Antara Tragis dan Keteguhan Hidup


Antara Tragis dan Keteguhan Hidup

Judul Buku : Midah Simanis Bergigi Emas
Penulis : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit : Lentera Dipantara
Tebal : 132 Halaman

Kisah Midah yang mengalami gejolak penderitaan dalam hidupnya. Dimulai dari gejolak batin perihal keagamaan, musik, hingga percintaan. “Manusia tidak boleh menyerah pada kelelahan,” ucap Midah.

Midah, wanita cantik nan manis yang digambarkan oleh Pramoedya (Pram) sebagai sosok yang tak mudah menyerah dengan nasib hidup. Pada awalnya Midah merupakan sosok yang berasal dari keluarga terpandang, taat beragama, dan berkucukupan. Namun itu semua berubah ketika ia memiliki adik yang banyak dan mengalami gejolak kepahitan dalam hidupnya yang berdampak pada kehidupan keluarganya juga. Pram menyuguhkan alur cerita dengan menampilkan sosok Midah dengan ekspresi kepedihan hidup yang dibalut dengan kondisi raga yang cantik dan teguh dalam menghadapi kepahitan hidupnya.

Awal mula pergolakkan batin Midah terjadi ketika kelahiran adiknya. Sejak kelahiran sang adik, Midah tidak lagi mendapatkan perhatian khusus dari bapak dan emaknya, akhirnya Midah mencari tempat pelarian agar bisa memperoleh ketenangan batinnya dan ditemukanlah rombongan keroncong yang menjadi tempat berlabuh batinnya dengan tenang.
Akhirnya Midah membeli piringan musik yang berisi lagu-lagu keroncong, yang dengan cepat ia hafal lirik demi liriknya.

Namun apa daya, sang Bapak sangat marah dan memakinya dengan kalimat, “musik haram” ketika mendapati Midah menyanyi dan membeli piringan music kroncong tersebut. Ditamparlah Midah dengan penuh kemarahan dan membanting piringan musik tersebut hingga terbelah dua. Peristiwa ini merupakan gelombang besar dari pergolakan batin Midah yang menjadi saripati awal dari pergolakan batin Midah.

Memasuki fase puncak dari gejolak batin yang dialami oleh Midah, ia dijodohkan dengan tokoh terpandang dan taat beragama bernama Haji Trebus. Midah akhirnya mengandung seorang anak didalam janinnya. Namun ia merasa tak sanggup lagi menahan diri dari suaminya. Sejak awal pernikahan ia dan Haji Trebus berasal dari perjodohan, ditambah Haji Mudah memiliki banyak istri yang tersebar diberbagai wilayah. Akhirnya Midah kabur dari rumah dan mencoba mencari ketenangan batin dengan mencari grup rombongan keroncong untuk diikuti.

Midah pamit dalam keadaan mengandung, kini ia memilih hidup dijalan sebagai pengamen keroncong yang ingin mengabdi kepada kenikmatan, kegirangan, dan keriahan tingkah keroncong. Midah kemudian bergabung dengan rombongan keroncong yang ditemuinya di wilayah Senen. Disanalah ia mendapat sebutan Simanis.

Disanalah Midah memulai fase kehidupan untuk memulai kepahitan hidup dijalan. Dalam hari pertamanya ketika Midah menginap bersama rombongan-rombongan, Midah mendapat perlakuan tidak manusiawi. Ia hampir dinodai kehormatannya dengan dikerumuni oleh laki-laki rombongan keroncong untuk melampiaskan hasrat nafsu seksual mereka. Pada bagian inilah Pram menggambarkan keteguhan hati Midah untuk melawan para laki – laki ganas yang ingin menodai Midah. Midah melawan dengan sedemikian kuat dan berpegang teguh kepada bayinya agar tidak dinodai harkat dan martabatnya sebagai seorang wanita.

Keteguhan hati Midah untuk mempertahankan harkat dan martabatnya sebagai seorang wanita mampu melawan keganasan laki-laki tersebut dengan dibantu oleh kepala rombongan keroncong. Midah mulai menyanyi rombongan dari restoran satu ke retoran lainnya, sebagai penyanyi keroncong Midah memang begitu dihinakan. Padahal mereka hanya membagi keriangan kepada pendengar dan minta perhatian dari pendengar dengan sedikit penghargaan.
Lama kelamaan kandungan Midah sudah mulai membesar. Pram kembali menggambarkan sosok Midah yang kuat dalam menghadapi kepahitan hidup dan mampu melewati tragisnya hidup, dengan ucapannya, “manusia tidak boleh menyerah pada kelelahan.”

Ditengah kandungan Midah yang sudah mencapai puncaknya, Midah mencari rumah bersalin. Midah sempat ditolak di beberapa rumah sakit karena anak yang dikandung Midah dianggap sebagai seorang anak haram yang tak punya bapak. Sekali lagi, Pram menggambarkan Midah sebagai sosok yang kuat, dan mampu mendobrak kepahitan hidup dengan caranya sendiri.

Midah akhinya mendapat rumah bersalin untuk melahirkan anak tersayangnya. Midah sempat mendapatkan perlakuan diskriminatif dari perawat rumah sakit karena menganggap Midah sebagai sosok miskin bahkan hampir saja menolak Midah dengan mengatakan bahwa ruangan di rumah sakit tersebut sudah terisi penuh semuanya.

Pram menggambarkan sebuah kondisi yang realitasnya masih relevan dengan keadaan saat ini. Di masa kontemporer saat ini, rakyat miskin masih banyak yang mendapatkan perlakuan diskriminatif karena dianggap tak mempunyai uang dan dikucilkan. Padahal sejatinya hak untuk memperoleh kesehatan adalah hak dasar bagi setiap warga negara.

Setelah bayi Midah lahir, dan sudah waktunya untuk dibawa pulang, Midah kembali harus menerima kepahitan hidup. Kain yang membukus badan anak Midah harus dilepas, karena merupakan kepunyaan rumah sakit. Selanjutnya Midah membawa anak laki-lakinya tersebut dalam keadaan telanjang diatas trem tanpa memiliki destinasi tujuan selanjutnya.

Dalam perjalannya menggunakan trem, Midah kebingungan untuk mencari tempat berlindung dia dengan anaknya. Midah selanjutnya memutuskan untuk kembali ke tempat penginapan rombongan keroncongnya. Midah sempat mendapatkan penolakan dari anggota rombongan keroncong karena dianggap tidak berguna dan tidak bisa bekerja jika ia membawa anaknya ketika bernyanyi. Lantas ia meyakinkan anggota rombongan orkes, kalau dirinya mampu bekerja sambil menggendong bayinya.

Midah kemudian bertemu dengan sosok laki-laki baik bernama Ahmad. Ahmad bahkan menawarkan Midah tempat tinggal dan bernyanyi di sebuah radio kota. Midah menerima tawaran Ahmad untuk menginap dan menyanyi di radio. Benih-benih cinta perlahan tumbuh di antara dua insan ini. Midah mendapat ketenangan hidup ketika berada disamping Ahmad. Akhirnya Midah terbawa kedalam arus hasrat seksual bersama Ahmad yang semakin dalam. Benteng pertahanan Midah seakan-akan runtuh karena cinta yang menggebu-gebu. Midah masuk kedalam pusaran hasrat seksual bersama Ahmad dan terus menerus semakin masuk kedalam.

Midah memberitahukan bahwa ia mengandung anak hasil hubungannya dengan Ahmad. Ahmad kaget bukan kepalang, ia tidak mau mengakui anak yang bberada dikandungan Midah bukan merupakan anakanya. Midah kembali harus menghadapi pahitnya kenyataan hidup.

Tak Hanya Midah

Dalam novel ini, Pram tidak hanya menggambarkan sosok Midah belaka. Disisi lain, Pram juga ingin menggambarkan kebusukan kaum moralis lewat tokoh Haji Trebus. Haji Trebus merupakan sosok yang taat beragama dan bercukupan, namun tetap tak lepas dari topeng yang menyembunyikan kebusukannya. Haji Trebus hanya sosok taat agama yang digambarkan lewat penampilan duniawinya saja, tanpa melihat tata kelakuannya. Bagaimana tidak, haji Trebus sering kali mempermainkan wanita dengan memiliki istri yang sangat banyak, termasuk Midah. Bahkan ketika Midah kabur dari rumah, Haji Trebus tidak mencari Midah sebagai istri sahnya. Pram kembali menggambarkan sebuah kondisi yang masih relevan dengan kehidupan saat ini.

Pram juga menggambarkan sosok Haji Abdul sebagai seseorang yang rajin berzikir tapi miskin citra kemanusiaan. Bagaimana Haji Abdul dengan mudahnya menyakiti Midah hanya karena mendegarkan musik yang dianggapnya haram. Haji Abdul juga digambarkan sebagai sosok yang boros dan rakus, ia pun kehilangan harta bendanya.

Pada akhir buku, Pram menggambarkan Haji Abdul dengan kembali mendapatkan kesejatian hidup manusia. Haji Abdul kembali mendapatkan ketenangan hidup dengan jalan tasawuf mendekatkan diri kepada sang Tuhan, tanpa melupakan citra kemanusiaan. Diakhir cerita, Pram menggambarkan sosok Haji Abdul menjadi sosok yang lebih bijaksana dan menekankan nilai kemanusiaan dengan berpikir terbuka.

Novel setebal 132 halaman ini sarat akan nilai moral kehidupan. Bagaimana Pram dengan bahasanya yang khas mampu menghadirkan novel ringan dengan penuh kepahitan hidup nan tragis tanpa meninggalkan nilai keteguhan hidup yang tak mudah menyerah dengan nasib hidup. Banyak nilai dalam novel yang masih relevan dengan kehidupan saat ini, yang menandakan bahwa karya Pram tak pernah lekang dengan ketertinggalan zaman.

Karena sejatinya Manusia tidak boleh menyerah pada kelelahan!

Penulis: M. Faisal Reza.| Editor: Firda Cynthia

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *