Psikolog Jadikan Seni Sebagai Media Alternatif Pendeteksi Depresi

Psikolog Jadikan Seni Sebagai Media Alternatif Pendeteksi Depresi

Seni dapat menjadi medium untuk mengekspresikan perasaan sehingga dapat menjadi alat bantu untuk deteksi gejala depresi.

Aspirasionline.com — Seni merupakan segala sesuatu yang berkaitan dengan keindahan, baik itu seni musik, lukis, tari, dan lain sebagainya. Seni dapat berfungsi sebagai media dalam mengekspresikan perasaan seseorang yang tidak dapat dikomunikasikan secara verbal.

Hal ini disampaikan Psikolog sekaligus Dosen Kesehatan Masyarakat UPN “Veteran” Jakarta (UPNVJ), Rosnalisa. Sebagai Psikolog Art Therapy, Rosnalisa akan bergantung pada bidang seni apa yang disukai oleh pasiennya.

Sebagai contoh, Rosnalisa dalam mendeteksi salah satu pasiennya dengan keterbelakangan mental yang menyukai musik. Ia menyediakan alat-alat musik yang berasal dari kumpulan kaleng-kaleng bekas. Dengan tujuan agar anak itu dapat mengekspresikan emosinya melalui irama yang berasal dari kaleng.

Para psikolog umumnya memiliki beragam pendekatan untuk mendeteksi gejala depresi yang dialami oleh pasiennya. Pedekatan tersebut dapat dibagi menjadi pendekatan cognitive, behavior therapy, dan hypnotherapy. Melalui pendekatan tersebut, seni dapat digunakan sebagai media alat bantu.

“Seni itu adalah salah satu yang mengimbangi untuk pendekatan supaya dia bisa masuk ke sistem-sistem yang lain,” tutur Rosnalisa saat ditemui ASPIRASI di ruang kerjanya.

Untuk mendeteksi seseorang yang mengalami gejala depresi melalui media seni dapat dilihat dari ciri-cirinya. Proses ini dapat dilakukan tidak hanya oleh ahli namun juga oleh masyarakat umum.

“Dalam bidang seni musik dapat dilakukan dengan mengamati ekspresi saat bernyanyi dan musik apa yang secara berulang dinyanyikan,” tambah Rosnalisa.

Sementara dalam bidang seni lukis, dapat dilakukan dengan memperhatikan secara detail dari keseluruhan lukisan atau gambarnya.

“Hal ini meliputi pemilihan warna, tebal-tipis garis, bentuk gambar, hingga arah garis yang dibuat,” jelasnya.

Rosnalisa menjelaskan, depresi muncul dari suasana hati yang sedang berada dalam kondisi tertekan. Ketika seseorang bergejala bahwa dirinya mengalami tekanan berlebihan dengan masalah-masalah yang dirasakan secara pribadi, kemudian mengalami rasa murung, dan tidak dapat berkomunikasi lebih baik dengan orang lain, saat itulah suasana hatinya telah mengarah kepada depresi.

Ia mengatakan, berdasarkan penelitian hampir 60 persen generasi Z —generasi yang lahir dalam rentang tahun 1996 hingga 2010— dinyatakan mengalami ganguan mental berupa depresi. Hal ini dipengaruhi dengan adanya perubahan sosial serta kompleksitas masalah yang dihadapinya.

Terdapat 3 faktor yang bisa menyebabkan seseorang mengalami depresi di antaranya, faktor organobiologis, faktor internal individu atau psikologis, dan faktor sosial atau lingkungan.

“Kalo organobiologis bisa karna faktor keturunan, faktor hormon, faktor yang terkaitan dengan sistem syaraf,” ujar Rosnalisa kepada ASPIRASI pada Senin, (28/11/19).

Sementara itu, faktor utama penyebab depresi asalnya datang dari faktor internal individu dalam ketidakmampuannya memecahkan masalah secara positif. Hal ini, kata Rosnalisa, bisa disebabkan dari kurangnya peran orang tua yang krusial dalam membentuk dan mengajarkan anaknya.

”Dia tidak dibiasakan untuk belajar mengatasi masalah, belajar menemukan  makanisme  pertahan yang benar untuk dia yang sesuai dengan masalah yang dia hadapi,” tambah Rosnalisa.

Penggolongan Depresi

Lebih lanjut Rosnalisa menjelaskan bahwa depresi dapat terbagi menjadi tiga tingkatan yaitu ringan, sedang, dan berat. Seseorang yang masih mampu mengatasi kecemasan dan pikiran negatifnya tergolong dalam depresi ringan atau sedang. Sedangkan orang yang mulai melakukan percobaan bunuh diri hingga melakukan aksi bunuh diri termasuk ke dalam golongan depresi berat.

Percobaan bunuh diri maupun aksi bunuh diri menjadi masalah yang terus meningkat setiap tahunnya karena tidak hanya dilakukan oleh orang dewasa tetapi juga menyasar kepada usia remaja bahkan anak-anak.

“Contohnya kayak tidak dibeliin handphone aja dia bunuh diri, di zaman saya kayaknya tidak ada yang kayak gini,” ungkap Rosnalina.

Menurut Rosnalina biasanya gangguan jiwa terjadi pada seseorang yang beranjak dewasa. Namun di tahun 2000-an gangguan jiwa terjadi pada remaja dan semakin bertambahnya tahun.

“Semakin ke sini semakin tingginya kemajuan teknologi, angka depresi juga semakin meningkat karena tuntutan gaya hidup yang semakin beragam, tambah Rosnalina.

Lebih lanjut, menurut Rosnalina banyak dari gnerasi 2000-an tidak dibekali dengan sistem sikofisik, kemampuan untuk mengelola diri, kemampuan untuk bisa pendewasaan diri, dan pemecahan masalah.

“Pola asuh yang benar itu ya dari keluarganya ya. Pengawasan dan sebagainya itu kompleksitas. Itu lah yang menyebabkan masalah dan makin tingginya tingkat depresi,” tutup Rosnalina kepada ASPIRASI.

Reporter : Suci Mg.| Editor : Sekar Ayu.

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *