Legenda Nyi Roro Kidul (Kandita) kembali dihidupkan melalui pementasan Mantra Cinta Kandita yang digarap oleh TERAS. Pertunjukan ini menyajikan nuansa magis yang kuat lewat musik, tarian, dan dialog berbahasa Jawa.
Aspirasionline.com – Teater Anak Nusantara (TERAS) kembali membawakan cerita rakyat bertajuk Mantra Cinta Kandita melalui sebuah pementasan yang digelar pada Sabtu, (29/11) di Gedung Kesenian Jakarta, Pasar Baru, Jakarta Pusat.
Mengangkat kisah mitologi Ratu Penguasa Laut Selatan, TERAS menyuguhkan pementasan ini lengkap dengan unsur-unsur yang melekat pada legenda tersebut.
Berdasarkan pantauan ASPIRASI, pementasan ini menghadirkan suasana mistik melalui alunan musik tradisional khas Jawa yang menggema serta tarian-tarian para pemeran yang semakin memperkuat nuansa tersebut.
Sutradara pentas Mantra Cinta Kandita, Indra Wahyudi yang akrab disapa Onga, mengungkapkan bahwa kemampuan menyanyi menjadi aspek utama dalam pemilihan pemeran untuk karakter utama Kandita.
“Karena ada beberapa lagu yang dinyanyikan sama si Kanditanya. Jadi kita (pemeran) utamanya dia harus bisa nyanyi,” ungkap Onga kepada ASPIRASI pada Sabtu, (29/11).
Bahasa dan Ekspresi jadi Tantangan dalam Menghidupkan Cerita Mantra Cinta Kandita
Tidak hanya menuntut kemampuan vokal, tetapi juga kesiapan pemeran untuk mendalami unsur-unsur tradisi dalam naskah. Hal ini turut mewarnai proses pementasan Mantra Cinta Kandita. Syifa Aulia Triandrini, pemeran Kandita, mengaku bahwa hafalan nyanyian dan dialog mantra berbahasa Jawa menjadi tantangan tersendiri.
“Banyak menggunakan bahasa Jawa, mantra, dan sinden, jadi mungkin tantangannya ada di situ,” ungkap Syifa kepada ASPIRASI melalui Google Meet pada Rabu, (3/12).
Selain banyaknya dialog berbahasa Jawa yang belum dikuasai, Syifa juga menambahkan bahwa ia juga menghadapi tantangan lainnya yaitu beberapa gerakan tarian yang harus dibawakan. Namun, meski menjadi satu tantangan, hal tersebut tidak menjadi hambatan karena mendapatkan pendampingan dari para panitia.
“Ada beberapa juga pakai gerakan tarian, tapi pastinya tetap dibantu sama kakak-kakak panitianya juga. Jadi, tantangan bukan kesulitan,” jelasnya.
Tantangan lainnya turut dirasakan oleh Dyandra Canna, selaku bagian dari peran ensemble (penari). Dirinya mengaku bahwa ini merupakan teater pertamanya sehingga cukup sulit untuk mendalami peran.
“Jadi, yang aku tantangan itu kayak gimana ya caranya biar aku mendalami peran ini gitu,” ungkap Dyandra kepada ASPIRASI pada Sabtu, (29/11).
Dyandra juga menjelaskan bahwa bagian tersulit dalam mendalami perannya yaitu terletak pada pengaturan ekspresi wajah. Nuansa mistis sangat melekat pada cerita ini, sehingga ekspresi wajah harus terlihat seram agar penonton dapat merasakan aura mistis tersebut.
“Gimana sih enaknya biar aku kelihatan kalau ini tuh seram gitu, biar penonton kerasa ini tuh mistis gitu,” jelasnya.
Baginya, sebagai ensemble bukan hanya menari di atas panggung. Namun, bagaimana cara agar setiap gerakan yang dia bawakan memiliki makna yang tersampaikan kepada penonton.
“Jadi enggak boleh asal gerak doang gitu, harus ada pesan yang mau disampaikan,” terang Dyandra.
Proses Produksi di Balik Panggung Mantra Cinta Kandita
Setiap detail yang terlihat di atas panggung bukan hadir begitu saja. Setelah para pemeran menghadapi tantangan dalam pendalaman karakter, proses panjang dari tim produksi menjadi fondasi utama pementasan Mantra Cinta Kandita.
Onga menjelaskan TERAS selalu mengadakan rapat satu tahun sebelum pementasan untuk menentukan cerita yang akan dipentaskan. Cerita yang dipilih merupakan cerita yang masih relevan dengan situasi dan juga tren pada tahun tersebut.
“Biasanya kita meeting untuk nentuin cerita itu H-satu tahun. Jadi seperti sekarang nih, setelah Mantra Cinta Kandita, kita udah mikirin tuh tahun depan kita mau bikin apa,” jelasnya.
Dibungkus dalam balutan genre nusantara, TERAS memperlihatkan aspek budaya melalui penggunaan logat khas daerah yang disesuaikan dengan cerita yang dibawakan. Bukan hanya dari bahasanya, namun juga melalui gaya bicara yang disesuaikan dengan nuansa ceritanya.
“Yang pertama TERAS itu selalu senang main logat. Jadi bukan bahasa, tapi cara ngomongnya aja yang kita mirip-miripkan,” jelas Onga.
Onga menjelaskan bahwa untuk pementasan besar bulan November, produksinya dilakukan selama empat hingga lima bulan. Tahun 2025 ini, untuk Pementasan Mantra Cinta Kandita berjalan selama empat bulan.
“Untuk tahun ini kita dapatnya empat bulan. Kalau enggak salah, kita mulai seleksi di akhir Juli atau awal Agustus. Jadi, dalam empat bulan itu udah langsung masuk ke proses latihan,” terang Onga.
Dalam proses pemilihan pemeran, Onga menjelaskan bahwa TERAS membuka casting bagi siapa saja yang berminat. Meskipun memiliki sanggar sendiri, casting untuk pemilihan pemeran tetap terbuka secara umum.
“Kebetulan kita juga ada sanggar sebenarnya, tapi kita juga membuka untuk umum. Jadi siapa saja yang mau coba, entah dia belum pernah ataupun memang aktif di dunia teater, itu boleh untuk ikut casting,” pungkas Onga.
Reporter : Keisya, Mg | Editor : Siti Nur’Aini
Gambar: Keisya/ASPIRASI
