Masih berada di pusat kota, di belakang hiruk pikuk gedung tinggi, tersimpan cerita dari ia yang hidup dari sisa-sisa sampahmu. Tidak ada jaminan, tidak ada perlindungan yang bertahan. Hanya keberanian dan tangan baik untuk menghadirkan sebuah sistem yang inklusif.
Di balik gedung-gedung yang berlomba tinggi, transportasi yang mutakhir, perilaku manusia yang kian konsumtif, serta serbuk kemegahan dunia yang hanya menjamah segelintir manusia. Hiduplah asa, kehidupan, dan cita yang terus berjalan walau lirih, terabaikan, dan jauh dari kehidupan yang terbentuk oleh standar.
Hidupnya tak tentu. Harapannya tumbuh terselubung di balik tumpukan sampah yang diproduksi Jakarta 7.000 sampai 8.000 ton per hari. Mereka memandang sampah dengan kacamata yang berbeda, sampah yang dapat membuat mereka bertahan hidup di hari ini, kemarin, dan juga esok hari.
Khotimah, perempuan paruh baya berasal dari tanah Madura, datang ke Jakarta merangkai asa lewat mengutip sampah, ia tinggal di kawasan yang dinamakan Kampung Pemulung, dikarenakan masyarakat setempat menyulam nasib dengan menjadi pemulung. Khotimah hidup bersama anak dan cucu yang dibesarkan di tanah yang ia tancapkan harapannya.
Sedari awal, ia melucuti pergerakanku dan tertangkap melalui ekor mataku. Ketika aku sambangi, ia bercerita, sorot matanya seakan mempersilakanku untuk terhanyut dengan cerita yang ia ceritakan. Kerutan di pelipis, pipi, dan dagu menjadi saksi goresan hidupnya yang tak mudah. Kedua tangannya memegang kitab suci yang ia bawa selepas dari surau dan juga es plastik yang ia genggam di sebelah tangan kiri.
“Saya asli Jawa Timur. Ke Jakarta itu dulu kabur, soalnya mau dinikahin sama saudara kakak sepupu. Padahal saya masih kecil. Malu kalau dipaksa begitu,” ujar Khotimah menerangkan alasannya dapat bermukim ke Jakarta dengan posisi yang masih berdiri dan teraut wajah kosong dan bergulir hampa.
Kampung Pemulung berlokasi tepat di belakang Stasiun Tanah Abang, berada di bawah jalan raya yang melintas dan hampir menyentuh bantaran Sungai Ciliwung. Aku berdiri kurang lebih sepuluh menit di sana, merasakan hawa lembab dan bau anyir menyeruak ke dalam indra penciumanku. Mataku menyapu setiap inci bangunan yang dipaksa berdiri kokoh berbahan kayu seadanya. Membayangkan panas terik dan dingin malam menggerogoti sesiapa yang tidur dan berteduh di sana melalui lubang-lubang bangunan yang tidak sempurna.
Saat tiba di Kampung Pemulung ini, walau mataku menyibak tidak menemukan papan nama yang bertuliskan Kampung Pemulung. Di sekelilingku dipenuhi hamparan plastik bekas menggunung dengan beberapa gerobak sampah mengitarinya. Telingaku berdenging mendengar kereta yang melaju setiap sepuluh menit sekali diikuti dengan rumah yang dibangun dengan kayu-kayu diselimuti lumut yang ikut bergeming diterpa lajunya kereta.
Waktu yang berjalan tidak secepat yang ada di arus jalanan kota dengan mobilitas yang tinggi. Mereka mulai mengutip sampah di malam hari sampai penghujung pagi di mana kehidupan kota mulai lengang, aktor kemudian berganti, Khotimah dan mereka yang termarginalisasi memainkan peran sirkulasi.
“Cuman kalau saya kegiatannya sehari-hari mungut nih malem sampe pagi, udah gitu kan pembuangan (pembuangan sampah menuju TPA) itu jam dua malam,” ujar Khotimah.
Tidak Ada Perlindungan, Tidak Pula Ada Jaminan
Mengutip sampah, suatu hal yang dibuang dengan sekenanya, menghadirkan masalah baru yang menerjang para pemulung di tanah peraduan. Risiko yang membersamai jejak-jejak langkah dalam menyusuri kepingan plastik menjadi hal yang paling sering dijumpai pemulung. Terinjak benda tajam, tusuk sate, paku, beling adalah hal yang menjadi risiko kerja dan dihadapkan kepada mereka sebagai makanan sehari-hari.
Ironinya, mereka tidak memiliki banyak solusi untuk mengatasi. Khotimah dengan bekas luka-luka tersisa di tangan kanan dan kiri, dirinya tertusuk tusukan bekas, kulitnya ruam tanpa ada penanganan. Sakitnya dibiarkan begitu saja, karena ia tahu bahwa ia tidak memiliki jaminan.
“Saya kasih sambal. Langsung nempel gitu biar darahnya keluar. Perih banget. Kalau nggak dikasih sambal buru-buru, bisa meradang sampai berbulan-bulan. Dulu juga pernah ketusuk jarum jahit dari gombal-gombal sampah. Banyak banget jarum bekas,” tutur Khotimah.
Ia dengan lincah menggulung sebagian baju bagian lengan untuk menunjukkan luka-luka yang ia dapat selama bergulat dengan sampah. Dengan mengulang frasa sakit beberapa kali dengan wajah merah padam, Khotimah di bawah terik matahari dan derekan gerobak sampah terus menumpahkan yang dialaminya kepadaku.
Ini bukan merupakan kejadian tunggal. Banyak Khotimah lain yang mengalami kejadian serupa. Salah satunya Haryono, seorang warga yang aku temui di Kampung Pemulung, mengutip sampah untuk ditukarkan dengan makanan yang dapat ia santap di hari itu.
Risiko kerja menjadi seorang pemulung juga ia rasakan, bukan karena keterimaan tapi karena tidak dihadapkan dengan banyak pilihan. Pilihannya terbatas, menjadi seorang pemulung merupakan pilihan yang realistis jika dijejerkan dengan sederet pilihan lain yang penuh dengan uji kompetensi.
“Ya diemin aja paling kasih obat merah. Kalau gabisa jalan ya udah istirahat dulu. Kalau ke dokter mah mahal nggak sanggup. Kadang 100 lebih lah,” ujar Haryono.
Dirinya mengaku lebih baik istirahat mengutip sampah di saat ia mengalami kecelakaan kerja, dikarenakan tidak memiliki biaya lebih untuk melakukan pemeriksaan. Haryono terus bercerita dengan suaranya yang pelan namun bersahaja, sambil melemparkan umpan pancing di air Sungai Ciliwung yang keruh.
Kami berpijak di tanah yang sudah mengerak dan bersatu padu dengan sampah kering dan basah. Aku mengamati rambutnya yang tumbuh di kepala bagian depan tergerus, plontos di depan namun bagian belakang rambutnya panjang.
Instrumen penting yang seharusnya mengakomodir seluruh lapisan pekerja baik sektor formal maupun nonformal sekalipun nyatanya belum menyentuh kalangan akar rumput. Sistem yang ada belum menciptakan sistem yang inklusif, terjangkau dan dapat diakses bagi semua kalangan.
Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan seharusnya dapat menjadi penopang bagi para pekerja, meghadirkan rasa terjamin dan terlindungi. Jerih payah yang seharusnya dituai kelak tua nanti, kecelakaan saat kerja pun diakui pengabdian dan memiliki jaminan, sedang mereka yang tidak punya pilihan, untuk hari tua tidak ada di dalam bayangan. Akankah masih mengutip sampah di jalanan, kembali ke kampung halaman, atau beristirahat dengan tenang di pemakaman.
Tanpa pengakuan, jaminan, perlindungan dan pengetahuan terhadap sistem yang belum memeluk mereka. Mati di tengah tumpukan sampah atau bantaran sungai tidak ada bentuk jaminan dari negara yang dapat dikeluarkan.
“Capek, ya lumayan capek, jalan kaki sampai ke slipi ya di mana ada tempat sampah dibuka-bukain,” ujar Haryono.
Di kesempatan yang sama, Ujang Ahsan, pengepul sampah di wilayah yang berseberangan dengan Kampung Pemulung menuturkan bahwasanya pemulung belum mendapatkan akses informasi yang memadai mengenai jaminan ketenagakerjaan.
Ketika tangan yang rentan, bahu yang berat memikul rongsongkan, langkah kaki yang penuh pijakan riskan, yang seharusnya paling membutuhkan perlindungan namun nihil untuk dijangkau.
“Menurut saya kayaknya nggak nyampe. Nggak nyampe ya. Karena mereka juga sama, individu. Mereka tanggung risiko sendiri-sendiri. Karena kan mereka mulung, ini banyak yang kena beling, kena tusukan gitu. Risiko keselamatan kerjanya lumayan riskan,” ujar Ujang sembari memisahkan antara sampah botol plastik dengan tutupnya.
Kolaborasi Menghadirkan Sistem yang Inklusif
Untuk mewujudkan sistem yang inklusif, diperlukan kehadiran aktor selain negara yang berpartisipasi aktif. Uluran tangan dari Non Governmental Organization (NGO) dan sesama masyarakat dapat mempertemukan ranting pohon dengan akar rumput, menyederhanakan sistem yang tampak kabur di mata para pemulung. Dengan menciptakan kedekatan emosional, memutuskan stigma sosial yang membelenggu di atas beratnya pikulan, mereka dapat bergabung bersama dengan sistem yang akan menjaga mereka.
Sustainability for Resource Collector atau sering disebut sebagai Surci bagi para pemulung yang tidak piawai dalam menggunakan bahasa Inggris, merupakan yayasan yang berdiri atas dasar kemanusiaan. Ia terbentuk dengan alasan tahu mana kelompok rentan yang harus dilindungi.
Kirman Nurdin Alamsyah selaku salah satu dari program koordinator Surci menuturkan komitmennya untuk memberdayakan para pemulung dan pengepul karena mereka merupakan bagian penting dalam ekonomi sirkuler. Ia juga menyampaikan komitmennya untuk mengadvokasikan hak-hak dan membantu pemulung untuk dapat menjangkau akses.
“Oleh sebab itu kami yayasan Surci ada untuk bisa mendampingi para pemulung ini mendapatkan hak-haknya mereka terus juga untuk memberdayakan mereka untuk bisa mendapatkan akses-akses mereka ke kesehatan, pendidikan, terus juga jaminan kecelakaan kayak gitu,” pungkas Kirman.
Surci menerjemahkan sistem yang kompleks menjadi suatu hal yang sederhana dan memetakan BPJS Ketenagakerjaan sebagai suatu tabungan dan jaminan dalam proses bertahan hidup yang dihantui oleh risiko kerja kapanpun di manapun.
Bukan hal yang mudah membawa sesuatu yang terasing ke lingkup mereka, keraguan, kekhawatiran, ketidakpercayaan, tampak jelas di raut dan pandangan mereka ketika pertama kali diperkenalkan dengan BPJS Ketenagakerjaan. Sebab ini bukan hanya perkenalan terhadap hal baru, namun mengubah pola pikir dengan berorientasi pada jangka panjang merupakan hal yang sukar.
“Karena kan ini sesuatu yang akan mengeluarkan uang gitu ya. Jadi khususnya kayak BPJS Ketenagakerjaan itu akan ada iuran setiap bulan gitu. Jadi mereka awalnya akan kayak, oke nanti bakal dibayarin, tapi nanti saya akan ngapain nih? Apakah saya akan bayar ke Surcinya, atau nanti gaji saya, atau gaji saya masukkan, saya akan dipotong dan sebagainya,” terang Kirman menjelaskan situasi pada saat sosialisasi BPJS Ketenagakerjaan kepada pemulung.
Yayasan Surci sepenuhnya sadar, keberpihakan saja tidak cukup untuk melahirkan sistem yang inklusif. Maka dari itu ia bekerjasama dengan sistem yang sudah ada. Negara tetap memiliki porsi yang besar untuk melangsungkan perubahan. Di bawah genggaman sistem yang perlahan sembari dirajut agar dapat mengakomodir seluruh kalangan. Surci dan pemerintah bekerjasama menata kehidupan jangka panjang aktor sirkulasi ekonomi yang acapkali termarginalisasi.
Dengan sorot mata penuh keyakinan aku melihat komitmen yang dipegang teguh oleh Kirman. Dengan suara tegas ia menyatakan perlu adanya advokasi kepada para pemulung karena pola pikir yang ada pada pemulung tidak berpikir untuk hari yang akan datang. Tetapi itu disebabkan karena mereka terbentur realitas yang ada.
“Jadi kita berjasama dengan BPJS Ketenagakerjaan, setelah itu kita datangi komunitas-komunitas para pemulungnya. Jadi di komunitas para pemulung ini kita akan lakukan sosialisasi. Membagikan seribu paket sembako, dan BPJS Ketenagakerjaan selama satu tahun,” pungkas Kirman menuturkan kerjasama antara Surci dan BPJS Ketenagakerjaan.
Tulisan ini didedikasikan untuk Lomba Jurnalistik BPJS Ketenagakerjaan
Reporter: Nabila Putri Sammanda | Foto: Rasyid Hilmy
