AMSI Soroti Dampak AI terhadap Keberlanjutan Industri Media

CategoriesNasionalTagged , , ,

AMSI bersama Monash University Indonesia dan PR2Media mengungkap kondisi Industri pers di Indonesia yang kian menghadapi tekanan ganda akibat perkembangan teknologi AI. Selain menggerus jumlah pembaca, AI juga memanfaatkan konten jurnalistik tanpa kompensasi yang sepadan, sementara mayoritas perusahaan media masih belum siap menghadapi disrupsi tersebut.

Aspirasionline.comAsosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) mengungkap dampak signifikan perkembangan Artificial Intelligence (AI) terhadap ekosistem media nasional. Integrasi AI pada mesin pencari tidak hanya memicu penurunan trafik kunjungan media hingga puluhan persen, tetapi juga menunjukkan bahwa mayoritas perusahaan pers di Indonesia belum sepenuhnya siap mengadopsi teknologi tersebut secara aman dan berkelanjutan.

Temuan tersebut dipaparkan dalam Diseminasi Hasil Riset AMSI bersama Monash University Indonesia dan Pemantau Regulasi dan Regulator Media (PR2Media) yang berlangsung di Hall Dewan Pers pada Senin, (20/7). 

Forum ini mempertemukan dua hasil riset yang saling melengkapi, yakni mengenai dampak bot scraper (bot pengambil) AI terhadap trafik media serta tingkat kesiapan perusahaan pers dalam mengadopsi AI berdasarkan indikator AI Readiness Index (AIRI).

AI Pangkas Trafik Media

Data & Democracy Research Hub di Monash University Indonesia, Ika Idris, menjelaskan bahwa perubahan perilaku masyarakat dalam mengakses informasi menjadi salah satu penyebab utama menurunnya trafik media daring. Kehadiran fitur seperti Google AI Overview membuat pengguna internet memperoleh jawaban secara instan tanpa harus mengunjungi situs berita sebagai sumber informasi.

“Dengan adanya Google AI Overview, ternyata orang berhenti hanya melihat di Google AI Overview, dan akhirnya itu tentu berimbas pada jumlah visitors (pengunjung) ke website-website (situs-situs web) berita,” tutur Ika dalam paparan diseminasi pada Senin, (20/7).

Berdasarkan hasil riset, rata-rata penurunan trafik mencapai 54 persen. Penurunan paling besar dialami media berskala menengah dibandingkan media besar maupun kecil. 

Selain itu, Ika menyoroti fenomena double subsidy atau subsidi ganda yang dinilai semakin membebani perusahaan pers. Menurutnya, perusahaan media secara tidak langsung memberikan dua bentuk subsidi kepada pengembang Large Language Model (LLM), yakni melalui pemanfaatan konten jurnalistik sekaligus biaya operasional yang harus ditanggung media. 

“Ternyata selama ini terjadi double subsidise di mana publisher (penerbit) itu membayar atau menyubsidi dobel kepada perusahaan LLM,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, bentuk subsidi pertama terjadi ketika konten berita diambil secara otomatis oleh bot AI. Ironisnya, banyak perusahaan media terutama media kecil, belum menyadari bahwa karya jurnalistik mereka dimanfaatkan sebagai sumber data.

Lonjakan akses dari aktivitas bot scraper ini kerap terbaca sebagai peningkatan jumlah pengunjung sehingga sejumlah perusahaan media harus meningkatkan kapasitas server, padahal kunjungan tersebut bukan berasal dari pembaca nyata. Media skala kecil dan daerah yang memiliki keterbatasan tim Information Technology (IT) terpaksa mengeluarkan biaya sewa server tambahan hingga puluhan juta rupiah tanpa menerima imbal hasil finansial.

Menurut Ika, kondisi itu paling berat dirasakan media lokal. Di satu sisi, media lokal menghasilkan data reportase yang bernilai tinggi bagi pengembangan AI, tetapi di sisi lain justru memiliki sumber daya paling terbatas untuk melindungi kontennya. 

“Data yang paling berharga sebetulnya itu adalah data dari media lokal, reportase, apalagi kalau ini sebenarnya bukan bahasa Indonesia, bahasa daerah gitu, ya. Nah, tetapi justru media-media lokal itulah yang melakukan reportase yang paling vulnerable (rentan) karena mereka biasanya tidak punya tim IT,” jelas Ika.

Kesiapan Adopsi AI Dinilai Masih Belum Merata

Engelbertus Wendratama selaku Koordinator Penelitian di PR2Media memaparkan hasil survei terhadap 122 perusahaan media anggota AMSI. Hasil riset menunjukkan bahwa perusahaan media berskala besar memiliki tingkat kesiapan yang lebih tinggi dalam mengadopsi AI, dinilai dari kapasitas finansial, sumber daya manusia, tata kelola, serta infrastruktur teknologi.

Menurut Wendratama, perusahaan media dalam kategori  skala besar telah memasuki tahap sadar AI, yakni mampu memanfaatkan berbagai aplikasi AI siap pakai untuk mendukung aktivitas bisnis dan jurnalistik.

“Kalau perusahaan media besar itu AI-Aware (sadar), jadi sudah mampu menggunakan aplikasi AI siap pakai, GenAI tadi,” ungkap Wendratama saat paparan diseminasi pada Senin, (20/7).

Sebaliknya, media berskala menengah hingga kecil masih berada pada tahap eksplorasi. Selain masih mengandalkan layanan AI gratis, sebagian besar redaksi belum memiliki panduan praktis mengenai batas penggunaan AI dalam proses jurnalistik.

Mayoritas redaksi media hingga saat ini belum memiliki panduan praktis atau Standard Operating Procedure (SOP) eksplisit terkait batasan penggunaan AI dalam kerja jurnalistik, mekanisme verifikasi, hingga mitigasi risiko hukum. Kesiapan teknis media untuk memasang proteksi pelindung konten (robots.txt) dari bot scraper AI juga dinilai masih amat terbatas.

“Belum ada panduan praktis yang kami terima, baik dari regulator maupun Dewan Pers, dari AMSI, yang praktis. Jadi, panduan masih etika, tetapi sejauh mana kami boleh menggunakan GenAI untuk menulis? Kemudian peran editor di sini seperti apa? Peran reporter seperti apa? Jadi, mereka butuh panduan yang lebih praktis,” ujarnya.

Melalui hasil riset ini, para peneliti mendesak adanya intervensi regulasi dari pemerintah dan regulator guna melindungi hak cipta serta hak ekonomi media dan karya jurnalistik. 

Selain itu, peningkatan kapasitas teknis dan penyusunan panduan praktis adopsi AI menjadi kebutuhan mendesak agar perusahaan pers, terutama  media lokal dan kecil di daerah mampu beradaptasi dengan perkembangan AI tanpa mengorbankan keberlanjutan bisnis maupun kualitas jurnalisme.

 

Foto: Sheryl

Reporter: Sheryl | Editor: Hanifah

About the author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *