Mahasiswa Soroti Beban Tambahan dalam Rangkaian Voyage FISIP

CategoriesBerita UPNTagged , ,

Pelaksanaan Voyage sebagai rangkaian dari PKKMB FISIP UPNVJ menuai keberatan dari sejumlah mahasiswa baru. Kegiatan yang diklaim sebagai sarana adaptasi dan pengenalan organisasi itu, dinilai menambah beban baik finansial maupun penugasan. 

Aspirasionline.comSosialiasi pelaksanaan Voyage Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta (UPNVJ) yang diadakan pada Minggu, (2/8) menuai keberatan dari sejumlah mahasiswa baru. Sebagai bagian dari rangkaian Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru Fakultas (PKKMBF), Voyage dinilai membebani peserta melalui biaya tambahan dan penugasan.

Hal ini dirasakan oleh mahasiswa baru Program Studi (Prodi) Ilmu Komunikasi, Asa (bukan nama sebenarnya), mengaku keberatan dengan adanya pengeluaran tambahan yang harus dikeluarkan untuk mengikuti kegiatan tersebut. 

Menurutnya, biaya yang kembali dibebankan kepada mahasiswa cukup memberatkan, terlebih setelah sebelumnya mereka mengeluarkan sejumlah biaya untuk kebutuhan PKKMB.

“Jujur keberatan, sih, Kak. Soalnya udah banyak pengeluaran juga, dan bagi aku tuh bayar Rp60 ribu tuh agak sulit gitu, lo. Soalnya juga di paket ini juga ada kartu provider (penyedia layanan) buat XL gitu, sedangkan saya tuh enggak butuh banget gitu, lo,” kata Asa saat diwawancarai ASPIRASI via Google Meet pada Senin, (3/8).

Selain persoalan biaya, Asa juga menilai penjelasan panitia mengenai paket bundling yang ditawarkan masih belum jelas. Ia mengatakan, pertanyaan mahasiswa terkait fungsi kartu SIM yang termasuk dalam paket tersebut hingga kini belum mendapatkan jawaban yang pasti. 

Temen aku juga ada yang bertanya seperti itu (paket bundling), cuma jawabannya, tuh, masih didiskusikan doang, sih, bilangnya. Saya juga sudah menanyakan lagi terkait hal tersebut gitu, lo, dan sampai sekarang juga belum dijawab, sih,” jelas Asa.

Senada dengan Asa, mahasiswa baru prodi Hubungan Internasional, Talitha Anindya Putri, menekankan keberatannya pada kewajiban pembelian paket Voyage seharga Rp60 ribu atau membuka rekening. 

“Kegiatan Voyage ini juga cukup memberatkan untuk beberapa dan mungkin banyak mahasiswa, karena ternyata kita harus mengeluarkan uang lagi untuk antara membeli kit (paket) seharga Rp60 ribu atau kita harus membuka akun bank satu lagi dan juga kemarin, sih, ditegaskan kalau sifatnya ini wajib,” ujar Thalita kepada ASPIRASI melalui Google Meet pada Senin, (3/8).

Selain Biaya Tambahan, Penugasan Turut Dinilai Memberatkan

Di samping persoalan biaya, Thalita menilai respons panitia terhadap kritik mahasiswa belum menjawab persoalan yang mereka sampaikan. Ia mengatakan, mahasiswa sebenarnya tidak mempersoalkan apakah Voyage bersifat wajib atau tidak, melainkan mempertanyakan alternatif yang dapat diberikan bagi peserta yang tidak mampu membeli paket maupun membuka rekening baru. 

Alih-alih memperoleh jawaban mengenai solusi tersebut, mahasiswa justru kembali mendapat penegasan bahwa Voyage merupakan kegiatan wajib sebagai bagian dari pemenuhan Surat Keterangan Pendamping Ijazah (SKPI). 

“Tidak ada yang mempertanyakan ini wajib atau tidak. Kita mempertanyakan solusinya bagaimana untuk mahasiswa yang memang tidak mampu untuk membayar atau membeli kit dan membuka bank tersebut,” ungkapnya.

Selain itu, Thalita juga menilai Voyage menambah beban penugasan yang telah diterima mahasiswa selama rangkaian PKKMB. Ia menyoroti kewajiban membuat video dalam kegiatan Voyage, padahal sebelumnya mahasiswa telah memperoleh sejumlah tugas serupa.

Baginya, ketentuan tersebut belum sepenuhnya mempertimbangkan kondisi mahasiswa yang memiliki keterbatasan perangkat maupun telah dibebani berbagai penugasan, terlebih Voyage diperkenalkan sebagai kegiatan yang bersifat lebih informal.

“Kesannya enggak aware (peka), lah, enggak concern (perhatian) sama teman-teman yang mungkin device (perangkat)-nya enggak memadai atau udah cukup banyak tugas yang diberikan, apalagi dengan ketentuan atau informasi bahwa Voyage ini bersifat informal,” tutur Thalita.

Thalita turut kembali menegaskan kendala terbesar dalam pelaksanaan Voyage tetap berada pada aspek finansial. Ia menyebut keluhan mengenai biaya tambahan telah disampaikan oleh banyak mahasiswa baru.

Menurutnya, kekhawatiran tersebut muncul karena setiap kritik mengenai beban biaya masih direspons dengan penegasan bahwa Voyage merupakan kegiatan wajib.

“Itu menjadi concern (perhatian) bagi banyak teman-teman kenapa Voyage ini untuk masalah finansialnya dan pembelian barang dan pembukaan bank ini sifatnya terkesan koersif, ya, kalau bisa dibilang, karena lagi-lagi ketika dikritik selalu ditegaskan wajib,” katanya. 

Panitia Sebut Voyage Jadi Wadah Adaptasi dan Eksplorasi Organisasi

Kendati menyampaikan berbagai kritik terhadap pelaksanaan Voyage, Thalitha menilai kegiatan tersebut memiliki tujuan yang baik sebagai sarana memperkenalkan budaya FISIP, organisasi kemahasiswaan, serta membangun relasi antarmahasiswa baru. Ia berharap pelaksanaannya dapat lebih mencerminkan tujuan tersebut. 

“Kalau memang tujuannya itu adalah untuk memperkenalkan dan menjadi sarana untuk membentuk relasi, alangkah baiknya pelaksanaan kegiatan ini juga bisa, lo, mencerminkan nilai tersebut. Karena kegiatan pengenalan organisasi ini harusnya bisa menjadi ruang diskusi, menjadi ruang yang inklusif, dan tidak menimbulkan kekhawatiran,” pungkasnya. 

Menanggapi hal tersebut, Vice Project Officer (VPO) Voyage FISIP, Fadia Dwi Novri, menjelaskan bahwa Voyage memang dirancang sebagai pelengkap rangkaian PKKMB yang berfokus pada pengenalan organisasi kemahasiswaan serta pengembangan minat dan bakat mahasiswa baru. 

“Di PKKMB itu ada rangkaian yang bersifat akademik, nantinya di sini kita membantu mahasiswa baru untuk berupaya beradaptasi mengenai peluang dari mereka untuk mengembangkan potensi diri mereka dan juga minat dan bakat mereka melalui eksplor ini bersama KSM (Kelompok Studi Mahasiswa) dan Ormawa (Organisasi Mahasiswa) yang ada di Voyage FISIP,” ungkap Fadia kepada ASPIRASI lewat Google Meet pada Selasa, (4/8).

Fadia juga mengatakan bahwa panitia telah menerima berbagai kritik dan aspirasi mahasiswa baru dan akan menindaklanjuti seluruh masukan tersebut melalui penanggung jawab bagian keamanan Voyage.

“Beberapa sudah kami tindak lanjuti dan nanti kedepannya akan coba kami breakdown (analisis) lagi poin-poin penting yang masih belum kita proses lebih lanjut. Nantinya PIC (Person In Charge) Keamanan dari Voyage itu akan berupaya memfasilitasi dari aspirasi mahasiswa baru yang mungkin lebih pribadi atau seperti apa,” bebernya.

Mengenai keberatan finansial, Fadia menyebut panitia tengah menyiapkan mekanisme bantuan bagi mahasiswa yang mengalami keterbatasan ekonomi. Sejumlah alternatif, termasuk kemungkinan penyesuaian harga, masih dibahas sebelum diumumkan kepada peserta. 

“Terkait mahasiswa yang ekonominya kurang, itu nantinya akan kami bantu untuk solusinya. Mungkin ada pengurangan harga ataupun seperti apa, nanti kami bakalan informasikan terhadap mahasiswa baru tersebut,” pungkasnya.

Hingga wawancara dilakukan, panitia belum menggelar sosialisasi lanjutan mengenai mekanisme tersebut. Berdasarkan penuturan Fadia, panitia masih menghimpun aspirasi melalui mentor dan PIC Keamanan sebelum menyampaikan keputusan kepada seluruh mahasiswa baru. 

 

Ilustrasi : Ghasya

Reporter : Ghasya | Editor : Tia

About the author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *