Berangkat dari keresahan, ArtArt Cafe di Kawasan Tanah Baru, Depok memanfaatkan potensi limbah rumah tangga menjadi karya seni menawan. Kafe berhasil memadukan ekspresi seni juga kepedulian terhadap permasalahan lingkungan.
aspirasionline.com – Mengangkat isu urgensitas dalam kebermanfaatan ulang sisa-sisa limbah di tengah padatnya mobilitas perkotaan. ArtArt Cafe diinisiasi oleh pasangan suami-istri berlatar belakang seni rupa dengan menjual nilai seni pada dekorasi serta keberlanjutan lingkungan.
Di tengah padatnya lalu lintas sore hari, cahaya jingga menyapu hangat wajahku ketika menyusuri sudut wilayah Kota Depok, Kecamatan Tanah Baru. Mataku menyisir lembut deretan bangunan dan terjerat satu bangunan unik minimalis bergaya industrialisasi yang diapit antara pemukiman warga.
Fasad yang sederhana, tetapi mampu memikat hati. Kesan awal itu mendorongku untuk melangkah lebih dalam menelusuri isi bangunan dengan plang bertuliskan ArtArt Cafe tersebut.
Suasana kala sore itu semakin hidup, temaram lampu kafe menyayukan pandangan mataku dan melepas risaukan hati siapapun yang penuh penat kala beraktivitas.
Tak hanya itu, semua mata akan terperanjat oleh dekorasi dan kerajinan tangan dari sampah bungkus plastik yang terpampang ketika menyusuri tiap-tiap sudut kafe. Terpajang diantaranya dompet, tas jinjing, dan buku catatan yang terbuat dari sisa-sisa limbah plastik yang didaur ulang di sisi ruangan kafe.
Pemilik dari ArtArt Cafe, Ari Erika menekankan kehadiran kafe ini bukan hanya sebatas kedai kopi biasa, melainkan datang dari kebutuhan dalam memanfaatkan potensi kekayaan di kehidupan perkotaan, yaitu limbah.
“Kita melihat potensi atau kekayaan lokal yang kita punya salah satunya adalah limbah, di Jakarta khususnya, ya. Ketika bicara tentang urban (dan) sub-urban di daerah Depok yang berdekatan dengan Jakarta, khususnya Jakarta Selatan, nah ternyata disitu memang kekayaan luar biasa-biasanya adalah limbah,” ungkap Ari dalam wawancaranya kepada ASPIRASI pada Minggu, (19/8).
Lebih lanjut, Ari mengungkapkan pengumpulan sampah yang akan didaur ulang dimulai dari lingkungan terdekatnya, seperti limbah rumah tangganya pribadi, mentor, sampai staf kafe setempat untuk diolah kembali menjadi produk bernilai baru
“Jadi, jangan sampai terbuang kemana-mana, apalagi sampai terbuang ke dalam tanah, tapi itu (sampah) menjadi bagian tanggung jawab kita untuk mengelolanya,” terangnya pada sore hari itu.
Setiap limbah yang terkumpul disulap menjadi karya seni yang berarti. Bagi Ari, sentuhan tangan dan hati yang terjalin dalam bentuk kerajinan tangan adalah proses penyaluran seni untuk menjawab permasalahan kehidupan sehari-hari.
“kita percaya bahwa seni rupa dan desain itu adalah sebuah solusi atas masalah-masalah yang ada disekitar kita,” Jelas Ari.
Tak Hanya Sekadar Kafe, ArtArt menjadi Ruang Ekspresi Seni
Tatkala ketersediaan ruang kreatif yang menyempit di sela hiruk-pikuk industrialisasi kota, mendambakan kehadiran lahan ekspresi bagi anak maupun orang muda untuk berkreasi.
Merespon hal tersebut, Ari perlahan menjelaskan bahwa ArtArt Cafe hadir sebagai tempat makan dan minum dalam menunjang Palakali Creative sebagai ruang seni utama yang dibutuhkan di kawasan sub-urban.
Wajah matanya terlihat berbinar ketika bercerita bagaimana perjalanan Palakali Creative yang sudah terbangun selama enam belas tahun lamanya menjawab keresahan dari keterbatasan ruang kreatif dan produktif yang ada.
“Palakali Creative itu adalah ruang kreatif ekologis, kita buka gerbang (peresmian) itu tahun 2009. Jadi sebelumnya kita sudah berkegiatan di sini, terus tahun 2009 kita melihat keresahan gitu, ya,” tutur Ari.
Konsep unik yang dibawakan ArtArt Cafe menciptakan kesan mendalam tersendiri. Terbukti dari sudut-sudut ruangan yang dipenuhi oleh pengunjung, tampak tak beranjak dan hanyut dalam suasana nyaman dan hangat yang dibawakan kafe tersebut.
Begitu pula kesan pertama yang dirasakan langsung oleh salah satu pengunjung ArtArt Cafe, Intan Wahyuni. Ia menuturkan, nuansa kafe itu berhasil membuatnya betah berlama-lama sejak ia pertama kali menginjakkan kaki.
“Menurut aku sih masih nyaman banget (cafenya). View-nya (pemandangan) tuh enggak ngebosenin, karena banyak karya-karya yang bisa kita lihat juga kan sambil mengobrol, sambil (membuat) tugas,” ucap Intan saat diwawancarai ASPIRASI pada Kamis, (23/10).
Di samping itu, Lisandra Vincy, pengunjung ArtArt Cafe lainnya juga menyerukan hal serupa. Jelas, ia terpukau melihat inovasi daur ulang limbah plastik tak hanya menjelma jadi sebuah karya, tetapi turut menjadi solusi nyata atas permasalahan lingkungan.
“Nah, jadi dia (ArtArt Cafe) tuh bantu secara langsung, bantu banget mengembangkan solusi buat permasalahan sosial itu (limbah plastik), apalagi dia (ArtArt Cafe) kan di-recreate (rekonstruksi) dalam bentuk kualitas seni yang unik,” ungkap Lisandra saat diwawancarai ASPIRASI pada Selasa, (28/10).
Reporter : Syafira | Editor : Azaliya Raysa
Foto: Syafira
