Greenpeace Nilai Krisis Air Jakarta Tak Lepas dari Kerusakan Lingkungan

CategoriesNasionalTagged , , ,

Sejumlah warga Jakarta masih menghadapi keterbatasan air bersih di tengah musim kemarau panjang. Greenpeace Indonesia menilai kondisi ini tidak hanya dipengaruhi fenomena cuaca, tetapi juga kerusakan lingkungan dan tata kelola sumber daya air.

Aspirasionline.com – Krisis air bersih yang melanda sejumlah wilayah di Jakarta kembali menyoroti persoalan tata kelola sumber daya air. Greenpeace Indonesia menilai kemarau panjang yang diperburuk fenomena Super El Nino bukan satu-satunya faktor di balik kekeringan yang kini terjadi. 

Tim Kampanye Sosial Ekonomi Greenpeace Indonesia, Ghofar, mengatakan kekeringan tahun ini terasa lebih berat dibandingkan tahun sebelumnya. Menurutnya, mundurnya musim hujan turut mengurangi pasokan air yang dibutuhkan untuk mengisi kembali cadangan air di dalam tanah. Kemudian secara bersamaan, kerusakan lingkungan turut memperburuk kemampuan alam dalam menyimpan dan menyediakan air.

“(Faktor) pertama, tentu situasi Super El Nino yang jadi salah satu perhatian di mana-mana. Misalnya, lamanya dan luasnya kebakaran hutan dan lahan di beberapa titik: Sumatra, Kalimantan, dan Tanah Papua. Lalu, mundurnya musim hujan padahal hujan adalah salah satu sumber utama air yang diserap tanah dan kemudian diambil,” ujar Ghofar saat diwawancarai ASPIRASI pada Jumat, (16/10). 

Ghofar turut menyoroti kondisi sumber air baku Jakarta yang menghadapi penurunan debit sekaligus pencemaran. Ia menjelaskan, pasokan air yang dikelola melalui instalasi Perusahaan Air Minum (PAM) Jaya berasal dari Waduk Jatiluhur di Jawa Barat dan sejumlah sungai di Jakarta. 

“Bayangkan, debit airnya sedikit, tetapi kualitasnya juga semakin parah. Kalau debit air kecil, kontaminan dari limbah cair rumah tangga dan limbah cair kawasan industri, misalnya di DAS (Daerah Aliran Sungai) Citarum yang punya banyak industri tekstil, ratusan pabrik, termasuk pabrik tekstil besar, pencemarannya jadi tinggi,” katanya. 

Persoalan lainnya ialah pengambilan air tanah secara masif, terutama di kawasan Jakarta yang rentan mengalami penurunan muka tanah. Penggunaan air secara terus-menerus dapat mengurangi cadangan air bawah tanah sekaligus merusak ekosistem hidrologi. 

Kondisi tersebut terus mengancam wilayah pesisir Jakarta yang telah lama mengalami eksploitasi air tanah oleh sektor industri maupun rumah tangga. 

“Sudah cukup lama terjadi ekstraksi air tanah oleh industri besar maupun rumah tangga tertentu yang punya kemampuan finansial besar. Mereka mengekstraksi air tanah besar-besaran sehingga situasinya semakin kering,” ungkap Ghofar.

Pemulihan daerah aliran sungai di wilayah hulu diperlukan untuk menjaga kuantitas dan kualitas air baku. Di wilayah tengah, perlu diperkuat dengan penambahan daerah resapan. Sementara di wilayah hilir, perlu adanya penegakan dan pengawasan terhadap ekstraksi air tanah untuk mencegah kerusakan sistem hidrologi dan penurunan muka tanah. 

Ghofar juga mendorong penghematan penggunaan air, peningkatan kapasitas pengolahan air baku, serta perluasan akses layanan air perpipaan bagi masyarakat.

“Selain emergency (darurat) membagikan air gratis, yang paling minimum yang harus dilakukan, tadi aku sebut, perbaikan wilayah hulu, memperbanyak area resapan di wilayah tengah, dan di wilayah hilir mengupayakan alternatif lain. Misalnya, larangan ekstraksi air tanah ditegakkan sekaligus mendorong inovasi seperti pengolahan air laut,” pungkasnya. 

Warga Pondok Labu Kesulitan Memenuhi Kebutuhan Air Bersih

Kekeringan turut dirasakan warga Pondok Labu, Cilandak, Jakarta Selatan. Ratna Kurniasih, salah seorang warga, mengatakan bahwa kondisi tersebut menyebabkan sumur miliknya yang selama ini menjadi sumber utama air bersih mengalami kekeringan sejak Juli 2026.

Ia menyebut, sumur dengan kedalaman hingga 15 meter miliknya mengalami kekeringan sehingga air hanya keluar dalam jumlah terbatas meskipun pompa air telah dinyalakan beberapa kali sehari.

“Biasanya, berapa jam, ya, baru keluar (airnya). Paling, nih, misalnya kita (warga) nyalain (pompa air) pagi. Nanti, siang lagi baru nyalain. Nanti, siang lagi, sore lagi. Nanti, malam lagi baru nyalain, gitu. Jadinya, enggak bisa satu jam sekali, enggak bisa, enggak ada airnya,” ujar Ratna kepada ASPIRASI pada Kamis, (24/9).

Dampak kekeringan juga menjalar pada terganggunya aktivitas rumah tangga, terutama mencuci pakaian, yang tidak lagi dapat dilakukan seperti biasanya. Hal tersebut, membuat Ratna terpaksa mengandalkan jasa laundry (penatu) kiloan untuk mencuci pakaian. 

“Biasanya, nyuci malam masih bisa. Sekarang, sudah enggak bisa. Sudah enggak bisa sama sekali (mencuci) malam. Sekarang, makanya laundry. Untung alhamdulillah ada laundry kiloan, ya, maksudnya murah, gitu. Jadi, kita terbantu dari itu (laundry),” ujar Ratna.

Di sisi lain, Lurah Kelurahan Pondok Labu, Nachnoer Vernier, menyebut telah menerima laporan mengenai keterbatasan air bersih dari warga sejak 13 September 2026. Berdasarkan laporan tersebut, setidaknya terdapat sekitar delapan titik Rukun Warga (RW) yang mengalami kekeringan. 

Sebagai upaya penanganan, Nachnoer mengungkapkan bahwa pihak kelurahan telah menyalurkan bantuan air bersih sebanyak empat kali sejak menerima laporan warga. 

Pendistribusian air dilakukan dengan mendatangi lokasi pemukiman dengan menggunakan mobil tangki berkapasitas 5 ribu liter untuk memenuhi kebutuhan air bersih warga terdampak.

“(Pendistribusian air) sesuai dengan kebutuhan dari warga karena kita sekali ngirim (air bersih), selalu tangki sebanyak 5.000 liter,” ungkap Nachnoer saat ditemui ASPIRASI pada Kamis, (26/9).

 

Reporter: Akbar, Hilmy | Editor: Syafira

Foto: ASPIRASI/Hilmy

About the author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *