Semarak Parade Tujuh Fakultas pada Sportavest 2026 Tuai Sejumlah Catatan

CategoriesBerita UPNTagged , ,

Sportavest 2026 dibuka dengan parade dari tujuh fakultas. Ditengah kemeriahan parade, peserta menyoroti sejumlah catatan terkait keterlambatan informasi dan persiapan panitia buntut dari semarak yang mengundang kericuhan.

Aspirasionline.com – Sportavest merupakan acara tahunan yang diselenggarakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta (BEM UPNVJ). Acara ini digelar pada Sabtu, (10/10) di lapangan parkir UPNVJ, Pondok Labu. Parade masing-masing fakultas menjadi ikon sekaligus menandai dimulainya acara.

Menurut pantauan reporter ASPIRASI, massa dari tujuh fakultas mulai berdatangan sejak pukul 11.45 Waktu Indonesia Barat (WIB). Para peserta memadati area kampus dengan mengenakan pakaian yang seragam, membawa atribut yang telah dipersiapkan, serta membentangkan bendera sebagai identitas fakultas masing-masing.

Parade diawali oleh Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) dan Fakultas Kedokteran (FK). Kedua fakultas tersebut menampilkan  seruan penyemangat dengan durasi masing-masing selama 20 menit dan disusul dengan fakultas lainnya. 

Perwakilan massa FK, Muhammad Daffa Dhiyaul Haq, mengungkapkan bahwa keikutsertaan fakultasnya dalam parade ini lebih ditujukan untuk memeriahkan acara dan menunjukkan solidaritas daripada mengejar kemenangan.

“Kalau kami (massa FK) jujur, kemenangan tidak begitu spesial, yang penting kami ikut meramaikan (acara) saja. Karena beberapa tahun terakhir juga kami, kurang, lah. Kurang berpartisipasi juga,” ungkap Daffa kepada ASPIRASI, Sabtu, (10/10).

Di samping itu, Daffa juga menyampaikan keluhan terkait keterlambatan komunikasi panitia pada saat hari pelaksanaan. Menurutnya, parade mengalami keterlambatan dari susunan acara yang sebelumnya sudah diinformasikan. 

“Keterlambatan kasih pemberitahuan (informasi), sudah gitu lumayan banyak tadi ngaret-nya. Jadi, sempat bikin kami susah juga itu kasih informasinya,” ungkap Daffa.

Kericuhan Warnai Parade, Panitia Siapkan Mediasi dan Sanksi

Selain keterlambatan pelaksanaan, parade turut diwarnai kericuhan yang melibatkan peserta dari dua fakultas, yakni Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) dan Fakultas Hukum (FH). 

Hal tersebut disayangkan oleh Fikar Azkia, Ketua Armada Teknik Veteran (Arteva) yang merupakan klub supporter dari Fakultas Teknik (FT). Menurutnya, parade seharusnya menjadi ajang bagi setiap fakultas untuk menunjukkan identitas masing-masing, bukan tempat terjadinya pertikaian antar suporter. 

“Menurut aku melihat dari acara ini, sih, aku cukup kecewa, lah, harusnya ini jadi ajang kebutuhan dari masing-masing fakultas, kan, untuk nunjukin siapa identitas fakultas masing-masing, jangan malah jadi ajang untuk ribut,” ujar Fikar kepada ASPIRASI pada Sabtu, (10/10).

Menanggapi kericuhan yang berlangsung selama parade, Project Officer (PO) Sportavest, Ibnu Ivan Gasvero, menjelaskan bahwa panitia telah menyiapkan langkah mitigasi melalui dokumentasi yang masif selama parade berlangsung. 

“Jadi, kita (panitia) memasang banyak kamera menggunakan handphone dari panitia, lalu juga kita tadi ada drone (pesawat tanpa awak) juga. Harapannya, drone ini bisa memberikan pandangan yang lebih detail dari atas,” ujar Ivan kepada ASPIRASI pada Sabtu, (10/10).

Menurut Ivan, rekaman dokumentasi oleh panitia yang terkumpul akan ditinjau sebagai bukti untuk menindaklanjuti kericuhan tersebut. Setelah dikaji dan menghitung akumulasi, proses mediasi dilakukan sebagai langkah lanjutan. 

“Kalau untuk alurnya sendiri, itu pastinya dengan kita adanya video-video yang terekam oleh kita sebagai panitia, pastinya kita akan mengumumkan terlebih dahulu dari bukti-bukti ini, dan juga pastinya kita akan melaksanakan mediasi dengan pihak-pihak yang berkaitan, baru setelah itu bisa kita menindaklanjuti perihal sanksi yang akan diberikan ke pihak-pihak terkait,” jelas Ivan. 

Ivan menambahkan apabila diperlukan, penanganan dapat dilanjutkan ke pihak rektorat apabila sanksi yang diperbuat dilakukan oleh perorangan. 

“Sanksinya pastinya balik lagi ke tindakan yang dia lakukan, ya, untuk paling parahnya itu diskors paling, tetapi itu sebenarnya balik lagi nanti, karena kita mengurus perseorangan dan kita usut ke pihak rektorat,” ujar Ivan. 

Dalam penanganan pelanggaran, panitia juga menyiapkan surat kesepahaman yang telah disepakati oleh tujuh fakultas. Menurut Ivan, surat tersebut memungkinkan pelanggaran ditindak secara individu tanpa langsung membawa nama fakultas asal pelaku.

“Kalau untuk surat kesepahaman ini sebenarnya yang tadi sudah saya jelaskan, jadi bahwasannya kalau misalnya memang ada oknum yang bertindak tidak sesuai, bertindak dengan hal yang dilarang, itu bisa diusut secara perorangan. Jadi tanpa harus membawa nama fakultasnya,” jelasnya.

Kendati demikian, panitia juga memiliki kewenangan menjatuhkan sanksi terberat berupa diskualifikasi fakultas dari Sportavest tahun ini apabila terjadi tindakan kekerasan atau kerusuhan massa.

“Panitia juga ada sanksi khusus untuk peserta, yang di mana kita bisa memberikan sanksi itu, mendiskualifikasi si fakultas ini dari acara Sportavest. Jadi balik lagi, ini adalah sanksi terberat atau bisa dibilang SP3 (Surat Peringatan Ketiga),” pungkas Ivan. 

 

Reporter: Laila

Editor: Sammanda

Foto: ASPIRASI

About the author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *