Pemira BEM Terburu-Buru, Panitia Pelaksana Perlu Banyak Evaluasi

Pemira BEM Terburu-Buru, Panitia Pelaksana Perlu Banyak Evaluasi

Pelaksanaan Pemilihan Raya (Pemira) Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta (UPNVJ) mengalami kendala waktu dan teknis, berdampak pada perhitungan suara terpusat yang dilakukan dengan cara merekap hasil hitungan perfakultas.

Aspirasionline.com — Rabu (27/11), pemira BEM UPNVJ yang juga dibarengi pemira Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (MPM) dilaksanakan serentak di kampus Pondok Labu dan Limo. Berbeda dari tahun sebelumnya, pemira BEM kali ini tak lagi melawan kotak kosong, melainkan terdapat dua paslon, yaitu Adyanta Tasima Ginting dan Rafly Arief Lazuardi dengan nomor urut satu, serta Robi Warihon Pasaribu dan Danang Wiryawan Nugroho dengan nomor urut dua.

Pada malam di hari yang sama dengan pemilihan, perhitungan suara BEM langsung dilakukan dengan menobatkan paslon nomor urut satu sebagai sepasang ketua dan wakil ketua BEM terpilih. Ia meraih sebanyak 1.713 suara, sedangkan paslon nomor urut dua meraih 1.408 suara.

Sama seperti tahun sebelumnya, proses pemungutan suara dilakukan di tiap fakultas yang diawasi oleh panitia pemira, saksi, dan juga koordinator tempat pemugutan suara (TPS). Namun pada pelaksanaannya, semua fakultas mengalami keterlambatan dalam membuka TPS.

Ketua Panitia Pelaksana (Panpel) Egi Saragih mengatakan bahwa hal ini disebabkan perizinan di tiap fakultas berbeda. Belum lagi karena panitia yang terlambat, saksi yang belum datang, serta absensi dan bilik suara yang belum tersedia.

Sejak dibuka hingga ditutupnya TPS, antusias mahasiswa ketika menggunakan hak suaranya datang secara berkala. Di Fakultas Teknik (FT) misalnya, berdasarkan pantauan reporter ASPIRASI, mahasiswa mulai berdatangan pada pukul 13.09 WIB.

July Rahmadi, salah satu mahasiswa Teknik Mesin 2017 itu mengaku, meski tak ada kampanye dan sosialisasi mengenai pemira 2019 ia akan tetap menggunakan hak suaranya. “Karena sebagai mahasiswa UPN, kalau ada pemira ya mengikuti, dan namanya juga demokrasi lah istilahnya,” ungkap July.

Brigita Lovellyta, salah satu Mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) ikut bersuara mengenai pemira kali ini. “Kemarin datang kampanye cuma beberapa orang dari BPH (Badan Pengurus Harian, red.) gak melibatkan semua kalangan dari mahasiswa. Saya pikir kampanyenya seperti orasi dan mahasiswa FIKES bakal mendengarkan semuanya, ternyata tidak, cuma beberapa perwakilan BPH aja. Jadi kurang efektif,” jelasnya kepada ASPIRASI.

Pelaksanaan pemira di FIKES berjalan dengan baik setelah mengalami beberapa kendala seperti tidak adanya alat untuk mencoblos di bilik dua.

Dengan suasana yang tenang dan cenderung sepi, Fakultas Kedokteran (FK) terlihat minim partisipasi. Terbukti jumlah pencoblos yang hanya mencapai 149 pemilih dari 744 daftar pemilih tetap (DPT). Hanya segelintir mahasiswa yang melakukan pencoblosan, tidak begitu ramai.

Lain halnya dengan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), pemilih terus berdatangan hingga antrian mengular pada jeda jam kelas perkuliahan. Panitia terlihat pula melayani pemilih sembari mengajak mahasiswa UPNVJ yang hilir mudik di selasar FEB. Begitu pula halnya di Fakultas Hukum (FH), panitia juga persuasif dan menarik mahasiswa agar menggunakan suaranya dalam pemira.

Di Fakultas Ilmu Komputer (FIK), terdapat salah satu mahasiswa yang memberikan kritik terhadap jalannya proses pemungutan suara, Gilbert DS namanya. Gilbert menilai daftar hadir yang digunakan panitia berpotensi menimbulkan kecurangan.

“Saya protes karena mereka sudah memilki nama data pemilih, sedangkan jika itu dilakukan tidak menutup kemungkinan ada tanda tangan palsu saat bilik suara sudah di tutup. Bisa saja tanda tangan dipalsukan dan dilakukan pemilihan yang secara tertutup, tidak menutup kemungkinan,” tutur mahasiswa program studi Informatika 2017 itu.

Saat perhitungan suara perfakultas berlangsung, terdapat kekeliruan di FIK—jumlah kertas suara melebihi jumlah pemilih yang menggunakan hak suara. Akhirnya, panitia harus berulang kali menyamakan jumlah kertas dengan jumlah pencoblos. Setelah melakukan pemeriksaan ulang, pukul 18.32 WIB dilakukan penghitungan surat suara secara sah hingga terkumpul 359 suara.

Salah satu paslon nomor urut dua, Robi Warihon Pasaribu terlihat berkunjung ke berbagai TPS di setiap fakultas untuk memantau langsung proses pemira yang dilaksanakan. Begitu juga dengan Ketua BEM UPNVJ, Belly Stanio terlihat memantau berbagai TPS untuk melihat proses jalannya pemira berlangsung.

Ketika perhitungan suara perfakultas berlangsung, terdapat hal janggal di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). Adanya jumlah pencoblos dan surat suara yang berbeda menyebabkan panitia menambah satu suara ke paslon dua dan mengurangi satu suara dari paslon satu. Hal ini diungkapkan Egi bahwa segala kesalahan dan pengambilan keputasan yang ada sudah mendapat persetujuan dari kedua paslon.

Namun ketika dikonfirmasi, nyatanya paslon nomor urut satu tak tahu-menahu perihal kesepakatan yang ada. “Jadi merasa panpelnya kelebihan mencoret. Untuk masalah pemindahan skor, kami tidak tahu,” ungkap Adyanta.

Perhitungan suara terpusat menggunakan sistem baru

Menurut Berita Acara Pemeriksaan (BAP) pemira 2019, dijadwalkan perhitungan suara terpusat akan dilakukan pukul 20.00 WIB bertempat di ubin coklat FEB. Namun, pada pelaksanaannya perhitungan terpusat tersebut baru dapat dilaksanakan pukul 21.55 WIB.

Hal ini menyebabkan panitia menggunakan sistem yang berbeda dari yang seharusnya. Jika selama ini perhitungan terpusat dilakukan dengan menghitung kembali surat suara satu persatu, kali ini panitia pelaksana pemira hanya menghitung total suara melalui hasil rekap perfakultas.

“Kami mengambil cara untuk pemungutan suaranya secara demokratis saja karena itu sudah cukup, karena sudah ditanda tangan dan disetujui oleh kedua paslonnya,” ujar Egi.

Merujuk pada informasi resmi pemira di akun Instagram @pemiraupnvj_ tertulis bahwa pencoblosan dilaksanakan pada Rabu (27/11). Sebelumnya, kedua paslon diberi jatah masa kampanye yang berlangsung selama enam hari (empat hari kerja) dari Selasa (19/11) hingga Senin (25/11). Selain itu, debat kedua paslon diadakan pada Jumat (22/11) di kampus Pondok Labu.

Segala keburu-buruan persiapan dan pelaksanaan pemira kala itu diakui oleh Adyanta. “Kami sudah merasa panitia effort-nya sudah sangat luar biasa untuk pemira yang serba dadakan ini,” ungkap Adyanta. Begitu pula dari Belly Stanio, Ketua BEM periode 2019-2020. “Kalau dibilang terburu-buru, sebenarnya ada kok waktunya, cuma ya kemana,” gantung Belly. Namun, Belly mewajarkan segala kekurangan yang ada. “Ya intinya kita masih belajar,” katanya.

Belly berharap bahwa nantinya paslon tersebut dapat menjalankan dan meneruskan RPJP (Rencana Program Jangka Panjang) yang sedang disusun.

“Segala harapan kami tulis di sana (RPJP, red.),  agar dapat diterapkan di kabinetnya nanti, memperbaiki apa yang kurang,” ungkapnya kepada ASPIRASI.

Saran dan harapan juga datang dari Robi Warihon, paslon nomor urut dua, yang kalah jumlah suara. “Sebenarnya kelangsungannya sudah bagus, demokratisnya sudah dapat, lah. Yang menjadi PR untuk kita kedepannya itu bagaimana pelaksanaan lebih dikedepankan masalah optimalisasi dan perbaikan sistem,” kata Robi.

Reporter: Marsya Mg. dan Mei Mg.| Editor: Myranda Fae.

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *