Bayang-Bayang Itu Datang Lagi
Orang bilang, zaman kelam bangkit kembali.
Katanya, sekarang harus serba hati-hati.
Jadi gusar — Petrus piawai kembali.
Komisi orang hilang masih wara-wiri.
Manusia berbusana hitam tiap Kamis berdiri,
tak lekang tak henti — tubuhnya bersaksi.
Seragam coklat mengitari,
mungkin bersiap merepresi
apabila kami dianggap bersensasi.
Entahlah kapan akan digubris.
Lihat Ibu Sumarsih,
hatiku sempurna teriris.
Aku Bukan Pemakan Segala
Gerah, berisik, dan gelap!
Matahari tengik sudah bagai teman akrab.
Tetapi gerahku mencuat lihat pejabat bicaranya gagap.
Media bising, hipotesanya mengusik.
Cita-citaku menjadi mereka.
Tapi entahlah, aku juga bukan pemakan segala.
Di mana babi dan tikus ku santap bagian kepala.
“Dimasak saja,” katanya — mungkin lidahnya memang bercabang dua.
Panggilan dari Dasar Gelap
Dering alarm terus memecah hening.
Singkat saja, panggilan darurat kami dianggap bikin pening.
Mari kita nyalakan lagi, ini gawat, di dasar sini makin gelap.
Ah, dia balas seenaknya, lalu tidur pulas.
Dasar culas!
Wong katanya kami yang gelap.
Entah mereka ada di lapisan berapa nan cahayanya benderang.
Tetapi, di bawah sini rasanya benar-benar gendang ditabuh ingin perang.
Kami Bukan Pemaaf
Kudengar terbentur, terbentur, dan terbentuk.
Tetapi, kualami dibentur lalu diringkuk.
Tanahku tidak pernah benar-benar tenang, Tuan.
Paruh baya pinggiran kota haknya dimakan.
Presidenku bilang, “koruptor ya dimaafkan.
Asal, uang curiannya dikembalikan.”
Acuh Tak Acuh
Kami diadu sampai gaduh.
Kami bersuara dibilang ricuh.
Katanya kritik pemerintah itu harus yang santun!
Ampun.
Lihat hutang bunga negara yang tertimbun.
Sementara rupiah? Melonjak turun.
Ayo, pemerintah, bangun dari bunga tidur!
Tanah Retak para Tikus Berjingkrak
Tanah gambus berpetak-petak — retak.
Di atas kemegahan, tawa mereka terbahak.
Dapur makanan yang disebut gratis, tetapi kok pegawainya meringis?
Upah mereka ternyata tragis.
Kebebasan berbicara — haha masih merintis.
Lihat tikus-tikus kota berlari, berlomba cetak skor maling paling tinggi: Ambis!
Negeri Dua Matahari
Begitu tanah yang kami tapaki.
Hujan berita buruk tidak pernah henti.
Kadang gerimis, badai, petir menghampiri.
Tanah di mana tempat mereka yang beruzur berpijak,
sedangkan kami yang nestapa diinjak.
Tanah yang terbentang savana hijau dan hamparan langit biru,
ternyata tuli dengar suara kami yang semu.
Suhu negeri ini makin panas,
saat kutengadah—
dua matahari menukik ke angkasa.
Yang satu di Solo, membakar perlahan.
Yang satu di Hambalang, membakar penuh ancaman.
Oh, penghuni negeri yang malang.
Ilustrasi: Calvin Antoni
Penulis: Nabila Sammanda
Editor: Calvin Antoni
