Lebih dari sekadar kewajiban administratif, BPJS Ketenagakerjaan menjadi fondasi nyata yang menjaga mereka dari risiko kerja, sekaligus memberi kepastian finansial untuk masa depan.
Aspirasionline.com – Derap langkah para pengunjung menyatu dengan alunan musik lembut yang menggema di seluruh sudut Lippo Mall Nusantara, Jakarta Pusat. Dari lantai bawah food court, Fajrul Falah beserta kekasihnya, Tsamarah Nabila, duduk berdampingan ditemani dua gelas kopi dingin dan diterangi lampu-lampu kuning hangat yang memantulkan cahaya pada permukaan meja.
Sembari menyeruput kopi yang perlahan mulai mengembun di meja, Fajrul memulai perbincangan santai yang mengalir pada sore itu. Ia meletakkan kembali gelasnya, menarik napas kecil, sebelum akhirnya membawa percakapan itu pada kesehariannya sebagai pekerja swasta.
Setiap pagi, tepatnya pukul 08.00 Waktu Indonesia Barat (WIB), Fajrul bersiap dari kos kecilnya yang ada di Pancoran, Jakarta Selatan menuju lokasi kantor. Dengan jarak yang hanya membutuhkan sepuluh menit berjalan kaki, menjadi rutinitas tiap pagi yang ia hafal luar kepala.
Berada di industri yang identik dengan helm, rompi dan hiruk-pikuk proyek, Fajrul justru banyak bergelut pada desain dan perhitungan struktur bangunan. Sebagian besar pekerjaannya dihabiskan untuk memastikan setiap detail perancangan bangunan sesuai standar keamanan.
“Saya sebagai structure engineer di kontraktor, jadi tugas saya itu mendesain suatu bangunan mulai dari desain awal hingga gambar siap distribusikan ke proyek, begitu,” ujar Fajrul saat bercerita kepada ASPIRASI pada Sabtu, (29/11).
Meski tidak terjun langsung ke lapangan, tekanan pekerjaannya bukanlah hal yang sepele. tenggat waktu, revisi, hingga ketelitian yang tinggi seolah mencengkram kesehariannya tanpa jeda. Di balik sebuah gedung yang berdiri kokoh, ada serangkaian perhitungan yang harus benar sejak awal. Bagi Fajrul hal tersebut memiliki konsekuensinya tersendiri.
Kemudahan Akses BPJS Ketenagakerjaan Membawa Ketenangan di Tengah Risiko
Dalam waktu yang bersamaan, Fajrul menyadari bahwa perannya dapat berubah seiring kebutuhan perusahaan. Seperti mutasi ke lapangan bisa terjadi kapan saja dan disitulah risiko mulai tampak nyata.
Kesadaran akan risiko tersebut membuatnya bersyukur karena sejak awal bekerja, perusahaannya telah mendaftarkan dirinya sebagai peserta Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan. Baginya BPJS Ketenagakerjaan bukan hanya formalitas administratif yang wajib dipenuhi, melainkan investasi masa depan.
Fajrul menilai bahwa dengan adanya perlindungan bagi pekerja memberi rasa lega tersendiri. Terlebih lagi, ia merasa diuntungkan karena sebagai karyawan hanya perlu membayar sebagian kecil dari gaji.
“Karena iurannya juga sekitar 3 persen dari gaji kalau tidak salah ya, cukup okelah. Cukup standar bagi saya seorang pegawai kantoran yang mungkin nantinya juga di akhir kalau terjadi apa-apa juga dapat diklaim atau mendapatkan timbal balik yang setimpal,” ujar Fajrul sembari menyesap kembali kopi yang dingin tersebut.
Sama halnya dengan Fajrul, Nabila turut merasakan diuntungkan dengan kehadiran BPJS Ketenagakerjaan. Sore itu, dengan suara lembut dan senyum tipisnya di sela cerita, ia menuturkan sebagai project support yang mengharuskannya untuk mengawasi kontraktor.
Nabila mengatakan bahwa divisinya akan membangun sebuah gedung, yang tentunya jika konstruksi sudah dimulai risiko lebih besar sewaktu-waktu dapat menghampirinya, seperti kebisingan, debu yang menempel, hingga potensi tertimpa material yang jatuh tiba-tiba.
Namun, di balik risiko besar yang mengintainya, Nabila tidak lagi merasa cemas. Ada ketenangan yang menyelinap di tengah hiruk-pikuknya konstruksi yang akan dihadapi. Sebab dengan adanya BPJS Ketenagakerjaan dan kemudahan akses lewat aplikasi Jamsostek Mobile (JMO).
Nabila menjelaskan, dalam aplikasi tersebut, seluruh manfaat BPJS Ketenagakerjaan dapat terlihat jelas, seperti jaminan hari tua, kecelakaan kerja, kematian, pensiun, hingga kehilangan pekerjaan. Lewat aplikasi itu, ia merasa semakin dekat dengan rasa aman.
“Ada salah satu fitur yang namanya jaminan hari tua. Nah, itu kita sebagai user (pengguna) tuh bisa lihat cek saldo. Jadi ketika ketika kita tinggal masukin nomor kartu BPJS itu kelihatan saldo kita yang sudah disetorkan oleh perusahaan itu sekian berapa,” tuturnya di tengah sesi perbincangan dengan ASPIRASI pada Sabtu, (29/11).
Keamanan Kerja dan Masa Depan dengan BPJS Ketenagakerjaan
Menjelang malam, derap langkah pengunjung mulai ramai berdatangan. Di tengah suasana yang makin hidup itu, perbincangan dua insan pekerja mengalir lebih dalam. Masih banyak pekerja yang meremehkan BPJS Ketenagakerjaan, bukan karena merasa tidak butuh, tetapi karena tidak memahami manfaat di baliknya.
Bagi Nabila, hal-hal yang jarang dibicarakan itulah yang paling penting. Ia menarik napas kecil sebelum menjelaskan, bahwa banyak pekerja sering meremehkan jaminan kecelakaan kerja.
“Paling diremehkan yang paling diremehkan mungkin sama sih jaminan kecelakaan kerja ya. Karena kan kita sebagai pekerja, sebagai ya mencari nafkah gitu, kita kayak enggak ada yang tahu kapan bencana, kapan cobaan bisa datang, gitu,” ucap Nabila.
Selanjutnya ia menambahkan bahwa sangat penting untuk memiliki jaminan hari tua dan pensiun. Tanpa itu, seorang pekerja seolah tidak dihargai setelah menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk perusahaan.
Menutup perbincangan pada sore kala itu, Fajrul menegaskan pentingnya perlindungan jangka panjang bagi setiap pekerja. Baginya, iuran yang dibayarkan tiap bulan adalah tabungan yang kelak akan kembali dalam bentuk yang jauh lebih berarti
“Itu merupakan prospek yang cukup baik karena itu merupakan sebuah dana saving atau dana darurat yang dapat kita gunakan nantinya,” pungkasnya.
Dua pekerja muda ini sama-sama memandang bahwa perlindungan bukan hanya soal kewajiban perusahaan, melainkan kebutuhan dasar setiap pekerja. BPJS Ketenagakerjaan memberi mereka satu hal yang sering dibutuhkan para pekerja, rasa aman.
Tulisan ini didedikasikan untuk Lomba Jurnalistik BPJS Ketenagakerjaan
Reporter: Azzahwa Zulfa | Ilustrasi: Syifa Aulia
