Bagaimana Etika Mengutip Di Media Sosial Dalam Era Keterbukaan Informasi


Bagaimana Etika Mengutip Di Media Sosial Dalam Era Keterbukaan Informasi

Pekan Jurnalistik 2018 yang diadakan oleh LPM Media Publica mengusung tema mengenai Jurnalisme Data dalam Era Keterbukaan Informasi.

Aspirasionline.com — Pekan Jurnalistik tersebut dilaksanakan selama tiga hari  mulai dari Selasa (27/11) sampai  Kamis (29/11). Pada hari kedua pelaksanaan Pekan Jurnalistik 2018, seminar yang diadakan oleh LPM Media Publica mengusung tema mengenai Etika Mengutip di Media Sosial yang dibawakan oleh Imam Wahyudi selaku anggota Dewan Pers dan Hendrasmo sebagai staff ahli Ditjen Informasi dan Komunikasi Publik (DJKP).

Dalam paparannya Hendrasmo mengungkapkan bahwasanya saat ini jurnalisme terjebak dalam disrupsi media sosial. Ia juga mengungkapkan, saat ini Indonesia memiliki jumlah pengguna internet yang terlampau banyak. Hal ini tidak serta merta memberikan dampak positif terhadap aktivitas internet yang ada.

Lebih lanjut ia mengungkapkan berdasarkan data dari Badan Intelejen Negara (BIN) per 2018 terdapat 60% konten media sosial yang berisikan hoaks beredar di masyarakat. “Mayoritas hoaks berada pada konten-konten sosial politik dan isu sara,” ungkpa Hendrasmo.

Dirinya berpendapat bahwa agar tidak terjebak dalam disrupsi media sosial, para wartawan dapat meningkatkan kualitas jurnalisme yang ada. Ia juga meminta agar para jurnalis tidak ikut serta dalam lingkaran hoaks yang ada di media sosial. Menurutnya hal itu dapat dilakukan dengan melakukan verifikasi terhadap isi konten media sosial dan penelusuran terkait sumber konten tersebut.

Tidak jauh berbeda dengan yang disampaikan Hendrasmo, Imam Wahyudi selaku anggota Dewan Pers meminta agar mahasiswa juga peran aktif dalam mengatasi permasalahan hoaks. Menurutnya masyarakat sendiri tidak dapat bergantung begitu saja terhadap para media yang ada untuk menangkal hoaks.

Keterlibatan mahasiswa dalam menangkal hoaks dapat memberikan peran yang sedikit banyak menangkal hoaks-hoaks yang beredar.  “Paling tidak agar mahasiswa tidak menjadi pribadi yang menerima hoaks begitu saja ataupun sebagai oknum yang menjadi penyebar hoaks,” ungkap pria lulusan UGM tersebut.

Menurutnya hal yang paling mudah untuk dilakukan agar tidak terjebak dalam pusaran hoaks yang ada dengan tidak meneruskan berita yang belum diverifikasi. “Artinya, diam saja kalau memang belum mengetahui kebenarannya,” tegasnya.

Kemudian yang tak kalah penting menurutnya ialah dengan melakukan aksi nyata, yaitu dengan membalas  hoaks yang sudah terlanjur beredar dengan memberikan fakta yang sudah diverifikasi kebenarannya. “Hal itu memang membutuhkan effort, tapi untuk seorang mahasiswa sebagai intelek muda maka harus dilakukan daripada diam saja,” pungkasnya.

Ranita Sari, selaku Ketua Pelaksana Pekan Jurnalistik 2018 tahun ini berharap seminar yang diadakan selama tiga hari tersebut dapat menjawab segala keresahan yang ada dimasyarakat, khususnya mahasiswa. Senada dengan Ranita, Safitri mengaku melalui Pekan Jurnalistik kali ini ia mendapatkan pengetahuan tentang bagaimana mengutip data di media sosial ataupun data apa saja yang bisa disebarluaskan.

Reporter: Gadis Mg. |Editor: Helen Andaresta

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *