Melawan Rape Culture dengan Pendidikan Seksual

Nasional

Aspirasionline.cpm – Kekerasan seksual selama ini telah membudaya. Minimnya pendidikan seksual menjadi faktor utama hal tersebut kerap terjadi.

Akhir-akhir ini publik dikejutkan dengan berita pemerkosaan yang terjadi secara terus menerus. Melalui media televisi maupun cetak, hal ini membuat publik jadi geram. Pelbagai pemberitaan yang memilukan ini membuat masyarakat bertanya apa yang sebetulnya telah terjadi, atau apa yang mendorong pemerkosaan itu terjadi. Berbagai pertanyaan seputar isu tersebut muncul dalam diskusi publik mengenai Selaras Paham Lawan Kekerasan Seksual yang berlangsung di Coffeewar, Kemang, pada Minggu (29/5) lalu.

Dalam menanggapi hal tersebut, Nadya Karima Melati dari Liberty Studies angkat bicara. Menurutnya, pendidikan di Indonesia saat ini menutupi dimensi edukasi seksual. Minimnya edukasi seksual yang didapatkan di sekolah mengakibatkan keinginan seseorang untuk mencari tahu sendiri lewat berbagai media. Maka tak dapat dipungkiri bila publik jadi mengkonsumsi pengetahuan yang buruk. “Sebab kita sudah terbiasa dengan pikiran yang patriarki, juga terbiasa mengikuti rape culture,” ujarnya.

Rape culture sendiri sebetulnya merupakan suatu budaya, dimana publik merasa bahwa perkosaan dan melakukan victim blaming itu adalah suatu hal yang biasa, kata Nadya. Rape culture terjadi akibat tidak pernah mendapatkan edukasi seksual secara khusus, “karena pendidikan yang didapat cuma sekedar, ‘ini penis, ini vagina kalo digabung bisa jadi anak’, tapi kita nggak diajarkan seks adalah dua manusia yang melakukan aktifitas seks yang kalau dilakukan bisa terjadi ini atau itu,” katanya.
Lanjutnya, Nadya mengatakan bahwa penelitian mengenai rape culture sendiri di Indonesia tidak memiliki sumber yang memadai di dunia maya, dikarenakan minimnya pembahasan dan penelitian mengenai hal tersebut.

Padahal, masyarakat perlu tahu bagaimana pendidikan seksual, dan juga mahasiswa memerlukan ruang diskusi tentang apapun yang menyangkut masalah kebebasan individu. Nadya berpendapat, pendidikan seksual yang tidak didapat membuat sebagian publik merasa bahwa perkosaan itu suatu pelecehan seksual atau kekerasan seksual, bukan suatu kriminalitas karena tidak melihat perempuan sebagai subjek hukum. “Padahal seharusnya perempuan itu berhak dihargai di jalan, tapi kenapa perempuan dianggap tidak subjek hukum, kalau diperkosa perempuan yang disalahkan. Itulah kenapa pelecehan di jalan bukan suatu kriminalitas karena posisi perempuan yang tidak dianggap sebagi subjek hukum,” ungkapnya panjang lebar.

Edukasi seksual di sekolah seharusnya tidak dianggap negatif, sebab kalau tidak ada pembelajaran sejak dini maka dapat masuk ke rape culture baik secara sadar maupun tidak. “Pemerintah juga seharusnya jangan pernah berpikiran negatif tentang seksual education secara virtual, bisa lihat dulu pencetusnya siapa, biar lebih terpercaya gitu. Kita tidak boleh pesimis, kita masih bisa merubah rape culture ini, generasi muda kita bisa lebih baik dari yang sekarang.”

Dengan demikian pendidikan seksual seringkali dianggap tabu, “bahkan saya juga punya website yang isinya terdapat pendidikan yang berhubungan dengan seksualitas, tapi kemarin malah di-block sama Pemerintah karena dianggap membuat hyper-sex,” tambahnya dengan nada kecewa menutup sesi tanya jawab malam itu.

Reporter : Salma Decilia |Editor : Haris Prabowo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *