Beralihnya program MBKM ke Kampus Berdampak di UPNVJ menimbulkan keresahan. Mahasiswa khawatir persiapan magangnya terganggu akibat minimnya sosialisasi serta ketidakjelasan regulasi mengenai pembiayaan program.
Aspirasionline.com — Beralihnya program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) ke program Kampus Berdampak tengah menjadi sorotan di kalangan sivitas akademika Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta (UPNVJ) dinilai terburu-buru.
Berdasarkan hasil penelusuran ASPIRASI, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UPNVJ sudah melaksanakan sosialisasi program Kampus Berdampak pada Senin, (16/6) lalu yang dilaksanakan secara daring.
Meski sosialisasi telah dilakukan, Sabrina Purwasantiana, mahasiswa Program Studi (Prodi) Hubungan Internasional FISIP angkatan 2023, tetap mengungkapkan kekhawatirannya atas keterlambatan pelaksanaannya.
Sabrina menilai bahwa keterlambatan sosialisasi berdampak langsung pada peluang mahasiswa untuk lolos seleksi magang. Menurutnya, dengan persiapan waktu yang singkat, mahasiswa mengalami kesulitan untuk memenuhi persyaratan yang dibutuhkan.
“Kita mahasiswa tuh perlu menyiapkan portofolio, menyiapkan CV (Curriculum Vitae), juga menyiapkan pengalaman. Kalau sosialisasinya diadakan mepet dengan proses rekrutmen, itu sepertinya kurang efektif karena chance (kesempatan) kita untuk tidak keterima tuh lebih banyak karena kita tidak prepare (persiapan),” ujar Sabrina saat diwawancarai ASPIRASI melalui Google Meet pada Jumat, (30/5).
Senada dengan Sabrina, minimnya sosialisasi juga diungkapkan oleh mahasiswa Prodi Informatika Fakultas Ilmu Komputer (FIK) angkatan 2023, Rudy Hartono. Ia merasa kurangnya informasi dari kampus membuat mahasiswa, khususnya di fakultasnya, semakin bingung menghadapi transisi program ini.
“Jadinya, di fakultas kami pun pada kebingungan. Ini informasi magang belum ada, terus sosialisasinya kapan, dan bagaimana mekanisme magangnya, itu pada kebingungan,” ungkap Rudy pada ASPIRASI melalui Zoom Meeting pada Rabu, (28/5).
Transisi Magang Picu Kekhawatiran Mahasiswa Soal Uang Saku
Selain kendala dalam informasi, transisi program magang ini juga menimbulkan kekhawatiran terkait pemberian uang saku. Mahasiswa khawatir tak lagi mendapat uang saku dari pemerintah, melainkan harus bergantung pada kebijakan tiap perusahaan mitra.
“Yang aku tahu tuh sebelumnya dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) itu memberikan uang saku kepada mahasiswa yang ikut magang, tetapi di magang berdampak ini tuh kebijakannya dikembalikan lagi ke perusahaan yang terkait itu untuk magang,” ungkap Rudy.
Sejalan dengan Rudy, Shafwat Abdul Hayi Syuaib, mahasiswa Prodi Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) angkatan 2023, menyoroti adanya kecenderungan agar program magang berjalan secara mandiri di bawah koordinasi kampus dan tidak lagi dibiayai langsung oleh kementerian. Ia menilai kondisi ini berkaitan dengan adanya efisiensi anggaran dari pemerintah.
“Mereka (kampus) juga butuh uang. Bayangin aja berapa banyak mahasiswa yang magang di satu semester, dikalikan dengan uang kampus yang ada. Kayaknya sih berat,” ujar Shafwat dalam wawancaranya bersama ASPIRASI pada Jumat, (30/5).
Namun, informasi terbaru dari kanal YouTube resmi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemdiktisaintek) pada Senin, (16/6) menyebutkan bahwa dalam program Magang Berdampak, mahasiswa yang diterima tetap akan mendapatkan dukungan biaya hidup dari Kemendikbudristek sebesar Rp2,8 Juta per bulan, selama program berlangsung.
Sementara itu, untuk program magang mandiri, yakni program magang yang diinisiasi langsung oleh perguruan tinggi tanpa melalui platform resmi Kampus Merdeka pemberian uang saku dikembalikan pada kebijakan masing-masing kampus.
Di Tengah Transisi, Kampus Pastikan Mahasiswa Tak Dirugikan
Di tengah transisi, tak sedikit mahasiswa yang merasa dirugikan karena terburu-burunya perubahan program. Salah satunya, Edward Benedictus Roring, mahasiswa Fakultas Hukum (FH) angkatan 2023, turut menyayangkan keterbatasan kuota dan pilihan tempat magang dalam program ini. Pasalnya, ia menilai bahwa magang merupakan bagian integral dari proses pendidikan di perguruan tinggi.
“Karena menurut saya, magang ini hal yang wajib untuk dilaksanakan, apalagi di dunia pendidikan tinggi. Karena kalau kita hanya belajar teori, enggak akan cukup karena nanti implementasinya pasti berbeda antara teori dan implementasi di dunia pekerjaan,” tutur Edward kepada ASPIRASI pada Jumat, (30/5).
Merespon huru-hara terkait transisi, Wakil Rektor (Warek) I Bidang Akademik UPNVJ, Henry Binsar Hamonangan Sitorus, menegaskan bahwa pelaksanaan program MBKM di UPNVJ akan tetap berjalan. Ia juga memastikan bahwa anggaran untuk program tersebut telah disiapkan sejak awal tahun.
“Kegiatan MBKM akan terus kita lakukan, tidak akan kita hentikan. Bahkan anggaran juga sudah kita siapkan untuk itu. Di tahun ini target kita yang mahasiswa mengikuti MBKM itu di angka 2.250 (mahasiswa), sekitar 2.000-an (mahasiswa) lebih. Jadi kemarin sudah berangkat di sekitar 800 (mahasiswa),” terang Henry kepada ASPIRASI pada Senin, (16/6).
Lebih lanjut, Henry juga menambahkan bahwa meskipun terjadi penyesuaian skema, prinsip konversi Satuan Kredit Semester (SKS) bagi peserta magang tetap dipertahankan seperti sebelumnya. Hal ini dilakukan agar mahasiswa tidak dirugikan secara akademik selama masa transisi berlangsung.
“Karena ada standar dari kementerian bahwa untuk satu SKS itu pengertiannya adalah berkegiatan selama 45 jam, itu satu SKS. Jadi kalau 20 SKS berarti pengertiannya 20 x 45 jam, berarti itu setara dengan 900 jam,” jelas Henry.
Sementara itu, Anindita Lintangdesi Apriani, selaku penanggung jawab MBKM FISIP, menyampaikan pandangannya terkait transisi menuju program Kampus Berdampak. Ia justru menyambut baik perubahan ini, karena menurutnya, program tersebut membuka peluang yang lebih luas bagi mahasiswa untuk mendapatkan pengalaman magang yang lebih bermakna dan tidak semata-mata berorientasi pada insentif.
“Kalau di MBKM itu, kalau saya menangkap, membuat teman-teman fokusnya malah jadi ke magang untuk mendapatkan penghasilan, bukan buat belajar. Jadi kalau untuk ide, dengan adanya Kampus Berdampak ini, benar-benar habis mereka mengambil sesuatu, mereka akan memberikan sesuatu,” tutup Lintang dalam sesi wawancaranya dengan ASPIRASI pada Rabu, (4/6).
Reporter: Fathya & Rieanita
Editor: Zhufar Athalla
