Kusemburkan amarah murka,
tepat di muka-muka berdosa.
Kupintal awan menjadi kelabu,
agar buta pandangan kalian
yang tak henti menganiayaku.
Kalian menyulap hamparan hijau,
demi petak lahan pengeruk keserakahan.
Makanlah! Telanlah!
Makan napas yang kau sembelih,
dari pohon-pohon yang ribuan tahun
kokoh berdiri.
Gajah tergopoh berlari,
mengejar selamat dari nyalanya api.
Induk ular meliuk,
memeluk telur-telur malangnya.
Apakah pertiwi ini hanya diciptakan
untuk kalian, anak manusia?
Bukankah ini juga bumi kami?
Kini, mereka tulis ini sebab el nino,
mereka lupa,
jemari merekalah yang menyulut api amarah murka,
membangkitkan gelombang nestapa.
Sebab angin gersang,
tak menyebabkan kijang kehilangan,
tak menyebabkan burung berterbangan
dengan kebingungan,
tak berakibat kepada maut,
perihal maut, merekalah yang menjemput.
Kini, semua menjadi lautan api,
sedang pemimpin negeri masih sibuk sendiri,
wara-wiri sambangi semua,
kecuali tanah yang sudah berapi-api.
Melenggang pada pesta
yang dibuat megah,
berlenggang seolah paru bumi
sirna bukan masalah.
Negeri-negeri seberang berdatangan,
barangkali melihat kartu merah
yang kulayangkan,
Cepat, tepat, sebelum si pengrusak
hadir di saat yang sudah terlambat.
Hidupku telah tamat.
Barangkali negeri ini memang tidak butuh napas yang hangat—
atau kita memang tak pernah punya juru selamat.
Penulis: Sammanda
Editor: Zillah
Foto: @bandung.banget
