Menyoal Kriteria Baru di Jalur Prestasi Seleksi Mandiri UPNVJ

Menyoal Kriteria Baru di Jalur Prestasi Seleksi Mandiri UPNVJ

Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta (UPNVJ) mengeluarkan inovasi baru dalam kriteria seleksi mandiri (SEMA) jalur prestasi 2019, yaitu YouTube Content Creator dengan 10.000 subscriber, Hafidz Alquran, dan mantan Ketua OSIS.

Aspirasionline.com — Selasa, (11/6) website UPNVJ memublikasikan Surat Keputusan (SKEP) Pengumuman Rektor mengenai SEMA jalur prestasi tahun 2019. SKEP itu menyebutkan jalur prestasi merupakan proses seleksi yang dilakukan dengan cara menggabungkan nilai Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) dan prestasi akademik/nonakademik.

Terdapat kriteria jalur prestasi akademik dan non-akademik yang inovatif, salah satunya YouTube Content Creator dengan 10.000 subscriber. Jalur ini berlaku untuk semua program studi (prodi), kecuali prodi-prodi yang ada di Fakultas Kedokteran (FK) dan prodi Farmasi di Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES).

Mengenai pengecualian tersebut, Wakil Rektor (Warek) I Bidang Akademik Anter Venus mengatakan kampus memiliki pertimbangan-pertimbangan yang situasional. “Pertama, Farmasi masih (prodi, red.) baru. Kedua, yang kedokteran itu ada beberapa aspek lain. Mungkin tahun depan bisa berubah,” ungkap pria yang akrab disapa Venus ini kepada ASPIRASI, Selasa, (18/6).

Saat ASPIRASI mengonfirmasi kepada Dekan FIKES Wahyu Sulistiadi, ia belum bisa menjawab secara langsung mengenai korelasi antara YouTuber dengan akademik. Ia mengatakan bahwa pihaknya akan mengadakan rapat terlebih dahulu untuk mengambil sikap atas persoalan ini. “Semua dirapatkan dulu, tidak bisa keputusan pribadi,” ujar Wahyu saat dihubungi ASPIRASI via WhatsApp, Senin (17/6) lalu.

Sepenuturan Venus dalam akun instagramnya, kriteria YouTube Content Creator sebagai salah satu jalur masuk kampus merupakan yang pertama di Indonesia. Parameter kuantitatif jumlah 10.000 subscriber ini, menurut penilaian pihak rektorat, menandakan keseriusan penggarapan konten oleh YouTuber yang bersangkutan.

YouTuber ini juga disyaratkan memiliki minimal dua video yang masing-masingnya menggalang 100.000 penonton. Dengan catatan, kriteria video itu bermanfaat, mendidik, kreatif, inspiratif, orisinal, menarik, dan memenuhi standar editing serta kualitas gambar yang baik. “Jenis konten gaming, prankster, dan ujaran kebencian adalah konten yang tidak masuk dalam kriteria penilaian pada jalur ini,” ujar Venus mencontohkan.

Perihal jual beli subscriber palsu yang marak di internet, yang rentan menjadi akal-akalan calon mahasiswa pendaftar, Venus mengatakan pihak kampus tak akan segan untuk mendiskualifikasikannya. Pihak kampus sudah memiliki strategi untuk mengidentifikasi keaslian subscriber dengan memperhitungkan rata-rata statistik penonton per video. Misal, kata Venus, pihak kampus akan meragukan saluran yang memiliki 10.000 subscriber namun hanya memiliki penonton per video pada kisaran 1500-3000 viewers.

Tim seleksi SEMA juga akan memvalidasi masing-masing akun calon mahasiswa yang mendaftar jalur prestasi kriteria ini. Bagi yang lolos seleksi, akan mengikuti uji keterampilan berupa pembuatan video berdurasi 3-5 menit dengan tema yang ditetapkan panitia SEMA pada 24 Juli-25 Juli 2019. “Sepertinya tema yang akan diberikan bisa jadi hanya tema besar saja, ya. Misalnya tema Bela Negara, kemudian mereka yang mengembangkan tema tersebut,” jelas Venus.

Langkah selanjutnya yang akan dilakukan pihak kampus terhadap calon mahasiswa yang lolos pada kriteria YouTube Content Creator ini yaitu memberikan pembekalan dan pembinaan khusus. “Kita akan membentuk komunitas atau grup untuk mereka, kemudian kita juga akan bekerja sama dengan YouTube Indonesia,” ujarnya.

Pihak kampus berencana akan mengundang YouTube Indonesia yang sudah profesional untuk memberi masukan mengenai bagaimana membuat sebuah konten yang mendidik, bermanfaat, dengan tampilan dan teknik gambar yang baik.

Mulai dari YouTuber, Hafidz Alquran, Hingga Ketua OSIS

Kriteria Youtuber Content Creator ini datang dari Venus dengan mempertimbangkan era digital saat ini yang menciptakan ruang pasar terbuka dan menciptakan peluang kerja ekonomi kreatif. Selanjutnya, konsep ini dikembangkan oleh pihak rektorat.

Venus merujuk pada laporan tahunan Digital 2019 yang dihimpun We Are Social bahwa Indonesia merupakan negara yang menduduki peringkat kelima pengakses media sosial terbanyak, dan 88 persennya merupakan pengakses YouTube. Ini menjadi salah satu alasan mengapa YouTube dinilai paling potensial membuka peluang ekonomi sebagai platform yang paling lengkap dan terbuka.

Para YouTube Content Creator juga dinilai mampu mengembangkan kapasitas kemandirian, memiliki jiwa kolaboratif, serta entrepreneurship. Venus menganggap generasi milenial merupakan generasi yang digital native (lahir dan hidup dengan kondisi familiar dengan internet dan komputerisasi). Sehingga terbukti dapat beradaptasi dengan teknologi secara cepat. Hal tersebutlah yang menjadikan YouTuber Content Creator sebagai simbol prestatif dalam jalur prestasi ini.

Selain untuk menciptakan mahasiswa yang peka terhadap industri kreatif, Venus mengungkapkan bahwa diadakannya kriteria baru ini bukan untuk meningkatkan animo (peminat) calon pendaftar UPNVJ. Ia menganggap ini sebagai bentuk kontribusi bagi bangsa dengan memperhatikan beberapa hal termasuk dalam hal digitalisasi. Pihak kampus ingin beradaptasi dengan perubahan lanskap ekonomi dan teknologi.

Untuk kritera Hafidz Quran, Venus mengungkapkan diadakannya kriteria ini karena faktor banyaknya kompetisi keislaman yang diadakan Kemenristekdikti seperti lomba Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ). Pihak kampus nantinya dapat mengarahkan mahasiswa yang berkompeten untuk mengikuti kompetisi tersebut dan akan meningkatkan prestasi kampus. “Kemudian begitu menang itu (lomba MTQ, red.) akan memberikan nilai untuk akreditasi. Jadi ini rencana strategik yang sangat panjang sebetulnya,” jelas Venus.

Menurutnya, ketentuan minimal menghafal lima juz karena dianggap jumlah yang banyak dan luar biasa. “Lima juz sudah banyak sekali, itu bagi kita prestasi. Tentu jika ada orang yang menghafal 10 juz atau 20 juz itu lebih-lebih lagi akan jadi prioritas di sini,” lanjutnya.

Mengenai polemik bahwa UPNVJ cenderung favoritisme terhadap agama islam, Venus mengatakan untuk saat ini tradisi penghafalan kitab suci yang diketahui baru agama islam saja. Pihak kampus akan membuka diri jika terdapat penyesuaian dengan agama-agama lain agar diterapkan di SEMA mendatang.

Sama halnya dengan Hafidz Quran, kriteria Ketua OSIS juga menjadi jalur prestasi yang inovatif di UPNVJ. Pihak kampus menganggap Ketua OSIS memiliki kemampuan kepemimpinan (leadership) yang tinggi.

UPNVJ memiliki kualifikasi untuk menyeleksi ini, tentu yang diprioritaskan merupakan calon mahasiswa dari sekolah-sekolah akreditasi tertinggi sesuai data sekolah di Pangkalan Data Sekolah dan Siswa (PDSS) dan beberapa faktor lain yang tak disebutkan Venus. “Bapak tidak bisa berbicara mengenai kriteria penilaiannya karena itu rahasia kampus, ada aturannya,” ujar Venus.

“Yang jelas, nanti sekolah yang peringkat A lebih prioritas daripada yang sekolah peringkat B atau C,” ujarnya lagi.

Respons Sivitas Akademika

Sejak dipublikasi secara terbuka melalui website, perundingan kebijakan SEMA jalur prestasi ini hanya berkisar di meja rektorat tanpa melibatkan pihak dosen dan mahasiswa. Salah satu dosen Ilmu Hubungan Internasional Rizky Himawan mengatakan pihaknya tak terlibat. “Kami pihak dosen tidak dilibatkan karena itu sudah menjdi wewenang dari rektorat,” ujar pria yang akrab disapa Rezzy itu.

Meski begitu, Rezzy mengapresiasi langkah rektorat tersebut selama masih dalam konteks positif. “Artinya jika ia (YouTuber, red.) diikuti untuk suatu hal yang positif, untuk hal yang baik, dan bukan untuk perkara-perkara remeh, maka itu adalah suatu hal yang positif yang justru harus kita apresiasi,” ujar Rezzy kepada ASPIRASI pada Jumat, (14/6) lalu.

Menanggapi hal tersebut, Rektor UPNVJ Erna Hernawati mengungkapkan bahwa tidak semua kebijakan melibatkan dosen dan mahasiswa. “Untuk hal tertentu mungkin perlu ada keterlibatan mahasiswa dan dosen, tapi ada yang cukup (dirapatkan, red.) di level pimpinan atau bahkan ada keputusan yang menjadi pregroratif rektor,” ungkapnya.

Menurut Rezzy, jika langkah yang pihak rektorat lakukan ini untuk mengangkat nama kampus, alangkah lebih baik bila dilakukan dengan cara menghasilkan lulusan yang mampu diserap secara maksimal oleh masyarakat.

Dengan menghasilkan lulusan-lulusan yang mampu berkarya untuk masyarakat dan menghasilkan karya-karya publikasi ilmiah serta mampu bekerja di perusahaan atau instansi pemerintahan. “Itu yang harus kita dorong untuk menjadikan kampus ini semakin maju dan terkenal, bukan hanya mendompleng,” tegasnya.

Ia juga mewanti bahwa konten yang diproduksi harus berkaitan dengan kemajuan akademik, bukan untuk hal lain seperti komoditas hiburan atau hanya mencari ketenaran. “Harus bisa membedakan bahwa kampus itu adalah ranah akademik. Dan ranah akademik itu tidak bisa dijadikan suatu komoditas hiburan. Apalagi kalau hanya ditujukan untuk mencari ketenaran, mengangkat nama kampus,” katanya.

Hal penting lainnya adalah tidak ada kaidah bisnis di sini. “Semua pihak harus diuntungkan, mendapat kemanfaatan. Bukan hanya menguntungkan satu pihak semata,” ungkapnya.

Rezzy pun menyampaikan bahwa YouTuber tentu memiliki kecerdasan yang cukup tinggi karena mampu memanfaatkan momen dan situasi. Namun, lagi-lagi, ia menekankan pada penyuguhan konten.

Menurutnya akan lebih efektif jika dimulai dengan memanfaatkan sumber daya yang sudah ada seperti YouTuber dikalangan mahasiswa UPNVJ. Kemudian mereka dikembangkan atau dijadikan Ambassador atau tim humas dari kampus jika tujuannya untuk mendongkrak atau ingin mendorong nama UPNVJ. Mereka yang berpotensi dapat dikembangkan misalnya dengan cara mengadakan kompetisi konten-konten digital ditiap prodi.

Tak hanya pihak dosen, Ketua MPM Restu Maulidiya UPNVJ pun mengaku pihak MPM sama sekali tidak mendapat pemberitahuan dari pihak kampus mengenai jalur Youtube Content Creator tersebut. Namun pihak MPM akan mengadakan agenda untuk mengkritisi hal tersebut pada rektorat.

Demikian pula dengan pihak BEM UPNVJ yang sama sekali tak terlibat dalam merundingkan masalah ini. Ketua BEM UPNVJ Belly Stanio menilai seharusnya pihak kampus melibatkan mahasiswa dalam konteks yang berhubungan dengan kemahasiswaan.

Kedua organisasi elit di lingkungan kampus ini juga menyoal informasi sumir yang dibagikan di website resmi UPNVJ pada 11 Juni 2019. Sebab, hanya mencantumkan kriteria YouTuber Content Creator dengan 10.000 subscriber tanpa informasi spesifik. Setelah menjadi cibiran pro dan kontra oleh warganet akhirnya pihak kampus menginfokan kriteria ini lebih lengkap pada 15 Juni 2019.

Menurut Belly, jika seandainya pihak kampus mau menginformasikan kepada BEM lebih awal, pastinya mahasiswa akan memberi masukan terkait kelengkapan publikasi dan dapat meminimalisir misinformasi.

Harapan Untuk Mahasiswa SEMA Jalur Prestasi UPNVJ

Rezzy berharap agar mahasiswa ‘YouTuber’ ini tak pincang dalam nilai akademik. Ia juga menekankan pada nilai manfaat dari konten yang diproduksi. “Mengenai kontennya, apakah itu bermanfaat bagi masyarakat atau tidak. Dan terakhir, lebih kembangkan lagi tim humasnya, sama berdayakan artis selebgram (selebriti di Instagram, red.) yang sudah ada,” saran Rezzy.

Salah satu mahasiswa UPNVJ jalur mandiri tahun lalu, Puspitaning Wanudya, juga menyampaikan harapannya agar calon mahasiswa yang mendaftar jalur prestasi, khususnya lewat kriteria YouTube Content Creator, dapat terus menghasilkan konten video yang bagus dan bermanfaat sehingga dapat membanggakan universitas kedepannya.

“Semoga diperkembangan IPTEK yang terus maju ini (universitas, red.) bisa menghadapinya dengan baik, entah membuat solusi-solusi atau berinovasi supaya bisa mencetak lulusan-lulusan terbaik,” ujar Puspitaning.

Reporter: Myranda Fae, Ikhwan Agung. |Editor: Firda Cynthia

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *