Sudah lama dasar negeri ini ditegakkan,
katanya penuntun langkah bangsa,
katanya pemersatu segala beda.
Namun, lima dasar itu tampak seperti prasasti tua yang dilupakan pembacanya
Kami akan sejahtera, katanya?
Sudah terlalu lama kalimat itu diucapkan,
hingga terdengar seperti gema yang kehilangan pemilik suaranya.
Terbanglah setinggi-tingginya, katanya?
Namun, bagaimana mungkin kami terbang
jika setiap kali menengadah,
kami dipaksa menyaksikan langit yang perlahan dijual sedikit demi sedikit.
Terang selalu lahir di ufuk timur, katanya?
Namun bagi kami,
ia hanya singgah sebentar di bibir langit
lalu tenggelam kembali sebelum sempat menyentuh tanah tempat kami berpijak.
Sebagai pedoman bangsa, katanya?
Dari satu sampai lima
dimana letak sebagai pedoman itu?
Ketuhanan Yang Maha Esa, katanya?
Namun, benci pada cara doa yang berbeda,
seolah langit hanya milik segelintir suara
dan Tuhan dapat dipagari oleh cara.
Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, katanya?
Dimana letak adil dan adab itu?
Tanah diratakan bersama mimpi-mimpi
tuan berdasi dan kami yang memberi.
Persatuan Indonesia, katanya?
Namun, mata memandang hari ini,
menjadi saksi tanah negeri yang dibabat dan dihabisi.
Kami menjadi asing dari tanah kami sendiri.
Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, katanya?
Apa mereka sungguh bijaksana?
Mengemis suara untuk sebuah takhta,
sedang kami diinjak-injak bagai alas penguasa.
Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, katanya?
Nyatanya, keadilan hanya sampai pada meja penguasa,
sedang kami hanya rakyat yang pandai disuruh sabar.
Saat tanah dirampas dan suara dibungkam kasar.
Selamat Hari Lahir Pancasila, katanya?
Semoga suaramu kelak didengar,
bukan hanya ketika pengeras suara dinyalakan,
bukan hanya ketika bendera dikibarkan.
Semoga suatu hari kau benar-benar tiba
kepada mereka yang paling sering menyebut namamu.
Sebab bangsa tidak runtuh dalam satu malam.
Ia pelan-pelan lapuk
ketika pedomannya tinggal semboyan.
Kami ingin hidup tenang
tanpa menjadi korban ambisi yang tak pernah kenyang.
Ini bukan tanah kosong.
Ini tanah yang mewarisi jejak kaki kami,
tanah yang menyimpan keringat dan doa kami.
Tanah lahir dan rumah kami.
Penulis: Agung Yanuar
Editor: Akbar Syah
