Ruang Cerita dalam Warna di Penalama Coffee

CategoriesWisata

Di tengah riuh kawasan Surya Kencana, Bogor, Penalama Coffee menawarkan pengalaman yang tak sekadar minum kopi. Mengusung konsep vintage dan aktivitas melukis, kafe ini menjadi ruang bagi pengunjung untuk bercengkrama sekaligus mengekspresikan cerita lewat karya.

Aspirasionline.com – Kawasan Surya Kencana, Bogor, tampak lebih ramai daripada biasanya pada Minggu, (25/1). Anak-anak muda memadati kawasan itu, datang berpasangan atau bergerombol sambil bercengkrama.

Di antara deretan toko yang berjajar di sisi jalan, bangunan bercat merah dengan papan nama Penalama Coffee berdiri mencolok, seolah mengundang  semua orang untuk singgah.

Memasuki area kafe, pengunjung tidak disambut dentuman musik keras atau interior modern yang berkilau. Sebaliknya, Penalama Coffee menawarkan konsep casual dengan dinding terbuka dan meja penuh sapuan warna.

Di beberapa sudut, pengunjung tampak serius mencampurkan warna. Ada yang mengusap kuas perlahan, ada pula yang ragu-ragu menorehkan garis pertama di atas kanvas kosong. Segelas kopi diletakkan di sampingnya, sesekali diteguk sebelum kembali larut dalam imajinasi.

Salah satu pengunjung bernama Vani menjelaskan bahwa pertama kali ia jumpai di sebuah kafe, ruang santai yang tak sekadar menyajikan kopi, tetapi juga menghadirkan aktivitas melukis.

Paling ini sih aku baru lihat di kafe ada (aktivitas) lukis-lukis,” ungkap Vani kepada ASPIRASI pada Minggu, (25/1).

Aktivitas Melukis di Dalam Cafe 

Chief Executive Officer (CEO) Penalama Coffee, Muhammad Hari Khairunuzula, mengenang awal mula konsep tersebut lahir. Sejak berdiri pada 2022, Penalama memang dirancang sebagai ruang yang menghidupkan nuansa lama sekaligus memberi kebebasan bagi pengunjung untuk bercerita melalui karya.

“Jadi pengennya jadi tempat orang-orang bisa menuangkan ceritanya aja melalui karya yang kita kasih. Fasilitasnya sekarang adalah melukis ini,” ungkap Hari dalam wawancaranya kepada ASPIRASI pada Minggu, (25/1).

Pada awalnya, Penalama berlokasi di Tajur sebelum akhirnya berpindah ke Surya Kencana untuk menemukan ruang yang lebih selaras dengan konsep vintage yang mereka usung.

Di Surya Kencana, pelanggan setia mulai terbentuk dan datang kembali untuk merasakan pengalaman serupa, sementara arus wisatawan yang silih berganti membawa wajah-wajah baru setiap harinya. Di antara yang datang sekali dan yang kembali berkali-kali, Penalama Coffee tumbuh sebagai ruang singgah yang menyimpan cerita dalam warna.

Konsep melukis yang kini menjadi ciri khas pun awalnya hanya strategi untuk menarik pengunjung. Namun di luar dugaan, respons yang datang justru melampaui ekspektasi. 

Aktivitas melukis pada awalnya diberikan secara gratis untuk menarik minat pengunjung. Namun, antusiasme yang terus meningkat membuat kebutuhan kanvas dan perlengkapan melukis ikut melonjak. Kini kegiatan tersebut berbayar, tetapi peminatnya tak surut.

“Akhirnya sekarang udah berbayar pun tapi masih demand-nya (permintaan pengunjung)  gila sih, masih banyak,” terang Hari.

Menurutnya, aktivitas melukis tidak hanya menjadi pembeda, tetapi juga mempengaruhi durasi kunjungan. Proses melukis yang tidak singkat membuat pengunjung bertahan lebih lama dan kerap melakukan pemesanan ulang.

“Melukis tidak sebentar juga, kadang-kadang ada yang lama. Itu juga sebenarnya salah satu strategi yang bikin mereka jadi repeat order,” tukasnya.

 

Reporter: Fathimah Azzahra, Mg | Editor: Santi Mulyady

Foto:  Fathimah Azzahra, Mg

About the author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *