1.400 Umat Kristiani Meriahkan Kehangatan Christmas Carol 2025 di Jakarta

CategoriesNasional

Perayaan Christmas Carol Colossal 2025 di Jakarta membuktikan bahwa Natal bisa dirayakan dengan sederhana, namun tetap hangat dan penuh sukacita. Dengan lebih dari 1.400 masyarakat memadati kawasan Sudirman, kegiatan ini juga menegaskan pesan damai, toleransi, dan kebersamaan di tengah keberagaman ibu kota.

Aspirasionline.com— Semarak dan doa Natal menyelimuti kawasan Sudirman, Jakarta Pusat, dalam kegiatan Christmas Carol Colossal 2025 Vol.2 pada Selasa, (23/12). Kegiatan ini menjadi penutup rangkaian perayaan Natal yang diadakan oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Daerah Khusus Ibu kota (DKI) Jakarta dengan melibatkan lebih dari 1.400 umat kristiani dari berbagai gereja dan komunitas.

Acara yang digelar di depan FX Sudirman tersebut dihadiri langsung oleh Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, serta disambut antusias oleh masyarakat yang memadati kawasan Sudirman hingga malam hari.

Dalam sambutannya Rano Karno menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan rangkaian terakhir Christmas Carol tahun 2025. Sebelumnya, Christmas Carol telah dilaksanakan pada Kamis, (11/12) di Bundaran Hotel Indonesia (HI), namun sempat terkendala hujan. 

Kondisi tersebut mendorong panitia untuk kembali mengajukan pelaksanaan Christmas Carol kembali dengan harapan peserta lebih banyak.

“Makanya panitia bilang (ke Rano Karno), ‘Bang, Pak, kita mau Christmas Carol lagi boleh enggak?’ Boleh tapi saya enggak mau kalau cuma 1000 orang, saya mau 1.200,” tutur Rano Karno dalam sambutannya Selasa, (23/12).

Rano Karno menyebut bahwa jumlah peserta yang hadir pada malam penutupan tersebut bahkan mencapai 1.400 orang. Ia menilai antusiasme tersebut sebagai wujud rasa syukur umat dalam merayakan Natal pada malam penutupan rangkaian Christmas Carol Colossal 2025.

Sambutan Baru Hari Natal 2025 melalui Christmas Carol 

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, suasana perayaan Natal dan Tahun Baru 2025 di Jakarta berlangsung lebih sederhana. Kebijakan ini diambil sebagai bentuk empati Pemprov DKI Jakarta terhadap warga di sejumlah wilayah Sumatera yang terdampak bencana alam, dengan salah satunya meniadakan pesta kembang api saat pergantian tahun.

Nah, jadi Pak Gubernur sudah putuskan, tahun ini, tahun baru kita tidak ada kembang api. Supaya semua merasakan bagaimana, perihatinnya yang terjadi (bencana) dengan saudara-saudara kita,” ungkap Rano Karno.

Tak berhenti pada kebijakan tersebut, Pemprov DKI Jakarta turut memfasilitasi penggalangan bantuan dengan menyediakan titik donasi di beberapa panggung untuk membantu warga Sumatera yang terdampak bencana.

“Di setiap panggung akan kita siapkan tempat donasi untuk disumbangkan saudara kita di Sumatera,” ujar Wakil Gubernur Jakarta. 

Meski perayaan Natal tahun ini digelar secara sederhana, Van Der Sitijak, selaku  dari penyelenggara menilai hal tersebut tidak mengurangi makna perayaan. 

Menurutnya, pelaksanaan Christmas Carol yang dilakukan tanpa banyak biaya justru mampu menghadirkan antusiasme masyarakat dan menciptakan suasana Natal yang hangat.

“(Walaupun) sederhananya (perayaan) di jalan yang tidak banyak biaya, tetapi dengan sukacita dan antusiasme masyarakat hingga merasakan suasana Natal itu indah rasanya,” ungkap Van Der Sitijak kepada ASPIRASI pada Selasa, (23/12).

Ia menyebutkan bahwa Natal merupakan momen sukacita yang membawa kedamaian dan semangat berbagi. Meski hanya melalui hal-hal sederhana, seperti senyum dan kebersamaan, ia menilai sukacita tetap dapat dirasakan oleh seluruh masyarakat yang hadir.

“Natal itu sukacita, membawa kedamaian, kita saling berbagi, walau lempar senyum, tapi sukacita ada di hati kita,” lanjutnya.

Lebih dari Perayaan, Christmas Carol Jakarta Bawa Pesan Damai dan Toleransi

Perayaan Christmas Carol Colossal 2025 juga mendapat respons positif dari masyarakat yang hadir. Kegiatan ini dinilai menjadi ruang jeda di tengah kesibukan warga Jakarta sekaligus menghadirkan suasana damai di ruang publik.

Salah satu warga yang hadir yaitu Rosyana Lieyaety, menilai Christmas Carol menjadi hiburan rohani yang menyegarkan setelah aktivitas sehari-hari. Menurutnya, kegiatan tersebut memberi kesempatan bagi masyarakat untuk sejenak melepas penat dan menikmati suasana Natal di tengah kota.

“Karena di tengah Jakarta yang cenderung pulang kerja kena macet sampai rumah dan enggak ada suasana hiburan, dengan adanya Christmas Carol ini dapat berhenti sejenak dari kepenatan kita dan menikmati musik indah Natal,” ungkap Rosyana Lieyaety kepada ASPIRASI pada Selasa, (23/12).

Selain sebagai hiburan, Rano Karno menegaskan bahwa perayaan keagamaan di Jakarta harus dimaknai sebagai kebahagiaan bersama di tengah keberagaman.

“Jakarta milik kita semua, milik siapa saja yang ada di sini, apa pun suku dan agamanya. Ini adalah kebahagiaan kita bersama,” tegas Rano Karno.

Senada dengan hal tersebut, Van Der Sitijak turut menekankan pentingnya menjaga toleransi dan saling menghargai di tengah keberagaman. Ia menilai perbedaan bukan sumber perpecahan, melainkan kekuatan yang akan memperindah kehidupan berbangsa jika disatukan dalam semangat kebersamaan dan kasih.

“Dijauhkan (dari) tirani perbedaan itu, karena perbedaan ini jika disatukan akan menjadi lebih indah. Kita pasti berbeda, tapi jika berhasil menyatukan perbedaan itu, akan lebih indah,” pungkasnya.

 

Foto: Nazriel

Reporter: Nazriel

Editor: Safira

About the author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *