Krisis Literasi Digital, Makna Kebangkitan Nasional Kian Tergerus

CategoriesOpiniTagged , ,

Derasnya arus informasi dan dominasi media sosial memunculkan krisis literasi digital yang mengancam daya kritis masyarakat, terutama Generasi Z. Kondisi tersebut menjadi tantangan baru dalam memaknai Hari Kebangkitan Nasional di era digital. 

Aspirasionline.comHari Kebangkitan Nasional yang diperingati setiap 20 Mei selama ini identik dengan lahirnya kesadaran nasional melalui organisasi Budi Utomo pada 1908. Peristiwa tersebut menjadi simbol bangkitnya semangat persatuan dan kesadaran kolektif bangsa Indonesia dalam melawan penjajahan.

Secara historis, kebangkitan nasional lahir dari tumbuhnya kesadaran intelektual, perkembangan pendidikan, serta budaya literasi yang mendorong masyarakat untuk berpikir kritis terhadap kondisi sosial dan politik pada masa itu.

Namun, di tengah perkembangan teknologi digital saat ini, makna “kebangkitan” tidak lagi dapat dipahami sebatas romantisisme sejarah. Indonesia justru menghadapi tantangan baru berupa menurunnya daya kritis masyarakat akibat derasnya arus informasi, disinformasi, hingga budaya konsumsi konten instan yang semakin masif di media sosial. 

Kondisi tersebut menjadi ancaman serius, terutama bagi Generasi Z (Gen Z) yang tumbuh di tengah dominasi media sosial dan algoritma digital. Kemudahan akses informasi yang seharusnya dapat memperluas wawasan justru berpotensi menurunkan kemampuan masyarakat dalam memahami informasi secara mendalam.

Berdasarkan publikasi resmi Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia tahun 2025 berjudul “Menteri Meutya dan Gubernur KDM Bekerja Sama Lindungi Anak Sekolah”, jumlah pengguna internet di Indonesia telah mencapai sekitar 212 juta orang atau sekitar 80 persen populasi nasional. Rata-rata penggunaan internet masyarakat Indonesia bahkan mencapai lebih dari delapan jam per hari. 

Di sisi lain, berdasarkan hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 yang dirilis Organization for Economic Co-operation and Development (OECD), kemampuan literasi membaca pelajar Indonesia masih berada di bawah rata-rata negara anggota OECD. Hanya sekitar 25 persen siswa Indonesia yang mencapai tingkat minimum kemampuan membaca Level 2, jauh di bawah rata-rata OECD sebesar 74 persen. 

Temuan tersebut menunjukkan bahwa luasnya akses internet belum tentu diiringi dengan kemampuan literasi serta kemampuan memahami dan mengolah informasi secara kritis. 

Tantangan Baru Kebangkitan Nasional dan Kesadaran Kritis di Era Digital

Rendahnya kemampuan literasi masyarakat tidak dapat dilepaskan dari perubahan pola konsumsi informasi di era digital. Media sosial yang awalnya hadir sebagai sarana komunikasi kini berkembang menjadi ruang pembentukan opini publik yang sangat memengaruhi cara masyarakat memahami suatu isu. 

Informasi bergerak dengan sangat cepat melalui video singkat, potongan narasi, hingga tren viral yang sering kali dikonsumsi tanpa proses verifikasi memadai. Akibatnya, masyarakat menjadi lebih mudah bereaksi dibanding memahami konteks persoalan secara utuh. 

Dalam penelitian yang dilakukan Salsabila Dwi Anggraini, dkk. (2026) berjudul Transformasi Budaya Literasi Digital Generasi Z di Era Media Sosial”, dijelaskan bahwa Gen Z cenderung mengonsumsi informasi secara cepat dan singkat melalui media sosial dibanding membaca informasi mendalam dari sumber terpercaya. 

Kondisi tersebut memengaruhi kemampuan analisis dan pemahaman generasi muda terhadap suatu isu karena derasnya arus informasi sering kali tidak diimbangi dengan kemampuan verifikasi oleh masyarakat. 

Selain itu, survei nasional Indeks Literasi Digital Nasional Kementerian Komunikasi dan Informatika dengan Katadata Insight Center (KIC) 2022 menunjukkan indeks literasi digital masyarakat Indonesia masih berada pada kategori “sedang”, terutama dalam aspek kemampuan berpikir kritis dan verifikasi informasi. 

Kondisi ini membuat ruang digital lebih mudah dipenuhi perdebatan emosional, polarisasi, hingga penyebaran informasi yang belum tentu benar. Padahal, jika menilik sejarah, kebangkitan nasional Indonesia justru lahir dari budaya intelektual dan tradisi literasi yang kuat. 

Ironisnya, budaya membaca kini perlahan tergeser oleh pola konsumsi informasi serba cepat di media sosial. Akibatnya, masyarakat lebih terbiasa menerima informasi secara instan dibanding memahami suatu persoalan secara mendalam. 

Di sisi lain, perkembangan teknologi juga membuka peluang lahirnya bentuk baru kebangkitan nasional. Gen Z memiliki akses jauh lebih luas terhadap informasi, ruang diskusi terbuka, serta kemampuan mobilisasi sosial yang lebih cepat dibanding generasi sebelumnya.

Penelitian berjudul Persepsi Generasi Z terhadap Efektivitas Aktivisme Digital sebagai Bentuk Partisipasi Sosialoleh Indira Nazwa Fazrina (2025) menjelaskan bahwa Gen  Z memandang media sosial sebagai sarana yang efektif untuk menyuarakan pendapat dan membangun partisipasi sosial. 

Kendati begitu, penelitian tersebut juga menyoroti bahwa banyak aktivitas digital masih berhenti pada interaksi di media sosial tanpa keterlibatan nyata di ruang sosial. Kondisi ini menunjukkan bahwa teknologi digital belum sepenuhnya dimanfaatkan sebagai sarana membangun kesadaran sosial yang berkelanjutan.

 

Reporter : Laila

Editor : Siti

About the author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *