Kritik Represi Akademik dalam Dead Poets Society

CategoriesResensi

Judul Film: Dead Poets Society

Sutradara: Peter Weir

Produser: Silver Screen Partners IV, Touchstone Pictures

Durasi: 130 menit

Tahun Rilis: 1989

Genre: Comedy-Drama Film 

Film Dead Poets Society menyajikan  perjuangan kaum muda untuk mengekspresikan diri dalam sistem pendidikan yang konservatif. Kebebasan berekspresi masih belum bisa didapatkan tanpa bayang bayang intimidasi, sesuatu yang masih sering terjadi di Indonesia. 

Aspirasionline.com – Film Dead Poets Society merupakan karya sutradara Peter Weir yang dirilis pada tahun 1989 dan menjadi sorotan karena keberhasilannya menyajikan realita mengenai kakunya sistem pembelajaran yang diterapkan di sekolah sekaligus menjadi benteng penghalang bagi kreativitas siswa.

Film asal Amerika Serikat ini menceritakan tentang sekelompok siswa yang berjumlah 7 orang bernama Neil, Todd, Knox, Charlie, Richard, Steven, dan Gerard yang bersekolah di sebuah akademi elite, yaitu Akademi Welton. 

Sekolah ini terkenal dengan kedisiplinan yang tinggi dan menganut semboyan tradisi, kehormatan, disiplin, dan prestasi. Guru yang mengajar di sana sangat keras dan disiplin terhadap para siswanya.

Tidak jarang upaya tersebut menyebabkan proses belajar di kelas menjadi monoton dan membosankan yang hanya dikungkung oleh menghafal materi oleh guru maupun yang tertulis di buku.

Film ini diawali dengan menggambarkan ketidaknyamanan Neil dan kawan-kawan dengan peraturan di Akademi Welton. Pemikiran mereka berubah ketika datang seorang guru baru seorang alumni dari Akademi Welton yang akan mengajarkan sastra inggris, John Keating. 

Keating mengajarkan kepada siswa untuk berani mengekspresikan diri dan menemukan jati diri melalui media seni. Hal ini menginspirasi siswa, terutama Neil dan kawan-kawannya.  

Pada suatu hari, di tengah proses mengajar Keating mengenalkan frasa “Carpe Diem!” yang berarti raihlah kesempatan. Frasa ini kemudian menjadi mantra kehidupan bagi Neil dan kawan-kawannya.

Suatu hari, Neil dan kawan-kawannya menemukan sebuah catatan tua yang menunjukan bahwa guru sastra favorit mereka, Keating, pernah mempunyai sebuah klub seni bernama “Dead Poets Society.”

Konflik pun muncul antara semangat Keating untuk melakukan perubahan pada sistem serta ketatnya pemikiran kolot dari sekitarnya. 

Menampakan Realita Pengekangan Kebebasan Berekspresi di Indonesia

Film Dead Poets Society mengeksplorasi kebebasan berpikir serta kritik mengenai sistem  pendidikan  Akademi Welton  yang  konservatif hingga menjadi  simbol  otoritarianisme. 

Adegan ketika Keating mengajak para siswa untuk membacakan puisi sembari melemparkan sebuah bola dengan kuat menjadi salah satu adegan yang ikonis karena dianggap sebagai perlawanan terhadap cara mengajar konvensional. 

Film ini juga menggambarkan bahwa gaya mengajar Keating dianggap sesuatu yang melanggar norma pada saat itu. Akan tetapi,  perlu diingat bahwa tujuan pendidikan adalah memerdekakan pemikiran bukan mengekangnya. 

Dalam adegan lain juga digambarkan bahwa Keating dipecat atas tuduhan menghasut siswa untuk melakukan pemberontakan. Hal ini dilakukan setelah tragedi bunuh diri dari Neil, pihak sekolah menjadikan Keating sebagai kambing hitam dari kesalahan sistem Akademi Welton. 

Pembatasan mengenai kebebasan berpikir tidak hanya terjadi dalam ruang akademik, namun juga merasuki ruang publik. Pertanyaan kritis yang muncul dianggap sebagai upaya pembangkangan.

Hal ini terbukti dengan adanya fenomena penyitaan buku oleh pihak kepolisian saat demonstrasi sepuluh daerah di Jawa Timur pada Jumat hingga Sabtu, 29-30 Agustus 2025. Para aktivis Indonesia dikambing hitamkan untuk menutupi pokok permasalahan kebijakan yang kontroversial oleh pemerintah. 

Berdasarkan keterangan dari Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Timur,  sebelas buku disita sebagai barang bukti dalam kasus kerusuhan yang melibatkan ratusan orang. Buku-buku tersebut membahas anarkisme dan marxisme, seperti karya-karya Karl Marx, Emma Goldman, dan Che Guevara.

Penyitaan buku ditargetkan kepada buku yang diindikasi memiliki pemikiran kiri dan judul anarkis. Tak hanya itu, data dari Polda Jawa Timur bahkan menunjukkan, ada 997 orang ditangkap lantaran dituduh terlibat demonstrasi dan kerusuhan. Hal ini dilandasi tuduhan untuk melakukan pemberontakan.

Aktivis mengalami intimidasi, penguntitan bahkan kriminalisasi dalam menyerukan gagasannya dan menghidupkan ruang diskusi. Padahal, demokrasi tercipta ketika perbedaan dipersilakan untuk beradu gagasan, berdebat, berdialog, dan berdiskusi.

Pengistilahan anarkis bahkan melenceng secara historis. Pierre Joseph Proudhon mendefinisikan anarki adalah ketertiban dan solidaritas, suatu hal yang sangat berbanding terbalik dengan pemikiran kepolisian. 

Penyitaan buku kiri menunjukan bahwa kurangnya kemampuan literasi dan membaca sejarah dari pihak kepolisian serta upaya menurunkan literasi dan berpikir masyarakat.

Film Dead Poets Society menunjukkan bahwa selama kita masih terikat aturan yang membatasi pola pikir dan berlogika, maka, tidak akan ada pertumbuhan. 

Keating adalah jiwa bebas yang menentang sistem, tetapi kekuatannya tak cukup jika ia melaksanakannya sendirian.

 

Reporter: Santi Mulyady | Editor:  Zahra Awaliany Safitri 

Foto: Spoiler Town

 

About the author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *