Keyakinan Bill dalam Menjaga Literasi dan Peradaban

CategoriesTokohTagged , , ,

Menjaga lapak buku selama lebih dari tiga dekade membuat Bill percaya bahwa lembaran-lembaran kertas tak akan pernah kehilangan maknanya. Di tengah derasnya arus digital, ia tetap bertahan sembari menyimpan harapan pada masa depan literasi di Indonesia.

Aspirasionline.com – Di tengah derasnya arus digital yang perlahan mengubah cara orang membaca, sebuah lapak sederhana di kawasan Kwitang yang sejak lama dikenal sebagai pusat buku legendaris di Jakarta, masih dipenuhi rak-rak buku yang tersusun rapat. 

Di baliknya, berdiri Subhil Khair Thabi atau yang akrab disapa Bill, pria berusia 56 tahun asal Sumatera Utara yang mengabdikan sebagian besar hidupnya pada lembaran-lembaran buku sejak tahun 1991. 

Bill meyakini bahwa meskipun intensitas buku fisik turun menjulang dari pasaran, eksistensinya tidak dapat terganti oleh mutakhirnya teknologi digital. Buku memiliki tempatnya sendiri selama peradaban manusia diyakini masih ada. 

“Kalau saya punya keyakinan bahwa yang namanya buku itu akan selalu ada selama ada peradaban,” ujar Bill saat diwawancarai oleh ASPIRASI pada Minggu, (19/4).

Menurutnya, internet memang memudahkan orang mencari informasi. Namun, pengalaman membaca secara langsung tetap menghadirkan kenyamanan yang tidak bisa digantikan layar gawai.

“Kita enggak bisa juga kalau baca terlalu lama kalau di HP atau di mana. Tentu akan beda sensasinya. Walaupun sekarang banyak (buku) yang digital, e-book, tetapi, kan, tentu beda nyamannya,” jelasnya.

Tiga Dekade Bertahan dengan Keyakinan Bahwa Buku Tak Akan Pernah Hilang

Dari teriknya siang hingga menggerogoti terang, tak lapuk oleh hujan, tak lekang oleh panas. Sepanjang tiga dekade menopang hidup dengan menukar buku yang menjadi pundi rezeki, Bill tetap menjaga lapaknya. Menawarkan beragam buku mulai dari novel, buku langka, resep masakan, hingga bacaan motivasi. 

31 tahun menjajakan karya literatur, Bill mengaku sudah tujuh kali berpindah tempat. Namun, Bill tidak pernah meninggalkan kawasan Kwitang yang menjadi tempat untuk mendekap jajaran bukunya walau tujuh kali berpindah. 

“Sudah ada kali tujuh kali pindah, tetapi sekitar sini (Kwitang) saja,” ujarnya.

Rumah yang menjadi tempat buku-buku Bill tinggal, tidak semata-mata berdiri kokoh di perempatan jalan yang ditanami pohon rimbun di depannya, ia bermula dari emperan kaki lima di pinggir jalan. 

Perjalanan panjang itu tentu tidak selalu berjalan mulus, ia telah mengalami berbagai badai besar yang menguji keteguhannya sebagai pedagang. Lonjakan pengunjung tidak selalu memenuhi ekspektasi, keadaan surut pernah ia hadapi pada saat COVID-19 melanda. 

“Ya, suka-dukanya, ya, di situ (pandemi COVID-19), lah. Cuma kita (pedagang) jalanin. Waktu COVID, selama 2 tahun kita, kan, enggak bisa dagang,” ungkapnya.

Dengan setumpuk keyakinan kepada magisnya buku, hal tersebut membuatnya tetap bergelut di balik tumpukan-tumpukan kertas di lapaknya. Baginya, selama pendidikan tetap diselenggarakan, maka buku akan tetap menjadi kebutuhan pokok manusia.

“Tetapi yang namanya pasar buku itu, saya punya keyakinan masih tetap besar selama ada terselenggara pendidikan,” ungkapnya.

Dari Lapak Sederhana di Kwitang, Harapan Bill untuk Literasi Indonesia

Keyakinan yang terpatri di dalam diri Bill membawanya pada sebuah kerangka pikir yang lebih luas terkait kondisi literasi di tanah air. Baginya, membaca bukan hanya sekedar hobi, tetapi fondasi utama agar masyarakat memahami kondisi nasional yang terjadi.

Hal itu sejalan dengan literasi di tanah air yang harus ditingkatkan. Bahu-membahu tiap generasi agar cita tersebut dapat diwujudkan. 

“Harapan saya satu, tingkat literasinya harus ditingkatkan. Bukan kalangan anak muda atau generasi muda saja, tetapi juga semuanya, dari yang muda sampai yang tua,” tutur Bill dengan penuh kesungguhan.

Lebih jauh dari itu, Bill juga punya harapan terhadap pemerintah agar memperbaiki tata kelola pemerintahan dan menjalankan peran negaranya dengan baik. 

“Harapan saya, pemerintah ini bisa bekerja dengan baik, melayani rakyat, korupsinya dihilangkan,” terangnya dengan secercah harapan yang nampak dari matanya.

Ia menyerukan bahwa pemerintah harus dapat menjamin hak rakyat dan tidak melakukan komersialisasi pendidikan karena itu sama dengan pembiaran pembodohan kepada rakyat. 

“Pendidikan ini harus gratis sampai perguruan tinggi. Biar, jadi, apa, ya, jangan jadi beban oleh pemerintah. Pemerintah itu menganggap bahwa pendidikan untuk rakyat ini adalah investasi. Jadi, jangan dibiarkan rakyat ini bodoh, itu saja,” pungkasnya.

 

Reporter : Farel, Mg. | Editor: Sammanda

About the author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *