Teror Spam Call Hantui Mahasiswa UPNVJ

CategoriesBerita UPN

Gelombang spam call berisi ancaman kini menghantui mahasiswa UPNVJ. Tak sedikit pelaku memanfaatkan data pribadi mahasiswa secara akurat untuk mengintimidasi korban. Maraknya kasus ini memunculkan kekhawatiran akan adanya kebocoran data mahasiswa yang hingga kini belum teridentifikasi sumbernya.

Aspirasionline.com – Belakangan ini, mahasiswa Univeritas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta (UPNVJ) kerap menerima panggilan dari nomor tak dikenal dalam jumlah masif. Teror yang dialami sejumlah mahasiswa UPNVJ menunjukkan pola serupa. Modus penipuan selalu diawali dengan panggilan dari nomor tak dikenal.

Salah satunya dialami Muhammad Indira, mahasiswa Program Studi (Prodi) Ilmu Komunikasi angkatan 2025. Ia mengaku dihubungi seseorang yang mengaku sebagai anggota kepolisian dan diminta datang ke kantor Polres terdekat untuk melakukan konfirmasi.

“Saya diminta untuk hadir ke Polres dekat sini buat konfirmasi. Terus dia juga nyebutin NIK (Nomor Induk Kependudukan) saya, alamat, nama lengkap saya sama tanggal lahir saya dan semuanya benar itu di KTP (Kartu Tanda Penduduk),” ujar Indira saat diwawancarai oleh ASPIRASI  secara langsung pada Rabu, (26/11).

Pelaku kemudian menuduh Indira terlibat dalam kasus pencucian uang melalui rekening palsu yang disebut menggunakan identitas korban. Ancaman meningkat ketika Indira menolak mengikuti arahan pelaku dan menyatakan akan menghubungi orang tua serta pengacara.

“Saya harus hubungi orang tua atau pengacara. Di akhir, si bapak itu bilang, yaudah saya kirim polisi ya ke alamat KTP kamu. Saya bilang, yaudah kirim aja enggak apa-apa. Terus ditutup,” jelas Indira.

Keseragaman pola penipuan dan akurasi data juga dialami oleh Malika, mahasiswi prodi Hubungan Internasional angkatan 2024. Ia mengungkapkan bahwa pelaku menyebut data pribadinya telah dijual seharga Rp100 juta, sebelum memintanya bergabung ke ruang Zoom dan melakukan share screen untuk mengecek seluruh dompet digital yang dimilikinya.

Aku sempat disuruh cek mutasi m-banking, kebetulan banget, hari itu tuh aku benar-benar enggak pegang uang yang ada di e-money atau di m-banking, karena aku waktu itu aku pegangnya cuma uang cash,” jelas Malika kepada ASPIRASI pada Sabtu, (29/11). 

Tidak berhenti di situ, pelaku  kemudian meminta orang tua Malika mentransfer uang ke rekening korban. Permintaan tersebut disebut sebagai bentuk pembuktian bahwa keluarga korban benar-benar membantu di tengah persoalan hukum yang sedang dihadapi.

“Kamu harus bisa buktikan dengan cara orang tua kamu itu transfer sebesar Rp100 juta ke rekening kamu, tapi enggak boleh kamu apa-apakan, cukup jadi bukti aja kalau emang orang tua kamu tuh benar-benar ngebantuin kamu di masa terpuruk,” jelas Malika.

Kasus dengan modus yang lebih sistematis dialami oleh Mawar (nama dan fakultas disamarkan). Setelah memverifikasi data pribadinya secara akurat, pelaku menuduh Mawar terlibat dalam kasus pencucian uang dan memaksanya menjalani proses Berita Acara Pemeriksaan (BAP) secara daring melalui Zoom dengan alasan jarak yang jauh jika harus datang langsung ke Polda Jawa Barat.

Foto : Bukti proses selama zoom bersama pelaku

“Enggak boleh ceritain ini sama siapa-siapa. Jadi setelah dia bilang seperti itu, dia tuh benar-benar make sure aku benar-benar sendiri,” ujar Mawar saat di wawancarai oleh ASPIRASI melalui Google Meet pada Kamis, (27/11).

Dalam proses BAP daring tersebut, pelaku memanfaatkan situasi tekanan psikologis untuk menguasai perangkat milik korban. Mawar diarahkan melakukan share screen pada beberapa perangkat sekaligus, termasuk ponsel dan laptop, dengan dalih pemeriksaan mutasi rekening dan verifikasi transaksi.

“Jadi dia tau kode akses BCA aku, tau pin aku. Itu karena aku sempat share screen,” ungkap Mawar.

Dengan dalih pemeriksaan oleh PPATK (Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan), Mawar mengaku mengalami kerugian sebesar 450 ribu akibat mengikuti arahan pelaku.

Ya kan waktu itu suruh transfer semua uang yang ada di rekening, kebetulan di rekening BCA waktu itu ada 450 ribu, terus dia suruh kirim 450 ribu,” ungkap Mawar.

Mawar mengaku bahwa dirinya mengikuti semua arahan lantaran merasa bahwa dirinya tidak bersalah atas tuduhannya yang dijatuhkan padanya. Ia juga menjelaskan bahwa pelaku juga mendukung aksinya dengan melampirkan sejumlah surat-surat keterangan dari aparat kepolisian.

 

 

 

 

 

 

 

Foto : Bukti surat-surat dari pelaku

Dugaan Kebocoran Data Kampus Picu Teror terhadap Mahasiswa

Dugaan kebocoran data mahasiswa UPNVJ semakin menguat setelah para korban mengonfirmasi bahwa seluruh data pribadi yang disebutkan pelaku benar dan akurat. Para korban menegaskan tidak pernah memberikan data sensitif seperti NIK, alamat, dan tanggal lahir kepada pihak lain selain kampus.

“Saya enggak pernah kasih NIK ke mana-mana kecuali pihak kampus, setelah tahu banyak mahasiswa UPNVJ kena, saya curiga kebocorannya dari kampus,” tegas Indira.

Kecurigaan serupa juga disampaikan Malika. Ia menyebut seorang temannya mengalami kejadian yang sama hanya berselang beberapa hari setelah dirinya mendapat teror. 

Teror ini tidak hanya menimbulkan kerugian materi, tetapi juga meninggalkan dampak psikologis. Para korban mengaku mengalami ketakutan berkepanjangan dan kehilangan rasa aman dalam aktivitas sehari-hari.

Pas after call itu beberapa hari aku sempat merasa takut, karena dia sempat ngomong kayak nanti bakalan disamperin gitu ke rumah,” ungkap Malika. 

Keresahan lainnya juga disampaikan oleh Indira dan Mawar, mereka mengaku terus merasa khawatir data pribadinya akan kembali digunakan untuk tujuan penipuan. 

Tidak adanya pernyataan resmi dari pihak kampus hingga saat ini membuat kecemasan mahasiswa semakin besar, karena mereka tidak mengetahui sejauh mana data mereka telah berpindah tangan.

“Saya berkeinginan besar buat pihak kampus bertindak lanjut tentang kasus-kasus ini soalnya biar saya tahu gitu data saya gimana, terus dibawa kemana.” ujar Indira

Harapan serupa juga disampaikan oleh Mawar. Ia berharap pihak kampus benar-benar menindaklanjuti kasus ini secara serius mengurangi kecemasan para mahasiswa yang menjadi korban.

“Harapan gue sih semoga kampus benar-benar selidiki, apakah benar ada kebocoran data atau enggak, siapa pelakunya, dan gimana caranya. Dan itu ditransparansikan. Kalau pun ternyata bukan dari kampus, mereka tetap harus klarifikasi soal keamanan data mahasiswa,” ungkap Mawar.

Hingga berita ini diturunkan, pihak kampus belum memberikan pernyataan resmi secara komprehensif terkait dugaan kebocoran data tersebut. Kampus sebelumnya hanya menyampaikan himbauan kewaspadaan melalui akun Instagram resmi UPNVJ terkait oknum yang mengatasnamakan institusi kampus.

Foto: Postingan Instagram Resmi UPNVJ pada 27 November 2025

Klarifikasi tersebut tentunya belum menjawab secara rinci pertanyaan di kalangan mahasiswa, terutama terkait sumber kebocoran data, serta langkah yang akan diambil pihak kampus untuk melindungi data mahasiswa kedepannya.

Upaya konfirmasi telah dilakukan reporter ASPIRASI kepada Unit Penunjang Akademik Teknologi Informasi dan Komunikasi (UPA TIK), baik melalui pesan maupun dengan mendatangi langsung ruangan terkait. Namun, hingga berita ini diterbitkan UPA TIK, belum bersedia untuk memberikan keterangan resmi.

 

Reporter : Sheryl Alvitra Bastian Harefa, Mg & Rayan Lusiaone Susilo, Mg

Editor : Muhamad Akbar Syah

Ilustrasi : Sheryl Alvitra Bastian Harefa, Mg

About the author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *