menghukum bukan hanya pelaku, melainkan juga seseorang yang terdesak oleh sistem yang tidak berpihak. 

Pada akhirnya, Keadilan (The Verdict) mengingatkan bahwa keadilan tidak bisa dilepaskan dari kepercayaan terhadap sistem hukum. Upaya memperjuangkan kebenaran harus tetap berjalan dalam koridor yang sah dengan aparat penegak hukum yang bekerja secara jujur, objektif, dan bertanggung jawab.

 

Foto : Tirto.id

Reporter: Erland Zuhdi Karo Karo

Editor: Santi Mulyady

 

About the author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *