Penyakit langka “Bamboo Spinal”

Forum Akademika

Aspirasionline.com – Penyakit Bamboo Spinal (Tulang Bambu) mencuat namanya setelah Sulami, wanita 35 tahun asal Sragen, Jawa Tengah mengidap penyakit ini yang menyebabkan tubuhnya tidak bisa bergerak secara leluasa. Tulang sulami benar benar kaku, tidak bisa di gerakkan layaknya bambu. Ia pun di juluki “Manusia Kayu” dari Sragen. Bamboo Spinal (Tulang Bambu) atau dalam bahasa medisnya dinamakan Ankylosing Spondylitis merupakan penyakit yang menyerang daerah tulang belakang dan area tubuh lainnya seperti menyerang tulang dan menyerang ligamen otot atau persendian yang berefek berkurangnya tingkat fleksibilitas seseorang untuk bergerak. Sehingga si penderita tidak bisa bergerak atau mengalami kekakuan tubuh layaknya bambu.

Penyakit bamboo spinal ini merupakan penyakit langka yang faktor utamanya disebabkan oleh faktor genetik. Hal ini diakui oleh Eko Prabowo, selaku dosen fisioterapi pada Rabu (8/2) di klinik Fisioterapi. Beliau menjelaskan untuk sekarang penyebab dari penyakit ini baru diketahui disebabkan oleh faktor genetik, selain itu belum diketahui apa penyebabnya. Lebih lanjut Eko menjelaskan gejala penyakit bamboo spinal biasanya diawali dengan gejala munculnya sakit di area pinggang (pegal-pegal) , atau bisa juga di area jari-jari tangan atau kaki serta di daerah persendian.

Pria yang gemar membaca dan main game itu pun menjelaskan, kalau penyembuhan secara fisioterapi dapat dilakukan apabila derajat keparahannya masih ringan seperti memperbaiki tulang belakang atau otot yang kaku, kemudian perbaikan fleksibilitas ligamen atau otot serta perbaikan postur tulang belakangnya tergantung kondisi setiap individu, walaupun penyakitnya sama tetapi penanganannya berbeda-beda. “Upaya pencegahan serta penyembuhannya lebih ditekankan untuk penanganan secara dini, sehingga pasien dengan kondisi seperti itu masih bisa beraktivitas secara fungsional. Sementara untuk penyembuhan memang sulit dilakukan karena penyakit ini disebabkan oleh faktor genetik yang tidak bisa dirubah, akan tetapi bisa diminimalisir dampaknya agar tidak terjadi derajat keparahan,” tutur pria berumur 27 tahun.

Reporter : Ardhi Mg. |Editor : Haura

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *