Keterlibatan mahasiswa dalam rangkaian Pilrek UPNVJ periode 2026—2030 dinilai belum optimal. Minimnya sosialisasi dan akses mahasiswa untuk menyampaikan aspirasi secara langsung menjadi sorotan di tengah berlangsungnya rangkaian pemilihan. Di sisi lain, panitia menyebut keterlibatan mahasiswa secara langsung terkendala oleh kapasitas ruang yang tersedia.
Aspirasionline.com — Rangkaian Pemilihan Rektor (Pilrek) Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta (UPNVJ) periode 2026—2030 telah melewati tahapan penyampaian visi dan misi bakal calon rektor. Namun, keterlibatan mahasiswa dalam rangkaian tersebut dinilai belum berlangsung secara maksimal.
Caesar Khalifah, Mahasiswa Ilmu Politik, menilai penyebaran informasi Pemilihan Rektor UPNVJ melalui media sosial dan situs resmi belum menjangkau mahasiswa secara luas. Menurutnya, keterbatasan penyebaran informasi tersebut membuat kesadaran mahasiswa terhadap pemilihan rektor belum terbangun, padahal hasil pemilihan rektor akan menentukan arah UPNVJ ke depannya.
“Kalau dariku sendiri, sebetulnya belum (menjangkau mahasiswa), pasti sangat belum. Aku rasa pada akhirnya ketika informasinya belum tersebar secara luas, Awareness (kesadaran) dari mahasiswa ataupun kema (keluarga mahasiswa) itu juga belum terpantik sepertinya,” ujar Caesar saat diwawancarai oleh ASPIRASI pada Kamis, (6/8).
Terbatasnya Akses Informasi dan Ruang Aspirasi Mahasiswa
Caesar mengatakan informasi mengenai rangkaian pemilihan rektor yang diterimanya sejauh ini berasal dari Humas UPNVJ dan media sosial. Namun, ia bilang informasi tersebut belum disosialisasikan secara luas kepada mahasiswa.
Menurutnya, keterbatasan penyebaran informasi juga terlihat dalam pemaparan visi dan misi bakal calon rektor. Mahasiswa yang bukan panelis hanya dapat mengikuti kegiatan melalui siaran langsung yang disediakan panitia.
“Aku sebetulnya menanyakan apakah ada kuota untuk teman-teman BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) ataupun dari kema untuk bisa hadir (pemaparan visi dan misi). Ternyata, memang kalau untuk mahasiswa yang bukan panelis bisa nonton hanya dari live streaming (siaran langsung) YouTube,” ujar Caesar.
Selaras dengan hal tersebut, Muhammad Fadhel Rachman, Mahasiswa Teknik Mesin, turut menilai penyebaran informasi yang disampaikan belum maksimal.
Ia mengatakan informasi melalui media sosial memang dapat menjangkau mahasiswa, tetapi penyebarannya dinilai terlalu berdekatan dengan waktu pelaksanaan kegiatan.
“Ya, kalau menjangkau (mahasiswa) tadi saja, sih. Berangkat dari penyebaran informasinya yang mungkin masih terbilang mepet ataupun belum dari jauh-jauh hari (pelaksanaan),” ujar Fadhel saat diwawancarai oleh ASPIRASI pada Kamis, (13/8).
Selain soal penyebaran informasi, Luthfi Iwayana, mahasiswa Teknik Perkapalan, juga mempersoalkan bagaimana minimnya ruang bagi mahasiswa untuk menyampaikan aspirasi.
Menurutnya, ruang yang tersedia belum cukup karena tidak memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk berkomunikasi secara langsung dengan bakal calon rektor.
“Jadi, maksud saya itu (menyampaikan aspirasi) ada ruang, cuma ruang itu terlalu terbatas, bukan tidak ada, ya. Terlalu terbatas dan tidak direct (langsung) dari mahasiswa ke (calon) rektor,” ujar Luthfi kepada ASPIRASI pada Jumat, (14/8).
Akui Sosialisasi Belum Masif, Panitia Ungkap Keterbatasan Ruang
Ketua Pelaksana Pemilihan Rektor UPNVJ periode 2026—2030, Silvia Anggraeni, mengatakan bahwa panitia telah menyediakan ruang bagi civitas academica, termasuk mahasiswa, untuk mengajukan satu pertanyaan kepada bakal calon rektor menggunakan alamat email resmi UPNVJ.
Silvia menyebut, mekanisme pengumpulan pertanyaan tersebut merupakan inisiatif baru dalam pelaksanaan Pemilihan Rektor 2026—2030 karena pada periode sebelumnya, pertanyaan mahasiswa disampaikan melalui perwakilan panelis.
Namun, sosialisasi mengenai hal tersebut belum dilakukan secara efektif dan menyeluruh kepada mahasiswa karena penyebaran informasi dilakukan melalui pesan WhatsApp.
“Kalau sosialisasi, secara resmi memang belum (dilaksanakan). Jadi, kita (panitia) kemarin sosialisasinya pakai japri (pesan pribadi) WhatsApp,” ujar Silvia saat diwawancarai oleh ASPIRASI pada Kamis, (13/8).
Terkait keterbatasan mahasiswa untuk hadir secara langsung dalam pemaparan visi dan misi, Silvia menjelaskan bahwa daftar undangan telah ditetapkan berdasarkan ketentuan Senat UPNVJ. Selain itu, kapasitas Auditorium Bhinneka Tunggal Ika (BTI) disinyalir menjadi salah satu pertimbangan mengapa panitia tidak dapat mengundang seluruh mahasiswa untuk hadir di lokasi.
“Jadi, sebenarnya undangan itu juga terbatas karena satu, gedung. Kita kebetulan UPNVJ punya gedungnya gede itu dalam tempat, ya, di BTI. Nah, di BTI itu tempatnya terbatas,” jelas Silvia.
Meski demikian, panitia telah menyediakan alternatif berupa siaran langsung melalui YouTube, videotron, dan televisi bagi civitas academica yang tidak hadir secara langsung dalam pemaparan visi dan misi calon bakal rektor.
Mengenai akses siaran langsung yang belum dilakukan secara maksimal, informasi mengenai tahapan Pemilihan Rektor dan dokumen terkait calon bakal rektor memang telah tersedia melalui laman UPNVJ, tetapi sosialisasi yang lebih masif masih diperlukan agar dapat diketahui mahasiswa secara luas.
“Memang terkendala masalah tadi, ya. Bahwa sosialisasinya mungkin perlu lebih masif. Itu mungkin ke depannya, ya. Ke depannya sosialisasinya perlu lebih masif, termasuk tadi misalnya sosialisasi link (tautan) YouTube,” pungkas Silvia.
Reporter : Siti
Editor : Khaila Adinda
Ilustrasi : ASPIRASI/Reisha
