Judul: Adolescence
Sutradara: Philip Barantini
Tahun: 2025
Genre: Drama kriminal psikologis
Jumlah episode: 4 episode
Durasi : 51-65 menit
Kisah Jamie Miller, anak laki-laki berusia tiga belas tahun yang ditangkap oleh kepolisian akibat dugaan pembunuhan terhadap teman perempuannya. Menyoroti secara tajam bagaimana ruang digital menjadi tindak kriminal.
Aspirasionline.com – Adolescence merupakan serial Netflix garapan Philip Barantini rilisan pada tahun 2025 yang berhasil mencuri perhatian pada segi sinematografinya dengan menyajikan format one-shot take, yaitu pengambilan gambar kontinu tanpa potongan sehingga mampu menciptakan ketegangan emosional yang mendalam.
Drama kriminal psikologis ini menceritakan seorang remaja berusia tiga belas tahun, Jamie Miller, yang ditangkap oleh pihak kepolisian atas tuduhan pembunuhan kepada teman perempuannya, Katie Leonard.
Dibuka dengan penggerebekan secara tiba-tiba di rumah keluarga Miller, dimana Jamie ditangkap di depan mata orang tuanya, Eddie dan Manda. Ketika proses pemeriksaan, Jamie kerap menunjukkan sikap bahwa ia tidak bersalah, namun ia tidak bisa mengelak ketika pihak kepolisian memiliki bukti rekaman CCTV yang menunjukkan ia menikam Katie.
Pada akhirnya, pihak kepolisian membawa Jamie pada seorang psikolog, Briony Ariston yang secara perlahan mengungkap lapisan-lapisan psikologis pada Jamie.
Adolescence bukanlah kisah yang berkutat mencari siapa pelakunya. Lebih dari itu, kisah ini mengajak penonton untuk menyelami dan menggali lebih dalam alasan Jamie melakukan hal tersebut.
Melalui empat episode yang dikemas secara intens, serial ini mengangkat isu sosial melalui perspektif remaja. Menyoroti bagaimana dinamika keluarga, pengabaian emosional, pengaruh media sosial, hingga kebutuhan validasi dapat membentuk perilaku destruktif pada diri remaja.
Memetic Violance oleh Remaja Akibat Ruang Digitial
Jamie digambarkan bukan hanya sebagai pribadi korban perundungan sosial, akan tetapi juga sebagai individu yang terjerumus radikalisasi dunia online. Dirinya menemukan rasa kebersamaan dalam komunitas gelap manosphere (komunitas yang berpusat pada laki-laki) yang tampak menawarkan solidaritas. Namun, alih-alih menjadi ruang dukungan, lingkungan tersebut justru menjerumuskannya ke dalam pusaran kebencian dan kekerasan yang kian sulit dilepaskan.
Cara pandang Jamie perlahan selaras dengan ideologi Involuntary Celibate, yakni pola pikir yang menempatkan perempuan sebagai penyebab kegagalan laki-laki dalam membangun relasi.
Dalam Adolescence, ideologi Involuntary Celibate tumbuh dari ruang batin yang dipenuhi isolasi emosional. Pengabaian perasaan, kesepian yang berkepanjangan, serta pengalaman perundungan sosial mengikis kemampuan Jamie untuk merefleksikan diri sekaligus melemahkan empatinya terhadap orang lain.
Peristiwa yang terjadi di dalam serial Adolescence, seolah mencerminkan kasus yang sempat mengejutkan publik pada November tahun lalu soal kasus ledakan yang terjadi di Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 72 Jakarta. Berdasarkan investigasi awal, pelaku merupakan seorang remaja dan salah satu siswa dari sekolah tersebut.
Dilansir dari kumparan.com, dilaporkan bahwa pelaku dikenal sebagai pribadi yang tertutup dan jarang berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa siswa tersebut sempat mengakses sebuah grup bernama True Crime Community, sebuah grup komunitas daring yang menyebarkan kasus-kasus kriminal serupa yang pernah terjadi sebelumnya.
Kepala Badan Nasional Penanggulan Terorisme (BNPT) Komisaris Jenderal, Eddy Hartono, menyebut siswa tersebut meniru gagasan dan perilaku dari grup yang diikutinya demi kepuasan pribadi, menunjukkan bagaimana paparan ide di ruang digital dapat berujung pada tindakan nyata.
Pola yang ditampilkan kasus tersebut serupa dengan dengan gambaran Jamie pada serial ini, dimana remaja yang merasa terpinggirkan lalu menemukan “pembenaran” dalam konten digital dan komunitas daring. Kondisi ini disebut dengan Memetic Violence, yakni sebuah bentuk kekerasan yang dilakukan akibat meniru atau terinspirasi dari konten-konten digital.
Adanya kasus ini menyoroti bagaimana algoritma media sosial dapat memperkuat emosi negatif sehingga berpotensi mendorong remaja ke dalam lingkaran gagasan ekstrem. Ruang digital yang seharusnya menjadi ruang kebebasan berekspresi justru berubah menjadi tempat menormalisasikan kekerasan dan kebencian.
Film ini bukan hanya sebuah tontonan kriminal dramatis, tetapi juga menjadi pengingat dari realitas yang mengerikan di liatnya arus digital. Film ini sebagai peringatan keras bahwa sebuah fenomena sosial yang berbahaya akan membuat ideologi Involuntary Celibate terus tumbuh subur.
Foto: Socialist Alternative
Penulis: Meryllia Sasikirana, Mg. | Editor: Syafira
