Rimbun Hanyut tanpa Ampun, Tubuh Sumatra Dikuliti Hidup-Hidup

CategoriesSastra

Betapa getir tubuhku

mendengar satu per satu hutan meratap belasungkawa,

membisik telinga

dari batang yang tumbang

di tangan mandat yang ditandatangani tergesa,

menjadikan yang rimbun

usang seketika.

 

Betapa hilangnya diriku

saat hujan menghampiri  

menabur pekat

memekar di sungai yang dahulu tenang,

menjinjing gelondongan kayu 

bekas sepotong rimbun sisa hanyut bersama nyawa dan asa.

 

Bagaimana ucapnya dalam ampun

menghunus napasku,

yang mulutnya berhimpun dalam hitam,

lari dari ruang yang kehilangan wajahnya,

menjadi riuh oleh jerit uzur

yang tenggelam dalam luapan,

yang tertimbun bongkahan tanah,

yang kehilangan nama,

ketika tanah tak lagi mengenal mereka.

 

Kepada sabda yang mengutuk tanah kelahiran

yang melukis izin bagaikan hujan logam panas,

memburu akar yang kokoh

sampai tercabut dari ingatan liang.

 

Semua bersekutu dalam derasnya langit

yang memuntahkan air matanya 

karena rimbun yang dulu menahan

telah dirampas oleh peta konsesi.

 

Sebab ia tak pernah lebih dari sekadar bibit

yang dihancurkan oleh murka pasar

ketika subur dijual,

ketika matang diperdagangkan,

ketika tumbuh dirundingkan oleh meja-meja

yang tak pernah menyentuh tanah,

ia terkapar dalam kemunafikan negara

yang mengaku menjaga

namun menghilalkan hilangnya.

 

Betapa derasnya badai itu

menutup mata dari bayang-bayangku,

ketika segala yang hancur

dianggap sekadar statistik dan laporan layar kaca.

 

Sementara puisi yang kuucap

menggores sungai yang keruh,

bukit yang retak

dan tempat tinggal yang lenyap dari mata.

 

Semua fana

dan seluruhnya dibiarkan 

tak dianggap ada.

 

Hingga daun-daun gugur yang menutup mata

telah usai mengantar habis kebun dan tangkai

ikut porak-poranda,

ikut hanyut,

ikut terbendung oleh ucap janji palsu,

dan kita pun tenggelam perlahan

dalam bencana yang disusun rapi oleh tangan kuasa

tanpa sadar,

dan tanpa sempat meminta ampun.

 

Foto :  REUTERS/Stringer

Penulis : Akbar

About the author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *