banner

12 Tahun Berpulangnya Munir

Written by

Aspirasionline.com – 12 tahun sudah, Indonesia dikejutkan dengan kematian Munir Said Thalib, seorang aktivis yang lantang menyuarakan Hak-hak Asasi Manusia (HAM). Sudah lewat 4320 hari sejak kepergian Munir, nyatanya tidak menyurutkan niat segenap aktivis dan mahasiswa untuk terus menyuarakan HAM dan menuntut keadilan.

Semua ini bermula pada 7 September 2004 lalu, saat pendiri Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) dinyatakan tewas saat mengudara di pesawat Garuda Indonesia dari Jakarta, Indonesia menuju Amsterdam, Belanda. Kabar duka itu awalnya dianggap sebagai suatu hal yang biasa, namun beberapa hari setelahnya, Institut Forensik Belanda (NFI) mengungkap penyebab kematian Munir. Hasil autopsi menyatakan bahwa Munir meninggal akibat racun arsenik. Diduga Munir sengaja dibunuh akibat suaranya yang selama ini lantang mengkritik pelanggaran HAM dan militer di Indonesia.

Berpulangnya Munir akibat hal yang tak wajar itu membuat para aktivis HAM dan mahasiswa masih bersuara hingga saat ini. Sebanyak enam film tentang Munir diputar untuk memperingati 12 tahun Munir dalam acara yang bertajuk “Malam Menyimak Munir, Pekan Merawat Ingatan”. Enam film itu diantaranya Tuti Koto : A Brave Women, Bunga Dibakar, Garuda’s Deadly Upgrade, His Story, Kiri Hijau Kanan Merah, dan yang terakhir adalah Cerita tentang Cak Munir. Seperti dilansir dari Tempo, film itu diputar secara sepekan dari tanggal 4 sampai 11 September 2016, diputar di Jakarta dan 22 kota lainnya. Selain itu, para aktivis dan mahasiswa juga menabur bunga di makam sang pejuang HAM tersebut.

Belum berhenti sampai disitu, pengguna media sosial pun turut memberikan ucapan serta doa dalam mengenang 12 tahun berpulangnya Munir. Pengacara dan aktivis hak asasi manusia, Todung Mulya, menulis dalam akun twitternya, @TodungLubis, “Menundukkan kepala mengenang Munir yang 12 tahun lalu terbunuh. Dia telah memberikan segalanya buat hak asasi manusia,” ditulis hari ini tepat 7 September 2016. Lalu Menteri Agama, Lukman H. Saifudin mengirimkan Al-Fatihah untuk Munir, “Mengenang Alm. Munir, belajar memaknai keikhlasan, kesetiaan, kesederhanaan, kecerdasaan, keberanian.. Al-faatihah..,” tulisnya dalam akun @lukmansaifuddin sekitar pukul 09.40 WIB.

Hingga saat ini kematian Munir memang masih menyisakkan pertanyaan. Suciawati, istri mendiang Munir mengibaratkan penekagan hukum di Indonesia masih berbau busuk. Sebabnya pengungkapan kasus Munir belum mencapai titik temu dan masih buram.
Untuk mengungkap dalang pembunuhan Munir, sebetulnya Susilo Bambang Yudhoyono pernah membentuk Tim Pencari Fakta. Dari tim itu tercetus nama mantan pilot Garuda Indonesia, Pollycarpus Budihari Priyanto, mantan Deputi V Badan Intelijen Negara Muchdi Puwoprandjono sebagai pelaku. Tim pencari fakta menyimpulkan bahwa dalam kematian Munir, pembunuh melibatkan pihak-pihak tertentu di lingkungan PT Garuda Indonesia dan Badan Intelijen Negara (BIN). Namun hasil dari pengungkapan itu adalah pengurangan hukuman untuk Polly dan putusan bebas atas Muchdi.

Kembali atas 12 tahun berpulangnya Munir, Jokowi-JK dalam kampanyenya dulu pernah berjanji akan mengusut kasus pelanggaran HAM. Namun hingga kini, langkah konkret dari Jokowi-JK dalam mengusut kasus Munir belum juga terlihat. Padahal apabila memandang pada hukum di Indonesia khususnya pada Undang-Undang No. 39 Tentang Hak Asasi Manusia. Dalam peraturan tersebut dijelaskan bahwa setiap orang berhak mendapatkan pengakuan, jaminan, perlindungan dan perlakuan hukum yang adil dan kepastian yang sama di depan hukum.

Oleh : Triditrarini Saraswati, mahasiswi Fakultas Hukum semester III.

Article Categories:
Opini

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *