Mahasiswa dari berbagai Universitas menggelar aksi di sepanjang Jalan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat. Sederet tuntutan disuarakan, mulai dari MBG, wacana penutupan prodi hingga belum layaknya upah guru honorer.
Aspirasionline.com – Dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tahun 2026, mahasiswa dari berbagai universitas memadati Jalan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, untuk menggelar aksi unjuk rasa di Patung Kuda Istana Merdeka pada Senin, (4/5).
Dalam pantauan ASPIRASI, pada pukul 15.12 Waktu Indonesia Barat (WIB), barisan kepolisian telah bersiaga dalam jumlah besar dan menutup akses jalan. Sedangkan massa aksi sendiri tiba di Patung Kuda pada pukul 15.18 WIB.
Massa yang berjumlah kurang lebih seribu berasal dari Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta (UPNVJ), Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, hingga Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).
Kevin Claudio, selaku Jenderal Lapangan, menerangkan bahwa aksi tersebut menyoroti arah kebijakan Badan Perencanaan Pembangunan (BPP) tahun anggaran 2025 yang menempatkan Makanan Bergizi Gratis (MBG) pada prioritas utama sedangkan pendidikan di prioritas pendukung.
“Hanya kenyang, begitu pun kenyang kita tidur, dan menjadi bodoh, tetapi Prabowo itu tidak bisa memberikan masyarakatnya secara pendidikan yang bagus, dengan layanan yang layak, yang membuat kita sebagai masyarakat Indonesia memiliki pendidikan yang bagus, yang tinggi, yang bisa merubah bangsa dan negara ini lebih baik lagi,” terang Kevin kepada ASPIRASI pada Senin, (4/5).
Tuntutan lain yang dilayangkan dalam aksi ini adalah mengenai rencana penghapusan Program Studi (Prodi). Menurut Kevin, rencana penghapusan Prodi dengan alasan tidak relevan dengan kebutuhan industri justru menjadikan mahasiswa sebagai komoditas siap kerja dan membatasi ilmu pengetahuan.
“Mereka (pemerintah) ingin kita sebagai tenaga kerja yang murah saja, bukan sebagai mahasiswa yang berpendidikan untuk merubah ke depannya bangsa negara-negara ini,” ujar Kevin.
Menyoal Kesejahteraan Guru Honorer yang Belum Menemukan Titik Terang
Persoalan kesejahteraan guru honorer turut menjadi perhatian dalam aksi Hardiknas 2026. Massa aksi menyoroti pemerintah yang belum dapat memfokuskan persoalan upah dan status kerja guru honorer yang selama ini menjadi tiang pendidikan.
Presidium Nasional 2 Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Seluruh Indonesia (ILMISPI), Juan, dalam orasinya mengecam pemerintah yang tidak peduli dengan guru honorer yang hingga kini menerima gaji yang tidak layak.
Di sisi lain, 20 persen Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dialokasikan untuk hal-hal yang menurut Juan sama sekali tidak berguna, yakni kaus kaki dan motor Vespa.
“Itu yang menjadikan bahwasanya pemerintah hari ini sama sekali tidak memperdulikan terkait bagaimana manifestasi atau terkait sistem pendidikan nasional yang baik dan merakyat,” ujar Juan saat diwawancarai oleh ASPIRASI pada Senin, (4/5).
Juan mengaku berlatar belakang sebagai mahasiswa UNY, kampus pendidikan yang dahulunya Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP). Perhatian yang diberikan pemerintah sangat minim. Pendidikan menurutnya adalah ujung tombak utama yang harus didorong secara optimal.
Terkait dengan hal itu, ia mendesak anggaran untuk sektor pendidikan sebesar 20 persen untuk dialokasikan tepat sasaran. Salah satunya adalah pemberian upah yang layak kepada tenaga pengajar. Upaya menjamin kesejahteraan para pengajar, dapat memperbaiki sistem pendidikan Indonesia yang kian lapuk.
“Pemerintah harus mengembalikan anggaran APBN 20 persen ke pendidikan dengan semestinya. Itu tuntutan yang harusnya bisa kita suarakan dengan keras dengan hadirnya beberapa sistem pendidikan nasional yang tidak jelas arahnya,” pungkas Juan.
Foto : ASPIRASI/Fabiana
Reporter: Nurul, Mg.
Editor: Sammanda
