Aksi Hari Perempuan Internasional Terhadang Barikade Aparat

CategoriesNasionalTagged ,

Aksi peringatan Hari Perempuan Internasional terhenti di Pintu Selatan Monas setelah aparat kepolisian memblokade jalan dan menghadang massa aksi.

Aspirasionline.com — Aksi Hari Perempuan Internasional yang bertajuk “Perempuan Memimpin Perlawanan Buruh, Petani, Mahasiswa, Nelayan, Masyarakat Adat, dan Kaum Miskin Kota Bersatu Melawan Kapitalisme” diselenggarakan di depan kantor Kedutaan Besar Amerika Serikat (Kedubes AS) sebagai titik kumpul aksi pada Minggu, (8/3). 

Sebagaimana diberitakan ASPIRASI dalam tulisan berjudul Aksi Memperingati Hari Perempuan Internasional Suarakan Perlawanan Perempuan terhadap Kapitalisme aksi damai ini digelar sebagai ruang bagi para perempuan untuk menuntut segala bentuk kesejahteraan yang sepatutnya sudah menjadi hak mereka, baik sebagai individu atau dalam lingkup keluarga. 

Diketahui berdasarkan pantauan ASPIRASI, massa aksi yang tengah melakukan long march dari kantor Kedubes AS menuju silang Monumen Nasional (Monas) dihadang aparat kepolisian. Penghadangan terjadi sekitar pukul 15.35 WIB, tepat saat massa aksi baru tiba di Pintu Selatan Monas. 

Dalam hal ini Siti Eni, Koordinator Departemen Perjuangan Buruh Perempuan Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI), menjelaskan bahwa pihaknya telah mengirim surat pemberitahuan lokasi aksi kepada pihak kepolisian.  

Dalam surat tersebut tertera bahwa aksi akan dilaksanakan di Jalan Silang Merdeka, Barat Daya, RT 5/RW 2, Gambir, Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta 10110.

Usai berkoordinasi dengan aparat di lapangan, Siti diinformasikan bahwa massa aksi tidak dapat menuju lokasi yang dimaksud, lantaran terdapat proyek pembangunan. Namun, Siti berpendapat bahwa lokasi pembangunan tersebut cukup jauh dari lokasi aksi. 

“Nah ini sudah, (surat) pemberitahuan itu sudah sesuai. Namun mereka (kepolisian) beralasan bahwa di sana (lokasi aksi yang tertera di surat pemberitahuan) ada proyek pembangunan. Sebenarnya proyek pembangunan itu wilayah (nya) itu juga jauh,” ungkap Siti kepada ASPIRASI di lokasi aksi pada Minggu, (8/3). 

Di tengah situasi tersebut, massa aksi terus melakukan negosiasi dengan aparat kepolisian agar blokade yang dipasang dapat dibuka. Meski begitu, alih-alih membuka akses, aparat justru menambah barikade hingga menutup akses jalan sepenuhnya. 

“Sudah ada (negosiasi massa aksi dengan aparat kepolisian), tapi justru mereka (kepolisian) ketika beralasan mau berkoordinasi dan bernegosiasi (terlebih dahulu dengan atasan), mereka (aparat di lapangan) langsung memasang blokade tambahan yang melalui mobil (yang sedang terparkir) tersebut.” tutur Siti. 

Siti turut menerangkan bahwa dirinya sudah menduga bahwa serangkaian negosiasi yang dilakukan tidak akan menghasilkan apa pun. Terutama ketika mengingat bahwa penghadangan oleh aparat sudah berkali-kali terjadi sejak 2025. 

“Kita sudah menyangka kalau hasil koordinasi itu adalah nihil. Karena sudah berkali, (bahkan) sudah puluhan kali, berapa tahun 2025 kebelakang ini kita memang selalu diblokade di depan situ (Pintu Selatan Monas),” pungkasnya.

Meski begitu, agenda aksi tetap dilanjutkan dengan serangkaian orasi, diskusi, dan panggung budaya. Seluruh kegiatan yang mulanya akan dilaksanakan di silang Monas tersebut, akhirnya diselenggarakan di Pintu Selatan Monas, tempat dimana massa aksi dihadang oleh aparat. 

 

Foto: ASPIRASI/Ghasya

Reporter: Athaya Shaqi, Mg. | Editor: Tia

 

About the author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *