Meski Diguyur Hujan, Semangat Keagamaan tetap Warnai Pawai Ogoh-Ogoh di Bundaran HI

CategoriesNasionalTagged , ,

Pawai ogoh-ogoh pertama kali digelar di Jakarta, tepatnya di kawasan Bundaran HI sebagai rangkaian perayaan menyambut Tahun Baru Saka. Meski sempat diguyur hujan, ratusan warga tetap memadati area sekitar lokasi untuk menyaksikan arak-arakan yang diikuti berbagai komunitas umat Hindu di ibu kota.

Aspirasionline.com Pawai ogoh-ogoh dalam rangka menyambut Tahun Baru Saka 2026 telah digelar di area Bundaran Hotel Indonesia (HI) pada Minggu, (8/3).  Rintik hujan yang mengguyur Jakarta sejak dini hari tidak mengurangi antusiasme warga yang mulai berdatangan sejak pukul 07.00 Waktu Indonesia Barat (WIB). 

Sebanyak lima belas ogoh-ogoh dari berbagai banjar dan komunitas Hindu di Jakarta diarak satu per satu dalam pawai tersebut. Prosesi itu juga dimeriahkan dengan penampilan tari Bali, barong, serta ondel-ondel Betawi, dengan para peserta mengenakan busana adat Bali yang lengkap.

Salah satu Jro Dalang dalam perayaan tersebut, Gede Adiputra, menjelaskan bahwa pemilihan Bundaran HI sebagai lokasi parade tidak semata karena kawasan itu merupakan ikon Jakarta, tetapi juga berkaitan dengan makna catus yang penting dalam pelaksanaan ritual ogoh-ogoh.

“Katakanlah (catus) seperti swastika, palang merah. Nah, itulah mempunyai nilai magis. Mempunyai nilai energi yang bagus, sehingga simpang empat ini atau catus empat itu dipilih sebagai tempat utama. Kebetulan di Jakarta (Bundaran HI) inilah yang terbesar,” ujar Gede saat diwawancarai ASPIRASI pada Minggu, (8/3).

Lebih lanjut, Gede menambahkan bahwa ogoh-ogoh kerap digambarkan dengan wujud menyeramkan lantaran menjadi lambang sifat angkara murka, keserakahan, dan hawa nafsu.  

Sebab itu, sebelum memasuki Hari Raya Nyepi, ogoh-ogoh akan dibakar sebagai simbol peleburan sifat-sifat buruk manusia tersebut. 

“Ogoh-ogoh itu ungkapan bahwa manusia mempunyai hawa nafsu, mempunyai sifat negatif, dan mempunyai angkara murka. Itu yang patut dilebur,” ungkap Gede menjelaskan.

Sejumlah ogoh-ogoh yang ditampilkan dalam parade tidak hanya menonjolkan unsur artistik, tetapi juga membawa pesan mengenai pentingnya menjaga dan melestarikan budaya. Melalui arak-arakan tersebut, masyarakat diajak untuk mengenal serta menghargai berbagai tradisi yang menjadi bagian dari kekayaan budaya Indonesia.

“Pertama, secara sosial, ya. Kita mengenalkan kepada masyarakat di ibu kota, bahwa inilah suatu budaya (yang) perlu kita pelihara, perlu kita lestarikan. Jangan sampai budaya yang merupakan akar budaya nusantara hilang begitu saja,” ujar Gede.

Bukan Sekadar Parade, Ogoh-Ogoh jadi Medium yang Mengangkat Pesan Sosial

Antusiasme terhadap parade ogoh-ogoh tidak hanya datang dari panitia penyelenggara, tetapi juga masyarakat yang hadir menyaksikan acara tersebut. Salah satunya adalah I Gede Agung yang datang untuk melihat parade ogoh-ogoh pertama di Jakarta secara langsung.

“Tentu bangga, sih. Ya, bangga karena kebudayaan Bali bisa eksis di Jakarta. Karena ini pertama kalinya juga di Jakarta,” ujar Agung saat ditemui ASPIRASI di lokasi parade pada Minggu, (8/3).

Meski sempat merasa kecewa dengan turunnya hujan, Agung menilai kegiatan budaya seperti pawai ogoh-ogoh dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan tradisi kepada masyarakat yang lebih luas. 

Agung turut menyampaikan harapannya agar perayaan Hari Raya Nyepi ke depan dapat berlangsung lebih meriah, sekaligus menjadi momentum perenungan bagi umat Hindu untuk memperbaiki diri.

“(harapannya) next (selanjutnya) Nyepi bisa lebih meriah lagi. Ini juga menjadi cerminan kita untuk umat Hindu agar merefleksi diri untuk menjadi lebih baik lagi,” tambahnya.

Disaat yang sama, Wakil Gubernur Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta, Rano Karno, menyatakan dukungannya agar parade ogoh-ogoh dapat terus diselenggarakan pada tahun-tahun mendatang. Ia bahkan optimistis kegiatan tersebut dapat berlangsung lebih meriah, seiring dengan rencana perayaan lima abad Jakarta.

“Saya sangat yakin tahun depan akan jauh lebih luar biasa lagi. Karena insya Allah pada tahun 2027, Jakarta akan berusia 500 tahun. Di sinilah kehadiran budaya Nusantara harus hadir di Jakarta, dalam rangka menyambut lima abad Kota Jakarta,” ujar Rano Karno dalam sambutannya pada Minggu, (8/3).

Rano Karno turut menyampaikan doa terbaik agar perayaan Nyepi dapat membawa kedamaian bagi seluruh umat Hindu di Indonesia. Ia pun mengucapkan selamat Hari Raya Nyepi kepada umat Hindu di seluruh Indonesia.

 

Foto : ASPIRASI/Alya

Reporter : Alya Zhalikhah, Mg | Editor : Nazriel Efriza

About the author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *