Betapa getir tubuhku
mendengar satu per satu hutan meratap belasungkawa,
membisik telinga
dari batang yang tumbang
di tangan mandat yang ditandatangani tergesa,
menjadikan yang rimbun
usang seketika.
Betapa hilangnya diriku
saat hujan menghampiri
menabur pekat
memekar di sungai yang dahulu tenang,
menjinjing gelondongan kayu
bekas sepotong rimbun sisa hanyut bersama nyawa dan asa.
Bagaimana ucapnya dalam ampun
menghunus napasku,
yang mulutnya berhimpun dalam hitam,
lari dari ruang yang kehilangan wajahnya,
menjadi riuh oleh jerit uzur
yang tenggelam dalam luapan,
yang tertimbun bongkahan tanah,
yang kehilangan nama,
ketika tanah tak lagi mengenal mereka.
Kepada sabda yang mengutuk tanah kelahiran
yang melukis izin bagaikan hujan logam panas,
memburu akar yang kokoh
sampai tercabut dari ingatan liang.
Semua bersekutu dalam derasnya langit
yang memuntahkan air matanya
karena rimbun yang dulu menahan
telah dirampas oleh peta konsesi.
Sebab ia tak pernah lebih dari sekadar bibit
yang dihancurkan oleh murka pasar
ketika subur dijual,
ketika matang diperdagangkan,
ketika tumbuh dirundingkan oleh meja-meja
yang tak pernah menyentuh tanah,
ia terkapar dalam kemunafikan negara
yang mengaku menjaga
namun menghilalkan hilangnya.
Betapa derasnya badai itu
menutup mata dari bayang-bayangku,
ketika segala yang hancur
dianggap sekadar statistik dan laporan layar kaca.
Sementara puisi yang kuucap
menggores sungai yang keruh,
bukit yang retak
dan tempat tinggal yang lenyap dari mata.
Semua fana
dan seluruhnya dibiarkan
tak dianggap ada.
Hingga daun-daun gugur yang menutup mata
telah usai mengantar habis kebun dan tangkai
ikut porak-poranda,
ikut hanyut,
ikut terbendung oleh ucap janji palsu,
dan kita pun tenggelam perlahan
dalam bencana yang disusun rapi oleh tangan kuasa
tanpa sadar,
dan tanpa sempat meminta ampun.
Foto : REUTERS/Stringer
Penulis : Akbar
