Api dirayakan,
dalam dingin berselimut terang.
Jingga diseret,
dari fajar yang terlambat bangun.
Tak pernah tidur.
Tak pernah benar-benar pergi.
Cengkeraman itu,
bukan lagi tangan,
bukan lagi wajah.
Ia napas.
Ia bayang.
Ia diam,
yang tahu caranya masuk,
Ke sela kulit.
Ke sela kata.
Ke sela “tidak”
yang tak sempat selesai.
Tubuh ini,
Tubuh-tubuh ini
Dibaca
Seperti peta tanpa penjaga.
Seperti jalan tanpa gerbang.
Bagaimana jika Kartini melihat hari ini?
Perempuan-perempuan keluar
dari dinding yang membungkam.
Keluar,
keluar
tanpa pintu.
Suara
yang dulu disimpan dalam sunyi.
Kini berpendar.
Tanpa bentuk.
Tanpa arah.
Setiap terang,
menyisakan bayang.
Bayang,
bayang
yang melekati cahaya.
Langkah bukan lagi menuju.
Langkah adalah menghindar.
Dari sesuatu
yang tak pernah diundang.
Namun, selalu tahu jalan pulang.
Tidak takut.
Tidak,
tidak lagi.
Atau mungkin,
tak sempat.
Sebab luka
tidak datang.
Luka sudah ada.
Sejak tubuh dikenali
sebagai ruang.
Ruang
yang selalu dianggap terbuka.
Jika Kartini membuka matanya hari ini, apa yang akan ia lihat?
Perempuan-perempuan berdiri?
Tubuh-tubuh yang terus dijaga sendiri?
Kebanggaan atau kebungkaman?
Atau
Menulis lagi,
Menulis lagi,
Menulis lagi.
Tentang tubuh
yang terus diperebutkan.
Bahkan setelah ia belajar menyebut dirinya “merdeka.”
Penulis: Akbar | Editor: Calvin
