Menilik Penyebab Maraknya Kebrutalan Geng Motor

Menilik Penyebab Maraknya Kebrutalan Geng Motor

Beberapa waktu lalu kebrutalan aksi geng motor kembali menajam. Sosiologi, ilmu yang mempelajari tentang kehidupan masyarakat serta masalah di dalamnya menjelaskan penyebab perilaku ganas geng motor tersebut melalui teori sub culture dan differential association.

Aspirasionline.com – Kebrutalan aksi geng motor kembali marak. Beberapa waktu lalu muncul video viral yang menayangkan aksi kekejamannya di kawasan Lenteng Agung, Jagakarsa, Jakarta Selatan . Selain itu, serangkaian aksi kebrutalan geng motor terjadi di berbagai tempat terutama di daerah Jakarta Bogor Depok Tanggerang Bekasi (Jabodetabek). Dilansir dari BeritaSatu.com pada (26/5), 11 anggota geng motor diamankan jajaran polrestro Bekasi Kota karena kerap meresahkan masyarakat. Para pelaku itu masih berumur belasan tahun. 11 anggota geng motor tersebut telah ditetapkan sebagai tersangka atas tuduhan kepemilikan senjata tajam dan dijerat UU Darurat Nomor 12 Tahun 1951 dengan ancaman 12 tahun penjara.

Dalam kejadian tersebut dapat terlihat bahwa geng motor kerap kali meresahakan masyakat. Parahnya ulah tersebut dilakukan oleh orang yang masih berusia belasan tahun yang artinya masih remaja dan masih bergelut dengan pencarian jati diri. Geng motor dalam kacamata ilmu sosiologi dikatakan sebagai kenakalan remaja. Juvenile delinquency atau kenakalan remaja adalah suatu perbuatan yang melanggar norma, aturan atau hukum dalam masyarakat yang dilakukan pada usia remaja atau transisi masa anak-anak ke dewasa. Kenakalan remaja berupa geng motor diakibatkan karena sub budaya, “Jadi dia punya bahasa sendiri, punya aturan main sendiri. Sub budaya ini yang membuat dia memiliki identitas,” ujar Priyono Sadjijo selaku dosen Pengantar Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Poltik (FISIP) Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta (UPNVJ) saat ditemui ASPIRASI di Pusat Penelitian Pranata Pembangunan Universitas Indonesia, Jakarta Pusat pada Selasa (30/5) siang.

Lanjutnya, Priyono menjelaskan bahwa sub budaya tersebut dengan contoh bahwa untuk menjadi seorang anggota geng motor, ia harus mengikuti perpeloncoan terlebih dahulu, dengan syarat yang beragam yang biasanya berhubungan dengan tindak kriminal. Alasan calon anggota geng motor itu memenuhi persyaratan tersebut dikarenakan mereka sudah terbentuk keakrabannya, dan mereka merasa diantara geng motor itu senasib sepenanggungan.

Kemudian teori sosiologi selanjutnya yang dapat menjawab latar belakang perilaku brutal geng motor yakni teori differensial asosiation atau bisa disebut karena salah asuh. Pria lulusan Universitas Indonesia jurusan sosiologi itu menerangkan bahwa salah asuh terjadi karena proses sosialisasi yang berbeda, seperti teman-temannya pergi ngaji, tetapi dia malah tidak pergi mengaji melainkan ikut dengan teman-teman nongkrong sehingga akhirnya dia terpengaruh dengan teman-temannya itu. “Teori salah asuh diakibatkan karena tidak mendapat bimbingan, sehingga hidupnya seperti itu,” tambahnya.

Teori sub culture dan differensial asosiation merupakan teori sosiologi yang sama-sama menekankan pengaruh lingkungan terhadap perilaku seseorang. Namun, kedua teori tersebut memiliki perbedaan, ”Kalo yang salah asuh seolah-olah orangnya itu tidak berdaya, terbawa arus yang dapat membawanya menjadi seorang penjahat. Sedangkan sub culture secara aktif membentuk identitas, kalau dalam hal geng motor seperti penggunaan nama geng motor, jaketnya, bahasa-bahasa kodenya maupun jargon-jargonnya, “ jelas pria yang memiliki hobi membaca dan berenang itu.

Tentu saja, keonaran yang dibuat geng motor membuat masyarakat resah, tetapi masyarakat sudah memiliki mekanisme pengawasan sendiri untuk menghadapi geng motor tersebut, yakni melalui pengendalian sosial. Pria berkacamata itu menjelaskan bahwa masyarakat sudah memiliki sosial kontrol, dengan bermacam-macam cara, salah satunya anggota kelompok masyarakat yang paling terkena dampak dari adanya geng motor. “Misalnya komunitas ojek yang bekerja di jalan raya hingga larut malam dengan kondisi yang sepi akan membentuk jaringan dengan sendirinya secara normal secara alamiah dan naluriah, mereka akan membentuk jaringan demi keselamatan diri sendiri,” Tutupnya.

Reporter : Ardhi Ridwansyah | Editor : Sasgia Rahmalia Chan

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *