Menilik Dampak yang Disebabkan Sampah Antariksa

CategoriesForum AkademikaTagged , ,

Benda bercahaya yang melintasi langit Lampung dipastikan oleh BRIN hanyalah sampah antariksa. Bersamaan dengan itu, BRIN menilai bahwa sampah antariksa memiliki dua potensi kerugian, yakni kandungan material berbahaya dan ukuran objek yang jatuh. 

Aspirasionline.comWarga Lampung dan sejumlah wilayah di sekitarnya sempat dibuat geger dengan kemunculan benda bercahaya yang melintas di langit pada Sabtu, (4/4). Fenomena yang berlangsung singkat, sekitar pukul 19.56 hingga 20.00 Waktu Indonesia Barat (WIB) itu memicu spekulasi dari meteor hingga dugaan benda tak dikenal. 

Periset Bidang Astronomi dan Astrofisika Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Djamaluddin, mengonfirmasi bahwa berdasarkan pengamatan yang dilakukan, benda yang terlihat pecah dan bergerak beriringan itu merupakan sampah antariksa yang terbakar saat memasuki atmosfer bumi. 

“Itu (benda misterius di langit Lampung dan sekitarnya) diyakini adalah sampah antariksa, karena objek yang menyala tersebut itu pecah dalam jumlah yang cukup banyak dan tampak beriringan melaju melintasi wilayah bagian barat Sumatera dan bagian barat Jawa,” jelas Thomas kepada ASPIRASI melalui Google Meet pada Minggu, (19/4).

Thomas menjelaskan bahwa dilihat dari titik jatuhnya, maka diketahui sampah antariksa ini merupakan pecahan bekas roket peluncuran satelit yang digunakan oleh negara Cina pada Kamis, (23/1/2025).

“Jadi identifikasi dari kesaksian warga tentang titik jatuhnya dan juga dari waktu kejatuhan itu dapat dikonfirmasi bahwa objek tersebut adalah bekas Roket CZ-3B (milik Cina),” tambah Thomas.

Menurutnya, fenomena ini berkaitan dengan apa yang dikenal sebagai efek decay, yaitu penurunan orbit benda-benda antariksa akibat gesekan dengan atmosfer bumi, yang dalam beberapa periode dipengaruhi aktivitas matahari. 

Sampah antariksa tersebut diperkirakan masuk dari arah India pada ketinggian di bawah 150 kilometer, lalu melintas di wilayah Lampung pada ketinggian kritis sekitar 120 kilometer sebelum akhirnya jatuh di Samudera Hindia. 

Mengukur Besarnya Dampak yang Disebabkan oleh Sampah Antariksa

Kendati hanya sampah antariksa, kemunculannya tetap menimbulkan kekhawatiran. Bukan tanpa alasan, sejumlah kasus sebelumnya menunjukkan bahwa pecahan berukuran besar bisa bertahan dan jatuh ke bumi. Dalam skala global, bahkan pernah terjadi insiden satelit berbahan nuklir yang menimbulkan kontaminasi. 

Seperti yang terjadi di Kanada, ketika bekas satelit milik Rusia yang menggunakan bahan bakar dasar nuklir jatuh di perairan Kanada dan berpotensi menciptakan radiasi nuklir.

“Dampak dari nuklir ini yang dikhawatirkan. Jadi tidak langsung jatuh di pemukiman, tetapi karena ini (bekas satelit Rusia) bermuatan nuklir atau berbahan bakar nuklir jadi potensi radiasi nuklirnya ini ada,” ujar Thomas.

Di Indonesia sendiri pada tahun 1981, sampah antariksa berupa tabung besar sisa serpihan roket milik Uni Soviet dilaporkan jatuh di perairan Gorontalo. Kemudian pada tahun 1988 kejadian serupa terjadi di perairan Lampung. 

Sementara itu di tahun 2016, sekitar enam tabung bekas bahan bakar roket milik SpaceX, Amerika Serikat, dilaporkan jatuh di Madura hingga merusak kandang domba milik warga. Setahun berselang, dua objek pecahan roket asal Cina kembali ditemukan jatuh di perairan Indonesia.

“Kemudian 2017 ada dua pecahan roket, satu berupa lempengan logam kemudian satu pecahan bekas tabung bahan bakar. Dua objek ini berasal dari pecahan roket milik china,” tutur Thomas. 

Merujuk pada sejumlah kejadian tersebut, Thomas menilai bahwa jatuhnya sampah antariksa memiliki dua dampak kerugian utama, kandungan material berbahaya yang mungkin dibawanya, serta ukuran objek yang menentukan tingkat kerusakan saat mencapai permukaan bumi. 

Meskipun sebagian besar sampah antariksa dipastikan jatuh di wilayah yang tidak berpenduduk sehingga umumnya tidak berbahaya, Thomas menegaskan bahwa fenomena tersebut tetap perlu diwaspadai.

“Untuk saat-saat sekarang ini, hampir tiap hari ada sampah antariksa yang jatuh. Tapi karena probabilitasnya kecil sekali jatuh di wilayah pemukiman, umumnya dianggap tidak terlalu berbahaya tetapi perlu diwaspadai,” tegas Thomas.

Langkah kewaspadaan yang disiapkan oleh BRIN sendiri adalah dengan melakukan pemantauan terhadap ketinggian sampah antariksa dan peninjauan potensi kandungan bahan berbahaya. 

“Ketika ada sampah antariksa yang ketinggiannya sudah pada ketinggian kritis 120 kilometer melintasi wilayah Indonesia itu yang perlu diwaspadai, tetapi tidak perlu menimbulkan ketakutan di masyarakat,” tutur Thomas. 

Selain langkah tersebut, tidak ada sistem atau alat yang dapat mengantisipasi kapan datangnya sampah antariksa ke suatu wilayah karena hambatan udara bersifat sangat dinamis, sehingga titik jatuhnya tidak dapat ditentukan secara tepat.

 

Reporter : Fitrya Putry | Editor: Reisha

Ilustrasi : Reisha / ASPIRASI

About the author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *