Pemira BEM-U, Demokrasi Segelintir Mahasiswa


Pemira BEM-U, Demokrasi Segelintir Mahasiswa

Pemilihan Raya Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Pembangunan Nasional “Veteran”Jakarta (UPNVJ) hanya diikuti calon tunggal. Antusiasme mahasiswa yang minim menjadi sorotan.

Kamis (29/11), telah berlangsung proses Pemira BEM-U yang dilaksanakan di tiap-tiap fakultas yang ada, baik di Kampus Pondok Labu ataupun Limo. Dalam Pemira kali ini, jumlah pemilih tetap mencapai  9.730 mahasiswa. Jumlah itu tersebar dalam tujuh fakultas yang ada di UPNVJ, serta mulai dari mahasiswa aktif tahun 2014 sampai 2018.

Berbeda dengan tahun kemarin, pada Pemira tahun ini Paslon tunggal dengan nomor urut satu, Belly Stanio dan Muhammad Alfian akan bertarung melawan kotak kosong. Ditandai dengan pagi yang cerah, tepat pada pukul 09.00 WIB, ketujuh Tempat Pemungutan Suara (TPS) yang tersebar di tiap fakultas secara serempak dibuka.

TPS mulai disambangi oleh para pemilih pagi itu. Terlihat para mahasiswa menukarkan Kartu Tanda Mahasiswa (KTM), sebagai tanda bahwa ia merupakan mahasiswa aktif dengan secarik kertas suara.  Setelah memasukan kertas ke dalam kotak suara, tak lupa mereka mencelupkan jarinya ke dalam tinta, sebagai bukti bahwa mereka telah menggunakan hak suaranya.

Di sisi lain, terlihat sekelompok mahasiswi berpose dengan jarinya yang terkena tinta, sebagai bukti bahwa mereka ikut andil dalam pesta demokrasi kali ini. Sementara di sudut lain, terlihat seorang mahasiswa mengajak mahasiswa lainnya untuk menyukseskan Pemira kali ini. Tapi apa mau dikata, semua kembali kepada mahasiswa itu sendiri, ada yang akhirnya ikut memilih ada juga yang hanya tertawa.

Berbagai cara mulai dilakukan oleh pihak panitia Pemira untuk menarik minat mahasiswa agar menggunakan hak suaranya. Seperti TPS di Fakultas Hukum (FH). Mereka menghimbau para mahasiswa yang ingin keluar Gedung untuk menuju TPS yang tepat berada di sebelah pintu keluar Gedung Yos Sudarso itu. Lain halnya dengan pihak panitia yang berada di Fakultas Teknik (FT), bermodalkan sebuah speaker nirkabel, panitia memutar musik untuk menarik perhatian mahasiswa.

Siang hari itu, hampir seluruh TPS dipenuhi oleh mahasiswa di masing-masing fakultasnya. Hilir mudik mahasiswa yang ingin memilih membuat sejumlah antrian di beberapa TPS yang ada. Seakan tidak terpengaruh oleh teriknya mentari kala itu, mereka terlihat antusias untuk menunggu sampai tiba gilirannya untuk memilih.

Sayangnya, antusiasme dari mahasiswa rupanya tidak berlangsung lama. Suasana kembali sepi bersamaan dengan mahasiswa yang kembali tenggelam dalam dunianya sendiri. Mahasiswa yang ada hanya berjalan tanpa menghiraukan bahwa pesta demokrasi terbesar di kampusnya sedang berlangsung. Pada sore hari, hanya terlihat segelintir mahasiswa yang berdatangan menuju TPS untuk menggunakan hak suaranya.

Pada pukul empat sore, berbarengan dengan hujan lebat yang mengguyur kampus, TPS resmi ditutup.

Ivanno Julius Reynaldi, salah satu mahasiswa Hubungan Internasional yang sempat kami temui di TPS FISIP mengaku kecewa terhadap Pemira kali ini. Ia berkata bahwa dirinya belum merasakan adanya euforia pesta demokrasi.

“Ya jujur saja ya, ini kan pesta demokrasi. Tapi saya tidak merasakan pesta demokrasi, selain paslonnya cuma satu. Saya juga jadi melihat keapatisan dari masyarakat UPNVJ,” terangnya kepada ASPIRASI.

Menanggapi hal tersebut, koordinator acara sekaligus penanggung jawab TPS di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Restu Maulidiya mengatakan pelaksanaan Pemira tahun ini sudah lebih baik dari tahun sebelumnya. Restu mengungkapkan bahwa pada tahun sebelumnya kegiatan sosialisasi hanya dilangsungkan di Pondok Labu, sedangkan tahun ini juga dilaksanakan di Limo dengan harapan agar antusiasme mahasiswa sama kuat.

Ia juga menjelaskan bahwasanya sebelum sosialisasi terbuka, Paslon juga sudah melakukan sosialisasi kepada Ormawa dan UKM. “Usaha kita sudah lebih baik dari tahun sebelumnya, bedanya tahun ini hanya ada satu paslon sedangkan tahun sebelumnya ada tiga paslon dan itu hampir sebagian mewakili tiap fakultas jadi euforianya banyak,” jelasnya.

Lain halnya ketika ASPIRASI berkunjung ke TPS yang ada di Fakultas Ilmu Komputer (FIK). Anggun Windari mahasiswi Informatika 2017 menyatakan dirinya masih belum mengenal siapa kandidat dari BEM-U yang akan menjabat di tahun mendatang.

Ketika ditanya mengenai alasan mengapa ia menggunakan hak suaranya, Anggun mengatakan bahwa itu merupakan kewajibannya sebagai mahasiswa. “Kebetulan lewat, kewajiban juga sebagai mahasiswa. Yasudah pilih saja,” ungkapnya.

Hal yang serupa juga ditemukan pada TPS yang ada di Fakultas Ilmu Ekonomi dan Bisnis (FEB). Nadila Umairoh serta Dinda Nugrahaeni justru mengaku baru mengetahui bahwa Pemira kali ini melawan kotak kosong ketika di TPS. Terkait alasan menggunakan hak pilihnya, kedua mahasiswi ini tidak jauh berbeda dengan Anggun. “Enggak mau golput aja sih, jadi ngikutin saja,” jelasnya.

Terkait banyaknya mahasiswa yang belum mengenali dirinya, Belly mengatakan bahwa ia tidak terlalu memusingkan hal itu. Ia mengatakan akan lebih memfokuskan diri pada program kerja yang telah ia susun dan membenahi demokrasi yang ada di UPN ini.

Gue enggak terlalu bermasalah kalau misalnya gue ngga dikenal, yang penting gue bisa menghasilkan karya-karya yang manfaatnya bisa dirasain sama mahasiswa,” ungkapnya.

Selain itu menurutnya permasalahan yang ada juga tidak lepas dari kurang optimalnya penyelenggaraan Pemira tahun ini. Ia menilai pihak penyelenggara kurang dalam menyosialisasikan Pemira. “Misalnya aja, terkait pelaksanaan Pemira ada dimana dan jam berapa aja baru tengah malam disosialisaikan. Sementara paginya kita Pemira,” jelas Belly.

Tak berselang lama proses penghitungan suara di FEB pun selesai. Pasangan Belly-Alfian menang di FEB dengan perolehan suara sebanyak 420 suara. Sementara untuk suara kotak kosong dan tidak sah masing-masing sebanyak 56 dan 124 suara, dari total 600 mahasiswa yang menggunakan hak suaranya.

Permasalahan yang Sama Dari Tahun Ke Tahun

Hasil yang tidak jauh berbeda juga ditemui pada Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Belly-Alfian mendapat suara sebanyak 494 suara. Sedangkan kotak kosong memperoleh 10 suara dari total 602 suara yang terhitung di FIKES. Dari asal Fakultas Belly sendiri Ia memperoleh 353 suara dari total suara sebanyak 537 yang terkumpul di Fakultas Hukum.

Sementara untuk FIK, FISIP, dan FT pasangan Belly-Alfian mendapat suara sebanyak 539 suara. Sedangkan untuk kotak kosong mendapat suara sebanyak 159 suara dari total 983 suara yang terkumpul di tiga fakultas tersebut.

Total suara yang masuk dari tujuh fakultas yang ada sebanyak 2.782 suara. Jumlah tersebut tidak mencapai setengah dari jumlah DPT yang ada . Permasalahan yang sama terus terjadi dari tahun ke tahun setiap pelaksanaan Pemira.

Melihat hal ini, Abiyyu Fauzan selaku ketua pelaksana Pemira berpandangan bahwa pelaksanaan Pemira kali ini sudah tergolong sukses. Terkait jumlah mahasiwa yang ikut memilih masih minim, ia mengatakan tidak dapat membuat semua mahasiswa yang ada untuk memilih.

“Pemilihan yang lain juga masih banyak yang apatis mas. Dan itu masih dibilang sukses, kenapa kita enggak,” ungkapnya.

Ia menegaskan bahwa berbagai upaya telah dilakukan oleh MPM  untuk  menghimbau  betapa pentingnya berpartisipasi dalam pemilihan ini. “Mulai dari sosialisasi, info dari mulut ke mulut, pasang tagar dan sebagainya. Walaupun mungkin memang ada yang kena dan tidak,” lanjutnya.

Abiyyu mengatakan bahwa, di sisi lain MPM bukan mempermasalahankan ada atau tidaknya BEM di tahun yang akan datang, tetapi menekankan agar mahasiswa ikut memilih UPNVJ ke depannya. “Bukan karena mereka nyoblos untuk ada BEM, tapi saya menekankan demokrasinya,” ucapnya ketika ditemui di sela-sela penghitungan suara.

Berkaca pada Pemira yang telah selesai dilaksanakan, harapan terlintas di benak mahasiswa semester lima tersebut agar di tahun berikutnya semua Ormawa dan UKM yang ada di UPNVJ turut andil dalam memberikan pemahaman mengenai pentingnya sebuah organisasi.

Harapan Abiyyu juga ditujukan kepada pasangan calon terpilih agar ke depannya bisa lebih terbuka kepada mahasiswa, dalam artian mau turun secara langsung dan memberikan pemahaman akan pentingnya demokrasi. “Harapannya mampu merangkul semua mahasiswa, agar lebih aktif lagi dalam berdemokrasi,” ungkapnya.

Tak lama berselang, para petugas keamanan menyambangi kami yang hadir saat itu, bersamaan dengan selesainya proses Pemira tahun ini.

Hasil perhitungan terpusat yang dilaksanakan di Aula Bersama mendapati Pasangan Belly-Alfian memperoleh suara sebanyak 1.825 suara, kotak kosong 271 suara, dan tidak sah sebanyak 613. Dengan total suara yang terkumpul sebanyak 2.709 suara.

Hasil tersebut menobatkan Paslon nomor urut 1 sebagai pemenang pada Pemira tahun ini. Artinya, pasangan Belly-Alfian akan memimpin BEM-U di periode mendatang.

Reporter : Agung Mg, Fadhila Mg. |Editor : Taufiq Hidayatullah

 

 

 

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *